“Ini tugasmu berikutnya, Ren. Lakukan dengan cepat
dan bijak,” ucap Dewa Oxi sambil memberikannya prasasti kecil berisi data
singkat seseorang.
Nama : Abigail
Ocaria
Umur : 23 tahun
Lokasi : Persimpangan
Jalan Amerius Blok A.
Ren menghela napas pelan. Ya, sudah menjadi tugasnya
mencabut nyawa seseorang di Atlantik Galaxy ini. Dewa Oxi sudah sangat
mempercayainya melebihi petugas pencabut nyawa yang lain. Bahkan ratting-nya mengalahkan Xaveriza yang
hanya pernah melakukan satu kesalahan saat menjalankan tugasnya. Sementara ia,
namanya masih nihil untuk satu kesalahan pun. Ren pun menjadi kebanggaan Dewa
Oxi di Galaxy ini. Bahkan Dewa Oxi berjanji akan mengangkatnya menjadi tangan
kanannya kelak jika semua tugas yang diberikannya bisa Ren lakukan dengan cepat
dan tanpa cela.
Ren membungkukkan setengah badan, memberi hormat
seraya meminta izin untuk segera melakukan tugasnya. Dewa Oxi tersenyum tipis
dan mengizinkan Ren pergi. Ren menghilang bersamaan dengan munculnya asap tipis
di pelataran Dewa Oxi. Dan muncul dengan kilat di persimpangan Jalan Amerius. Ren
melihat seorang wanita berambut pirang sedang asyik bermain gadget paling
canggih di Galaxy ini. Dia memikirkan cara bagaimana agar kematian tak
menyakiti gadis itu.
Di ujung jalan sana, Ren melihat sebuah truk besar
melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan segera ide itu datang. Ren
berkonsentrasi mengulik pikiran sang supir dan membuat truk itu oleng. Tepat
saat wanita berambut pirang itu berada di tepi jalan, Ren mengarahkan truk itu
ke arahnya. Untuk beberapa detik, suara berdebam dan teriakan histeris
terdengar di sekitar area itu. Kerumunan orang mulai mendekati wanita malang
itu. Ren hanya melakukan tugasnya, “Lakukan
dengan cepat dan bijak” begitu pesan Dewa Oxi. Galaxy ini terlalu
mengerikan untuk sekadar main-main dalam mencabut nyawa seseorang. Dewa Oxi
tidak menyukai itu.
Suara tepuk tangan seseorang mengagetkannya. Ren melihat
Cupidista tersenyum padanya. Ah, gadis
itu lagi, pikirnya. “Begitukah caramu melakukan tugasmu, Malaikat?” Cupidista
bergurau. “Mau apa kau di sini?” Tanya Ren seraya membersihkan sarung tangan
hitam yang selalu dikenakannya saat bertugas. “Mau melihatmu dari dekat saat
kau menjalankan tugasmu. Yang tadi itu... cukup mengerikan, ya,” Cupidista
memicingkan sebelah matanya. “Aku hanya melakukan perintah,” kata Ren singkat. Ren
berjalan dan duduk di bangku besi seberang jalan.
“Yah... terkadang untuk mendapatkan popularitas,
kita harus mengorbankan sesuatu. Bukan begitu?” Cupidista menyikutnya. Gadis itu
sudah duduk manis di sebelah Ren. Ren tidak menjawab, hanya memperhatikan
rambut panjang hitam Cupidista yang tergerai diterpa angin sore. Jingganya
senja menerpa sedikit wajahnya, gadis itu kelihatan sangat cantik. Ren
buru-buru menghapus pikiran gilanya. Bagaimana mungkin dia mencintai si pemanah
cinta yang centilnya melebihi gadis manapun di Galaxy itu?
“Kau tidak bertugas?” Tanya Ren. “Pemanah cinta
tidak pernah bertugas di saat senja begini,” jawab Cupidista tersenyum.
“Lagipula aku ini perempuan, bagaimana mungkin perempuan bekerja hingga petang?
Dewi Lovezia tidak akan setega itu padaku,” katanya tertawa. “Kau kebanggaan
Dewi Lovezia, bukan?” Ren menatapnya. Gadis itu terdiam, lantas balas menatap
Ren.
“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Terkadang, aku merasa..
menjadi kebanggaan seseorang tidak selamanya menyenangkan. Apa kau merasakan
hal yang sama?” Ren menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban. Cupidista
menarik napas pelan, “Entahlah. Sejauh ini, aku merasakan semuanya baik-baik
saja. Apa ada sesuatu?” dia balik bertanya. Ren menggeleng, “Tidak ada, hanya
saja aku merasa menjadi kebanggaan seseorang berarti mengikuti segala
kemauannya, tidak ingin membuatnya kecewa, dan seolah-olah seperti berjanji
akan membahagiakannya. Bukan begitu, Dista?”
Kali ini dia mengangguk, “Kurasa kau sedang lelah,
Ren. Apa Dewa Oxi memberikan tugas berat padamu? Siapa yang selanjutnya akan
kau bunuh?” Cupidista bertanya lugu. Senja itu, untuk pertama kalinya, Ren
enggan menjawab pertanyaan gadis pemanah cinta itu. Mereka menikmati senja hingga
habis dimakan malam. Menikmati semilir angin yang menerbangkan anak rambut.
Untuk kemudian, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
*
* *
Nama : Ren
Andromeda
Umur : 21 tahun
Lokasi : Atap
gedung Violet, 22.30 malam.
Panah untuk :
Cupidista
Cupidista tercengang melihat prasasti yang diberikan
Dewi Lovezia padanya. “Ini saatnya, Dista,” Dewi Lovezia tersenyum. Dia merasa
menjadi Cinderella untuk beberapa detik, sudut matanya basah. Bagaimana mungkin
Dewi Lovezia mengabulkan keinginan yang tak pernah terucapkan itu? Ini ajaib, batin Cupidista senang. Malam
ini, dia akan menemui Ren di atap gedung Violet, pukul 22.30 malam. “Terima
kasih, Dewi Lovezia. Aku sangat bahagia,” bisiknya seraya memeluk Dewi Lovezia.
Malam bergerak cepat. Di tempat yang berbeda, Ren
menghela napas berat sesaat setelah menerima pesan dari Cupidista. Gadis itu
ingin ia menemuinya malam ini di atap gedung Violet. Ren merasa ia tak harus
pergi, sebab tugas Dewa Oxi sangat mengganggu pikirannya. Tapi bagaimana
mungkin ia menolak ajakan gadis centil itu? Sebab sejak pertama kali mereka
bertemu, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ya, Ren menyukai gadis itu.
Meski ia tak pernah berani mengungkapkannya.
Ren akhirnya menghilang dan tiba dengan segera di
atap gedung pencakar langit itu. Ternyata Cupidista telah tiba lebih dulu.
Gadis itu tersenyum padanya, “Akhirnya kau datang juga. Kau telat dua menit,
Ren!” katanya manja. Ren hanya memperhatikan gadis itu berceloteh. “Kenapa kau
menyuruhku menemuimu malam ini?” Ren bertanya dingin. Cupidista menyerahkan
prasasti pemberian Dewi Lovezia, “Ini tugasku selanjutnya. Untuk tugas yang
satu ini, aku tidak akan memanahmu seperti apa yang kulakukan pada
manusia-manusia kebanyakan. Aku ingin meminta persetujuanmu langsung. Apa kau
bersedia mencintaiku, Ren?” Cupidista tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Ren gamang. Disatu sisi, hatinya ingin sekali
menjawab iya. Namun di sisi yang lain, hatinya menolak. Esok adalah tugas
terberat yang diberikan Dewa Oxi padanya. Tugas pertama yang dirasanya amat tak
mungkin untuk ia lakukan : mencabut nyawa
Cupidista. Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang begitu
dicintainya? Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang bahkan malam
ini meminta jawabannya? Dan bagaimana mungkin dia menolak tugas dari Dewa Oxi?
Tiba-tiba kepala Ren berdenyut. Dia berada di antara dua pilihan yang sulit.
“Ren...” tegur Cupidista. “Apa kau baik-baik saja?”
Cupidista menyentuh kulit wajah Ren. Ren menepisnya, “Lupakan tugasmu ini,
Dista!” Ren menolak. Cupidista terkejut mendengar jawaban Ren. “Tapi kenapa?
Apa kau mencintai gadis lain?” Cupidista menatap Ren dalam, meminta jawaban.
Dadanya bergemuruh, ada air yang hendak berlompatan dari kelopak matanya. “Dista...
seandainya kau mengerti...” Ren tersungkur ke lantai. Ia menutupi wajahnya.
“Katakan.. apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Ren?” Cupidista memohon.
“Dewa Oxi memerintahkanku untuk mencabut nyawamu
besok. Bagaimana bisa aku melakukannya pada orang yang paling kucintai, Dista,”
Ren menangis. Hatinya bimbang menentukan apa yang akan dilakukannya. Cupidista
terdiam. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Takdir memang selalu
mengejutkan. Di saat Dewi Lovezia mengabulkan cintanya, Dewa Oxi malah telah
menentukan kematiannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah ruah, meski
tanpa suara.
“Lakukanlah, Ren. Lakukanlah demi Dewa Oxi,” kalimat
Cupidista membuat Ren tersentak. “Hey, jangan menangis! Kau adalah kebanggaan
Dewa Oxi, bagaimana mungkin kau mengecewakannya? Lakukanlah, Ren. Lakukanlah
esok. Aku tidak akan membencimu meski aku harus menggagalkan tugasku malam
ini.” Cupidista mencoba tertawa. “Tersenyumlah, Ren. Aku pamit dulu.” Cupidista
menghilang, meninggalkan Ren seorang diri di atap gedung itu. Dia hanya tidak
ingin Ren melihat air matanya bertambah deras.
*
* *
Nama : Cupidista
Umur : 20 tahun
Lokasi : Obelia
Garden
Ren membuang prasasti itu ke dalam sungai di tepi
jalan. Keputusannya sudah bulat. Untuk pertama kalinya, ia telah melahap semua
amarah Dewa Oxi. Ren berjalan menuju Obelia
Garden, dia yakin Cupidista ada di sana. Benar saja, dia melihat gadis itu
duduk menghadap utara, membiarkan semilir angin memainkan rambut panjangnya.
Gadis itu menggunakan jubah pink fuschia
kesukaannya. Juga menggunakan bandana putih favoritnya.
Dengan perlahan, Ren mendekati gadis itu. “Boleh aku
duduk di sini?” suara Ren mengejutkan Cupidista. Gadis pemanah cinta itu tampak
terkejut. Dia mempersilakan meski dengan wajah yang sedikit canggung. “Apa
kematianku sudah dekat?” Tanya Cupidista membuka percakapan. Ren meliriknya
sekilas. “Apa kau bisa memberitahuku sedikit bagaimana caramu mencabut nyawaku?
Apa itu akan terasa sakit?” gadis itu terus berkicau. “Apa kau akan mencabut
nyawaku detik ini juga?”
Ren menyentuh wajah Cupidista lembut. Gadis itu
terkesiap. “Bisakah kau menghentikan ucapan gilamu itu? Aku ke sini bukan untuk
itu,” tegas Ren menatap dalam mata cokelat itu. “Lantas? Untuk apa?” Cupidista balas
menatapnya dingin. “Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa sekarang aku adalah
manusia biasa. Aku bukan lagi Ren si Malaikat seperti yang dulu sering kau
sebut. Dan aku ke sini, untuk menjawab pertanyaanmu tadi malam. Apa masih ada
kesempatan?” Tanya Ren.
Cupidista membuka mulutnya setengah, tidak percaya
dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau bercanda?” Cupidista mencari
jawaban di dalam mata Ren. Ren tersenyum dan menggeleng, “Pagi tadi aku menolak
perintah Dewa Oxi. Dia marah besar dan mencabut kekuatan serta kedudukanku
sebagai petugas pencabut nyawa. Itu bukan masalah besar, Dista. Yang jadi masalah
adalah jika aku kehilangan kesempatan mencintaimu. Hey, aku sudah menunggu
bertahun-tahun lamanya hanya untuk mendengar kau mengucapkan permintaan seperti
malam tadi,” Ren mulai kesal.
Cupidista tertawa keras. Ia sampai memegangi
perutnya. “Jadi, kau melakukan semuanya demi aku?” Cupidista terharu. Ren
mengangguk, lantas menggenggam jemari Cupidista erat. “Ya, aku bersedia
mencintaimu asal dengan satu syarat,” ucap Ren. “Syarat apa?” Tanya Cupidista
penasaran. “Kau tidak boleh genit pada siapapun. Sebab kini aku hanya manusia
biasa yang tidak bisa mengawasimu dengan kekuatanku!” kata Ren lucu. Cupidista melirik
manja. Dia tersenyum sambil melihat kupu-kupu beterbangan di langit taman itu.
Bukan hanya di taman itu, kupu-kupu pun turut terbang di dalam perutnya. Berkejaran,
sampai lupa bahwa ia sudah melayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar