Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Lantai Lima (Terbit 17 Januari 2017, Buana Kata)

Aku meletakkan tas punggungku di atas kursi panjang itu. Saat ini aku tengah berada di lantai lima gedung B Fakultas Keguruan. Jam perkuliahan baru saja selesai 10 menit lalu, teman-teman sudah menghambur menuruni anak tangga. Aku tak buru-buru sore ini, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, masih pukul 17.45 WIB. Masih ada sedikit waktu utuk melakukan hobiku sebelum waktu merangkak menuju maghrib.
Aku mengambil kamera dan mulai memotret beberapa objek dari atas gedung ini. Ya, aku memang mahasiswa Fakutas Keguruan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa aku terlalu mencintai fotografi. Lagi pula, dari hobi ini aku juga bisa mendapatkan uang. Setelah memotret beberapa objek yang kurasa cukup bagus, tanpa sengaja kameraku menangkap sosok perempuan berdiri di sudut lantai lima gedung Fakultas Hukum.
Gedung Fakultas Keguruan memang berhadap-hadapan dengan gedung Fakultas Hukum, sehingga aku bisa melihat perempuan itu dengan jelas dari atas sini. Aku memperhatikannya, ini sudah keempat kalinya aku melihat perempuan itu berdiam diri menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Perempuan itu selalu hadir menjelang petang, mungkin dia juga mahasiswa yang mendapat jam perkuliahan sore sepertiku.
Terkadang, jika isengku kambuh, aku suka memotretnya beberapa kali. Wajahnya terbilang cantik, dengan rambut panjang sebahu yang lurus, juga sweater pink fuschia yang selalu dikenakannya. Pada mulanya, aku heran mengapa perempuan itu selalu berdiri sendiri di sudut lantai lima gedung hukum. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang suka beramai-ramai dan mengobrol jika jam perkuliahan sudah selesai.
Yang perempuan itu lakukan hanya berdiri menatap ke bawah dan membiarkan angin meneriapkan anak rambutnya.  Aku masih memotretnya dengan berbagai angle. Wajahnya sedikit pucat dengan bibir yang sedikit membiru. Entahlah barangkali perempuan itu kedinginan. Cuaca sore ini memang dingin dan mendung nampaknya sudah menyelimuti sebagian awan.
Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku, sepuluh menit lagi maghrib tiba. Aku bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Kiranya cukuplah hobi memotret sore ini sebagai pelepas penat setelah seharian menyantap menu perkuliahan yang membuat kram otak.  Aku mengalihkan pandang ke gedung hukum kembali, berniat memandang sekali lagi perempuan dengan mata sendu itu sebelum aku beranjak menuju masjid kampus. Tapi nihil, perempuan itu sudah tak ada lagi di sana. Barangkali dia sudah pergi lebih dulu ketika aku sedang membereskan kamera tadi. Aku menghela napas, kemudian beranjak menuruni anak tangga.
Hari berikutnya masih sama. Aku kembali menemukan perempuan bersweater pink fuschia itu. Di tempat yang sama pula, dengan tatapan sendu yang selalu ia bawa. Jam kuliahku sudah habis. Maghrib juga hampir menjelang. Anehnya, saat jam masuk kuliah tadi, aku tidak melihatnya di sudut gedung hukum itu. Entahlah, bahkan kemunculannya belakangan ini begitu aku nantikan. Sampai-sampai setiap aku keluar kelas, aku selalu mengalihkan pandang ke seberang gedung. Berharap perempuan itu ada di sana.
Lagi-lagi, aku hanya menemukannya di sepotong senja menuju maghrib. Dia masih sama seperti kemarin, menggunakan sweater dengan rambut tergerainya. Begitu manis tatkala angin senja menerpa rambutnya. Aku yang tengah penasaran dengan sosok perempuan itu akhirnya memberanikan diri berkunjung ke gedung hukum tersebut. Kebetulan aku memiliki kenalan di sana. Aku bisa berbasa-basi dan akhirnya menanyakan siapa perempuan yang kerap berdiri di sudut lantai lima itu.
“Perempuan cantik dengan sweater pink?” Rendi menggaruk tengkuknya bingung.
“Iya. Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia anak semester akhir juga seperti kita,” jelasku. Berharap Rendi mengenal perempuan itu.
“Kebetulan kelasku juga tidak terlalu jauh dari kelas sudut di lantai lima ini, Dam. Dan aku mengenal beberapa gadis di sana. Tapi aku tidak pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi,” Rendi merasa jawabannya sudah benar.
Bagaimana mungkin Rendi tak mengenali perempuan itu? Bukankah perempuan itu kerapkali berdiri menikmati senja di sudut lantai lima ini? Aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan gadis itu. Aku ingin sekadar mengenalnya dan berbasa-basi menunjukkan hobiku memotretnya. Mungkin kami bisa mengobrol dan menjadi teman baik, pikirku.
Esoknya, aku yang masih penasaran dengan sosok perempuan itu, akhirnya memberanikan diri bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di lantai lima itu. Sore ini, perempuan itu tidak muncul. Beberapa kelas di lantai ini kebetulan kosong. Aku berpikir dia adalah bagian dari kelas yang tidak sedang masuk sore ini. Sosoknya begitu membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu alasannya menyukai berdiri lama-lama di sudut lantai lima menjelang maghrib.
“Hmm.. maksud Mas Adam, perempuan dengan rambut panjang sebahu yang mengenakan sweater pink?” Tanya Mang Asep memastikan.
“Iya, Mang. Saya kerapkali melihatnya dari lantai lima gedung FKIP. Saya melihatnya jelas sekali, bahkan ada beberapa yang saya potret. Saya hanya ingin tahu namanya. Ingin berkenalan. Sebentar, biar saya tunjukkan fotonya,” aku mengeluarkan kameraku. Kali ini aku membawanya agar bisa menunjukkannya pada Mang Asep.
Seketika kulihat wajah Mang Asep pucat pasi. Dia menatapku sekilas dengan tatapan menggigil. Berulang kali menatap foto itu dan menelan ludah. “Kenapa Mas Adam mencari tahu perempuan ini? Untuk apa, Mas?” Tanya Mang Asep lagi.
Aku sumringah, senang rasanya Mang Asep akhirnya mengenali gadis ini. “Jadi, Mang Asep tahu? Boleh saya tahu namanya, Mang? Besok saya akan menemuinya. Atau boleh saya tahu dia anak semester berapa? Ruang kelasnya yang mana?” tanyaku begitu antusias.
Mang Asep mengusap wajahnya yang berkeringat.. “Mas Adam lebih baik pulang sekarang. Sudah malam, saya juga mau beres-beres untuk kembali ke kontrakan,” Mang Asep menepuk pundakku dua kali.
“Loh, tunggu sebentar, Mang. Jawab pertanyaan saya dulu. Bukankah Mang Asep mengenali perempuan itu? Saya hanya ingin berkenalan kok, Mang. Tidak akan berbuat macam-macam,” terangku jujur.
Mang Asep mengajakku duduk di bangku panjang itu. “Mas Adam sebaiknya melupakan gadis itu,” kata-kata Mang Asep membuat dahiku berkerut. Memangnya kenapa, pikirku. Aku menatap Mang Asep serius. Aku tidak terlalu suka mendengar jawabannya.
“Gadis yang Mas Adam cari itu tidak ada,” katanya sekali lagi.
“Tidak ada bagaimana, Mang? Jelas-jelas Mang Asep melihat fotonya tadi, kan? Dan mengenali gadis itu,” aku berusaha memaksa Mang Asep.
“Mas Adam benar-benar tidak tahu dengan cerita itu?”
“Cerita apa?” tanyaku semakin bingung.
Mang Asep memasang raut muka serius. Tangannya sekali lagi mengusap dahi yang berkeringat. “Baiklah kalau Mas Adam membutuhkan jawabannya sekarang,” Mang Asep menarik napas dan mulai bercerita.
“Lima tahun yang lalu, ada tragedi berdarah di lantai lima ini, Mas. Seorang mahasiswi tingkat akhir, bunuh diri dengan cara melompat dari lantai lima gedung ini. Penyebab kematiannya tidak ada yang bisa memastikan. Sebab saat itu semua orang sedang sibuk melaksanakan sholat maghrib di masjid kampus. Diperkirakan dia melakukan bunuh diri itu sekitar jam 6 sore, Mas. Pihak kampus sempat melarikannya ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan. Gadis itu berambut sebahu, cantik, dan mengenakan sweater berwarna pink. Saya tahu sebab saat itu saya juga sempat membopongnya ke dalam mobil ambulans. Gadis itu adalah gadis yang ada di kamera Mas Adam tadi,” kalimat Mang Asep membuatku tersentak.
“Ma.. Maksud Mang Asep, gadis itu sudah.....”
“Iya, Mas. Gadis itu sudah meninggal dunia,” jawab Mang Asep.

Seketika itu juga bulu kudukku berdiri. Tak dinyana bahwa apa yang selama ini kupotret ternyata bukan manusia. Keringat dingin membanjiri dahiku. Aku benar-benar shock dengan yang baru saja kudengar. Bayangan gadis dengan mata sendu itu berkelebat hebat di kepalaku. Wajah pucatnya, rambut sebahunya, bibir birunya, dan tatapan sendunya, semuanya merasuki kepalaku. Mendadak kepalaku pusing. Badanku terasa lemas sekali. Seketika itu juga, mataku berkunang-kunang. Aku pingsan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar