Aku meletakkan tas punggungku di atas kursi panjang
itu. Saat ini aku tengah berada di lantai lima gedung B Fakultas Keguruan. Jam
perkuliahan baru saja selesai 10 menit lalu, teman-teman sudah menghambur
menuruni anak tangga. Aku tak buru-buru sore ini, kulirik jam yang melingkar di
pergelangan tanganku, masih pukul 17.45 WIB. Masih ada sedikit waktu utuk
melakukan hobiku sebelum waktu merangkak menuju maghrib.
Aku mengambil kamera dan mulai memotret beberapa
objek dari atas gedung ini. Ya, aku memang mahasiswa Fakutas Keguruan, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa aku terlalu mencintai fotografi. Lagi pula, dari
hobi ini aku juga bisa mendapatkan uang. Setelah memotret beberapa objek yang
kurasa cukup bagus, tanpa sengaja kameraku menangkap sosok perempuan berdiri di
sudut lantai lima gedung Fakultas Hukum.
Gedung Fakultas Keguruan memang berhadap-hadapan
dengan gedung Fakultas Hukum, sehingga aku bisa melihat perempuan itu dengan
jelas dari atas sini. Aku memperhatikannya, ini sudah keempat kalinya aku
melihat perempuan itu berdiam diri menatap ke bawah dengan tatapan sendu.
Perempuan itu selalu hadir menjelang petang, mungkin dia juga mahasiswa yang
mendapat jam perkuliahan sore sepertiku.
Terkadang, jika isengku kambuh, aku suka memotretnya
beberapa kali. Wajahnya terbilang cantik, dengan rambut panjang sebahu yang
lurus, juga sweater pink fuschia yang
selalu dikenakannya. Pada mulanya, aku heran mengapa perempuan itu selalu
berdiri sendiri di sudut lantai lima gedung hukum. Tidak seperti perempuan
kebanyakan yang suka beramai-ramai dan mengobrol jika jam perkuliahan sudah
selesai.
Yang perempuan itu lakukan hanya berdiri menatap ke
bawah dan membiarkan angin meneriapkan anak rambutnya. Aku masih memotretnya dengan berbagai angle. Wajahnya sedikit pucat dengan bibir
yang sedikit membiru. Entahlah barangkali perempuan itu kedinginan. Cuaca sore
ini memang dingin dan mendung nampaknya sudah menyelimuti sebagian awan.
Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku,
sepuluh menit lagi maghrib tiba. Aku bergegas memasukkan kamera ke dalam tas.
Kiranya cukuplah hobi memotret sore ini sebagai pelepas penat setelah seharian
menyantap menu perkuliahan yang membuat kram otak. Aku mengalihkan pandang ke gedung hukum
kembali, berniat memandang sekali lagi perempuan dengan mata sendu itu sebelum
aku beranjak menuju masjid kampus. Tapi nihil, perempuan itu sudah tak ada lagi
di sana. Barangkali dia sudah pergi lebih dulu ketika aku sedang membereskan
kamera tadi. Aku menghela napas, kemudian beranjak menuruni anak tangga.
Hari berikutnya masih sama. Aku kembali menemukan
perempuan bersweater pink fuschia
itu. Di tempat yang sama pula, dengan tatapan sendu yang selalu ia bawa. Jam
kuliahku sudah habis. Maghrib juga hampir menjelang. Anehnya, saat jam masuk
kuliah tadi, aku tidak melihatnya di sudut gedung hukum itu. Entahlah, bahkan
kemunculannya belakangan ini begitu aku nantikan. Sampai-sampai setiap aku
keluar kelas, aku selalu mengalihkan pandang ke seberang gedung. Berharap
perempuan itu ada di sana.
Lagi-lagi, aku hanya menemukannya di sepotong senja
menuju maghrib. Dia masih sama seperti kemarin, menggunakan sweater dengan
rambut tergerainya. Begitu manis tatkala angin senja menerpa rambutnya. Aku
yang tengah penasaran dengan sosok perempuan itu akhirnya memberanikan diri berkunjung
ke gedung hukum tersebut. Kebetulan aku memiliki kenalan di sana. Aku bisa
berbasa-basi dan akhirnya menanyakan siapa perempuan yang kerap berdiri di
sudut lantai lima itu.
“Perempuan cantik dengan sweater pink?” Rendi menggaruk tengkuknya bingung.
“Iya. Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia anak
semester akhir juga seperti kita,” jelasku. Berharap Rendi mengenal perempuan
itu.
“Kebetulan kelasku juga tidak terlalu jauh dari
kelas sudut di lantai lima ini, Dam. Dan aku mengenal beberapa gadis di sana.
Tapi aku tidak pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi,”
Rendi merasa jawabannya sudah benar.
Bagaimana mungkin Rendi tak mengenali perempuan itu?
Bukankah perempuan itu kerapkali berdiri menikmati senja di sudut lantai lima
ini? Aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan gadis
itu. Aku ingin sekadar mengenalnya dan berbasa-basi menunjukkan hobiku
memotretnya. Mungkin kami bisa mengobrol dan menjadi teman baik, pikirku.
Esoknya, aku yang masih penasaran dengan sosok
perempuan itu, akhirnya memberanikan diri bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di lantai lima
itu. Sore ini, perempuan itu tidak muncul. Beberapa kelas di lantai ini
kebetulan kosong. Aku berpikir dia adalah bagian dari kelas yang tidak sedang
masuk sore ini. Sosoknya begitu membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu
alasannya menyukai berdiri lama-lama di sudut lantai lima menjelang maghrib.
“Hmm.. maksud Mas Adam, perempuan dengan rambut
panjang sebahu yang mengenakan sweater pink?”
Tanya Mang Asep memastikan.
“Iya, Mang. Saya kerapkali melihatnya dari lantai
lima gedung FKIP. Saya melihatnya jelas sekali, bahkan ada beberapa yang saya
potret. Saya hanya ingin tahu namanya. Ingin berkenalan. Sebentar, biar saya
tunjukkan fotonya,” aku mengeluarkan kameraku. Kali ini aku membawanya agar
bisa menunjukkannya pada Mang Asep.
Seketika kulihat wajah Mang Asep pucat pasi. Dia
menatapku sekilas dengan tatapan menggigil. Berulang kali menatap foto itu dan
menelan ludah. “Kenapa Mas Adam mencari tahu perempuan ini? Untuk apa, Mas?”
Tanya Mang Asep lagi.
Aku sumringah, senang rasanya Mang Asep akhirnya
mengenali gadis ini. “Jadi, Mang Asep tahu? Boleh saya tahu namanya, Mang?
Besok saya akan menemuinya. Atau boleh saya tahu dia anak semester berapa?
Ruang kelasnya yang mana?” tanyaku begitu antusias.
Mang Asep mengusap wajahnya yang berkeringat.. “Mas
Adam lebih baik pulang sekarang. Sudah malam, saya juga mau beres-beres untuk
kembali ke kontrakan,” Mang Asep menepuk pundakku dua kali.
“Loh, tunggu sebentar, Mang. Jawab pertanyaan saya
dulu. Bukankah Mang Asep mengenali perempuan itu? Saya hanya ingin berkenalan
kok, Mang. Tidak akan berbuat macam-macam,” terangku jujur.
Mang Asep mengajakku duduk di bangku panjang itu.
“Mas Adam sebaiknya melupakan gadis itu,” kata-kata Mang Asep membuat dahiku
berkerut. Memangnya kenapa, pikirku.
Aku menatap Mang Asep serius. Aku tidak terlalu suka mendengar jawabannya.
“Gadis yang Mas Adam cari itu tidak ada,” katanya
sekali lagi.
“Tidak ada bagaimana, Mang? Jelas-jelas Mang Asep
melihat fotonya tadi, kan? Dan mengenali gadis itu,” aku berusaha memaksa Mang
Asep.
“Mas Adam benar-benar tidak tahu dengan cerita itu?”
“Cerita apa?” tanyaku semakin bingung.
Mang Asep memasang raut muka serius. Tangannya
sekali lagi mengusap dahi yang berkeringat. “Baiklah kalau Mas Adam membutuhkan
jawabannya sekarang,” Mang Asep menarik napas dan mulai bercerita.
“Lima tahun yang lalu, ada tragedi berdarah di
lantai lima ini, Mas. Seorang mahasiswi tingkat akhir, bunuh diri dengan cara
melompat dari lantai lima gedung ini. Penyebab kematiannya tidak ada yang bisa
memastikan. Sebab saat itu semua orang sedang sibuk melaksanakan sholat maghrib
di masjid kampus. Diperkirakan dia melakukan bunuh diri itu sekitar jam 6 sore,
Mas. Pihak kampus sempat melarikannya ke rumah sakit, namun sayang nyawanya
tidak dapat diselamatkan. Gadis itu berambut sebahu, cantik, dan mengenakan
sweater berwarna pink. Saya tahu
sebab saat itu saya juga sempat membopongnya ke dalam mobil ambulans. Gadis itu
adalah gadis yang ada di kamera Mas Adam tadi,” kalimat Mang Asep membuatku
tersentak.
“Ma.. Maksud Mang Asep, gadis itu sudah.....”
“Iya, Mas. Gadis itu sudah meninggal dunia,” jawab
Mang Asep.
Seketika itu juga bulu kudukku berdiri. Tak dinyana
bahwa apa yang selama ini kupotret ternyata bukan manusia. Keringat dingin
membanjiri dahiku. Aku benar-benar shock
dengan yang baru saja kudengar. Bayangan gadis dengan mata sendu itu berkelebat
hebat di kepalaku. Wajah pucatnya, rambut sebahunya, bibir birunya, dan tatapan
sendunya, semuanya merasuki kepalaku. Mendadak kepalaku pusing. Badanku terasa
lemas sekali. Seketika itu juga, mataku berkunang-kunang. Aku pingsan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar