Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Kisah Malaikat dan Gadis Pemanah Cinta (Terbit 27 Januari, Buana Kata)

“Ini tugasmu berikutnya, Ren. Lakukan dengan cepat dan bijak,” ucap Dewa Oxi sambil memberikannya prasasti kecil berisi data singkat seseorang.
Nama : Abigail Ocaria
Umur : 23 tahun
Lokasi : Persimpangan Jalan Amerius Blok A.
Ren menghela napas pelan. Ya, sudah menjadi tugasnya mencabut nyawa seseorang di Atlantik Galaxy ini. Dewa Oxi sudah sangat mempercayainya melebihi petugas pencabut nyawa yang lain. Bahkan ratting-nya mengalahkan Xaveriza yang hanya pernah melakukan satu kesalahan saat menjalankan tugasnya. Sementara ia, namanya masih nihil untuk satu kesalahan pun. Ren pun menjadi kebanggaan Dewa Oxi di Galaxy ini. Bahkan Dewa Oxi berjanji akan mengangkatnya menjadi tangan kanannya kelak jika semua tugas yang diberikannya bisa Ren lakukan dengan cepat dan tanpa cela.
Ren membungkukkan setengah badan, memberi hormat seraya meminta izin untuk segera melakukan tugasnya. Dewa Oxi tersenyum tipis dan mengizinkan Ren pergi. Ren menghilang bersamaan dengan munculnya asap tipis di pelataran Dewa Oxi. Dan muncul dengan kilat di persimpangan Jalan Amerius. Ren melihat seorang wanita berambut pirang sedang asyik bermain gadget paling canggih di Galaxy ini. Dia memikirkan cara bagaimana agar kematian tak menyakiti gadis itu.
Di ujung jalan sana, Ren melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan segera ide itu datang. Ren berkonsentrasi mengulik pikiran sang supir dan membuat truk itu oleng. Tepat saat wanita berambut pirang itu berada di tepi jalan, Ren mengarahkan truk itu ke arahnya. Untuk beberapa detik, suara berdebam dan teriakan histeris terdengar di sekitar area itu. Kerumunan orang mulai mendekati wanita malang itu. Ren hanya melakukan tugasnya, “Lakukan dengan cepat dan bijak” begitu pesan Dewa Oxi. Galaxy ini terlalu mengerikan untuk sekadar main-main dalam mencabut nyawa seseorang. Dewa Oxi tidak menyukai itu.
Suara tepuk tangan seseorang mengagetkannya. Ren melihat Cupidista tersenyum padanya. Ah, gadis itu lagi, pikirnya. “Begitukah caramu melakukan tugasmu, Malaikat?” Cupidista bergurau. “Mau apa kau di sini?” Tanya Ren seraya membersihkan sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya saat bertugas. “Mau melihatmu dari dekat saat kau menjalankan tugasmu. Yang tadi itu... cukup mengerikan, ya,” Cupidista memicingkan sebelah matanya. “Aku hanya melakukan perintah,” kata Ren singkat. Ren berjalan dan duduk di bangku besi seberang jalan.
“Yah... terkadang untuk mendapatkan popularitas, kita harus mengorbankan sesuatu. Bukan begitu?” Cupidista menyikutnya. Gadis itu sudah duduk manis di sebelah Ren. Ren tidak menjawab, hanya memperhatikan rambut panjang hitam Cupidista yang tergerai diterpa angin sore. Jingganya senja menerpa sedikit wajahnya, gadis itu kelihatan sangat cantik. Ren buru-buru menghapus pikiran gilanya. Bagaimana mungkin dia mencintai si pemanah cinta yang centilnya melebihi gadis manapun di Galaxy itu?
“Kau tidak bertugas?” Tanya Ren. “Pemanah cinta tidak pernah bertugas di saat senja begini,” jawab Cupidista tersenyum. “Lagipula aku ini perempuan, bagaimana mungkin perempuan bekerja hingga petang? Dewi Lovezia tidak akan setega itu padaku,” katanya tertawa. “Kau kebanggaan Dewi Lovezia, bukan?” Ren menatapnya. Gadis itu terdiam, lantas balas menatap Ren.
“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Terkadang, aku merasa.. menjadi kebanggaan seseorang tidak selamanya menyenangkan. Apa kau merasakan hal yang sama?” Ren menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban. Cupidista menarik napas pelan, “Entahlah. Sejauh ini, aku merasakan semuanya baik-baik saja. Apa ada sesuatu?” dia balik bertanya. Ren menggeleng, “Tidak ada, hanya saja aku merasa menjadi kebanggaan seseorang berarti mengikuti segala kemauannya, tidak ingin membuatnya kecewa, dan seolah-olah seperti berjanji akan membahagiakannya. Bukan begitu, Dista?”
Kali ini dia mengangguk, “Kurasa kau sedang lelah, Ren. Apa Dewa Oxi memberikan tugas berat padamu? Siapa yang selanjutnya akan kau bunuh?” Cupidista bertanya lugu. Senja itu, untuk pertama kalinya, Ren enggan menjawab pertanyaan gadis pemanah cinta itu. Mereka menikmati senja hingga habis dimakan malam. Menikmati semilir angin yang menerbangkan anak rambut. Untuk kemudian, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

* * *  
Nama : Ren Andromeda
Umur : 21 tahun
Lokasi : Atap gedung Violet, 22.30 malam.
Panah untuk : Cupidista
Cupidista tercengang melihat prasasti yang diberikan Dewi Lovezia padanya. “Ini saatnya, Dista,” Dewi Lovezia tersenyum. Dia merasa menjadi Cinderella untuk beberapa detik, sudut matanya basah. Bagaimana mungkin Dewi Lovezia mengabulkan keinginan yang tak pernah terucapkan itu? Ini ajaib, batin Cupidista senang. Malam ini, dia akan menemui Ren di atap gedung Violet, pukul 22.30 malam. “Terima kasih, Dewi Lovezia. Aku sangat bahagia,” bisiknya seraya memeluk Dewi Lovezia.
Malam bergerak cepat. Di tempat yang berbeda, Ren menghela napas berat sesaat setelah menerima pesan dari Cupidista. Gadis itu ingin ia menemuinya malam ini di atap gedung Violet. Ren merasa ia tak harus pergi, sebab tugas Dewa Oxi sangat mengganggu pikirannya. Tapi bagaimana mungkin ia menolak ajakan gadis centil itu? Sebab sejak pertama kali mereka bertemu, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ya, Ren menyukai gadis itu. Meski ia tak pernah berani mengungkapkannya.
Ren akhirnya menghilang dan tiba dengan segera di atap gedung pencakar langit itu. Ternyata Cupidista telah tiba lebih dulu. Gadis itu tersenyum padanya, “Akhirnya kau datang juga. Kau telat dua menit, Ren!” katanya manja. Ren hanya memperhatikan gadis itu berceloteh. “Kenapa kau menyuruhku menemuimu malam ini?” Ren bertanya dingin. Cupidista menyerahkan prasasti pemberian Dewi Lovezia, “Ini tugasku selanjutnya. Untuk tugas yang satu ini, aku tidak akan memanahmu seperti apa yang kulakukan pada manusia-manusia kebanyakan. Aku ingin meminta persetujuanmu langsung. Apa kau bersedia mencintaiku, Ren?” Cupidista tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Ren gamang. Disatu sisi, hatinya ingin sekali menjawab iya. Namun di sisi yang lain, hatinya menolak. Esok adalah tugas terberat yang diberikan Dewa Oxi padanya. Tugas pertama yang dirasanya amat tak mungkin untuk ia lakukan : mencabut nyawa Cupidista. Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang begitu dicintainya? Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang bahkan malam ini meminta jawabannya? Dan bagaimana mungkin dia menolak tugas dari Dewa Oxi? Tiba-tiba kepala Ren berdenyut. Dia berada di antara dua pilihan yang sulit.
“Ren...” tegur Cupidista. “Apa kau baik-baik saja?” Cupidista menyentuh kulit wajah Ren. Ren menepisnya, “Lupakan tugasmu ini, Dista!” Ren menolak. Cupidista terkejut mendengar jawaban Ren. “Tapi kenapa? Apa kau mencintai gadis lain?” Cupidista menatap Ren dalam, meminta jawaban. Dadanya bergemuruh, ada air yang hendak berlompatan dari kelopak matanya. “Dista... seandainya kau mengerti...” Ren tersungkur ke lantai. Ia menutupi wajahnya. “Katakan.. apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Ren?” Cupidista memohon.
“Dewa Oxi memerintahkanku untuk mencabut nyawamu besok. Bagaimana bisa aku melakukannya pada orang yang paling kucintai, Dista,” Ren menangis. Hatinya bimbang menentukan apa yang akan dilakukannya. Cupidista terdiam. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Takdir memang selalu mengejutkan. Di saat Dewi Lovezia mengabulkan cintanya, Dewa Oxi malah telah menentukan kematiannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah ruah, meski tanpa suara.
“Lakukanlah, Ren. Lakukanlah demi Dewa Oxi,” kalimat Cupidista membuat Ren tersentak. “Hey, jangan menangis! Kau adalah kebanggaan Dewa Oxi, bagaimana mungkin kau mengecewakannya? Lakukanlah, Ren. Lakukanlah esok. Aku tidak akan membencimu meski aku harus menggagalkan tugasku malam ini.” Cupidista mencoba tertawa. “Tersenyumlah, Ren. Aku pamit dulu.” Cupidista menghilang, meninggalkan Ren seorang diri di atap gedung itu. Dia hanya tidak ingin Ren melihat air matanya bertambah deras.

* * *
Nama : Cupidista
Umur : 20 tahun
Lokasi : Obelia Garden
Ren membuang prasasti itu ke dalam sungai di tepi jalan. Keputusannya sudah bulat. Untuk pertama kalinya, ia telah melahap semua amarah Dewa Oxi. Ren berjalan menuju Obelia Garden, dia yakin Cupidista ada di sana. Benar saja, dia melihat gadis itu duduk menghadap utara, membiarkan semilir angin memainkan rambut panjangnya. Gadis itu menggunakan jubah pink fuschia kesukaannya. Juga menggunakan bandana putih favoritnya.
Dengan perlahan, Ren mendekati gadis itu. “Boleh aku duduk di sini?” suara Ren mengejutkan Cupidista. Gadis pemanah cinta itu tampak terkejut. Dia mempersilakan meski dengan wajah yang sedikit canggung. “Apa kematianku sudah dekat?” Tanya Cupidista membuka percakapan. Ren meliriknya sekilas. “Apa kau bisa memberitahuku sedikit bagaimana caramu mencabut nyawaku? Apa itu akan terasa sakit?” gadis itu terus berkicau. “Apa kau akan mencabut nyawaku detik ini juga?”
Ren menyentuh wajah Cupidista lembut. Gadis itu terkesiap. “Bisakah kau menghentikan ucapan gilamu itu? Aku ke sini bukan untuk itu,” tegas Ren menatap dalam mata cokelat itu. “Lantas? Untuk apa?” Cupidista balas menatapnya dingin. “Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa sekarang aku adalah manusia biasa. Aku bukan lagi Ren si Malaikat seperti yang dulu sering kau sebut. Dan aku ke sini, untuk menjawab pertanyaanmu tadi malam. Apa masih ada kesempatan?” Tanya Ren.
Cupidista membuka mulutnya setengah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau bercanda?” Cupidista mencari jawaban di dalam mata Ren. Ren tersenyum dan menggeleng, “Pagi tadi aku menolak perintah Dewa Oxi. Dia marah besar dan mencabut kekuatan serta kedudukanku sebagai petugas pencabut nyawa. Itu bukan masalah besar, Dista. Yang jadi masalah adalah jika aku kehilangan kesempatan mencintaimu. Hey, aku sudah menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk mendengar kau mengucapkan permintaan seperti malam tadi,” Ren mulai kesal.

Cupidista tertawa keras. Ia sampai memegangi perutnya. “Jadi, kau melakukan semuanya demi aku?” Cupidista terharu. Ren mengangguk, lantas menggenggam jemari Cupidista erat. “Ya, aku bersedia mencintaimu asal dengan satu syarat,” ucap Ren. “Syarat apa?” Tanya Cupidista penasaran. “Kau tidak boleh genit pada siapapun. Sebab kini aku hanya manusia biasa yang tidak bisa mengawasimu dengan kekuatanku!” kata Ren lucu. Cupidista melirik manja. Dia tersenyum sambil melihat kupu-kupu beterbangan di langit taman itu. Bukan hanya di taman itu, kupu-kupu pun turut terbang di dalam perutnya. Berkejaran, sampai lupa bahwa ia sudah melayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar