Kira-kira
lepas ashar, sebuah Lexus putih memasuki pekarangan rumah Niko. Saat itu Niko
sedang mengutak-atik leggo. Seorang gadis bercelana pendek dengan kaus panjang
biru muda turun dari mobil mewah itu. Niko menghela napas panjang, sudah kuduga, batinnya lelah. Melisa
langsung menghambur ke arahnya yang tengah duduk santai di teras rumah. Gadis
itu tak hentinya menebar senyum, namun Niko malah dengan sengaja tak
melihatnya.
“Hai,
Nik, sedang apa?” Tanya Melisa basa-basi. Dia menarik sebuah kursi lagi untuk
kemudian duduk tepat di samping cowok itu. “Menurutmu?” Niko malas menjawab
pertanyaan mubazir itu. Melisa menarik napas tertahan, mungkin sudah mulai
terbiasa jika Niko bersikap dingin padanya. Meski Niko masih bersedia bertatap
muka dengannya. Namun tetap saja, sikap Niko tak bisa berubah menjadi hangat
seperti dulu. “Ada perlu apa ke sini?” Tanya Niko masih pura-pura sibuk dengan
leggo.
“Bukankah
dulu aku juga sering main ke sini, kenapa pertanyaan itu terasa begitu dingin?”
Melisa berusaha menyentuh tangan Niko, namun dengan segera cowok berkulit putih
itu menepisnya. “Kamu.. berhentilah menggangguku. Semua udah gak kayak dulu,”
Sekarang mata Niko menatap tajam ke arahnya. Niko memang terbiasa memanggil Melisa
dengan sebutan aku-kamu, berbeda seperti saat ia bersama dengan gadis
berkacamata yang sedang didekatinya. Namun itu bukan berarti semuanya akan
membaik seperti dulu.
Suasana
berubah menjadi tidak enak. Mereka berdua larut dalam diam, larut dengan pikiran
masing-masing. Agak kaku meski Melisa berusaha untuk bersikap wajar. Gadis itu
masih berusaha mencairkan suasana demi meredakan emosi yang mulai meletup kecil
di hati Niko. Melisa masih bertanya ini-itu, takut-takut salah ngomong, Niko
akan menghardiknya. “Kamu masih marah padaku?” Melisa terlihat serius. “Biasa
saja,” Niko masih menjawab datar. “Syukurlah. Aku sengaja ke sini ingin minta
maaf sekali lagi atas kejadian yang lalu,”
“Bukannya
kamu sudah pernah mengutarakannya kan di kafetaria waktu itu? Lagi pula semua
sudah berlalu, kenapa harus repot-repot sih?” sindir Niko lagi. “Bukan begitu, Nik.
Aku mengaku salah. Kamu harus tahu, kalau hidupku nggak lagi sama saat dulu aku
memutuskan pergi,” Niko merasa akan terjadi pentas drama di sini. Melisa adalah
Drama Queen terhebat yang pernah ia kenal. “Itu masalahmu. Kenapa harus
diceritakan padaku?”
“Supaya
kamu tahu, bahwa aku gak bahagia. Mungkin aku salah meninggalkanmu. Theo gak
lebih baik dari kamu, Nik. Dia sering menyalahkanku dengan kesalahan yang sama
sekali gak pernah aku perbuat. Dia juga tidak selalu menomorsatukanku. Dia
selalu asik dengan dunianya sendiri. Beda dengan kamu. Aku menyesal, tapi aku
gak tahu harus bagaimana. Dan selama itu aku berusaha mencarimu. Aku ingin
semuanya kembali seperti dulu,” jelas Melisa panjang lebar.
Tidak
ada komentar dari mulut Niko. Masa bodoh. Beberapa kali Melisa melirik cowok
berambut berantakan itu. Ia merasa Niko masih tampan, gampang memaafkan, dan
baik hati. Gadis itu tampak menyesal, meninggalkan Niko hanya karena Theo, anak
laki-laki partner bisnis Papanya itu.
“Katakan sesuatu, Nik? Please,
katakan,”
“Aku
harus bicara apa? Itu bukan urusanku lagi, Mel,”
“Hmm..
aku paham. Kamu gak akan bisa membayangkan tentang semua itu. Pun tentang
perasaanku,” Melisa merendahkan nada suaranya. “Aku memang tidak bisa dan tidak
mau lagi membayangkan semua yang berkaitan tentang kamu,” kata Niko ketus. “Aku
minta maaf, Nik. Aku berharap masih ada aku di hatimu,”
Niko
tertawa, “Aku telah nyaman begini. Hidup bersama orang-orang yang aku sayangi.
Dan tentunya juga menyayangiku,”
“Apa
karena gadis itu, Nik? Apa yang dilakukan gadis itu sehingga kamu nggak mau
memberiku satu kesempatan lagi?”
“Itu
urusanku, Mel. Orang lain gak perlu tahu, termasuk kamu,”
“Kamu
tertarik padanya? Atau dia telah menghasutmu untuk tidak lagi menerimaku?”
Tanya Melisa sedikit kesal.
“Berhentilah
menyalahkan orang lain. Dia tidak memiliki andil, dia tidak pernah menyebabkan
hubungan kita putus,” Niko berkata tegas, nada suaranya naik beberapa oktaf. Niko
tidak ingin seorang pun berpikiran jelek tentang Milla, gadis berkacamata itu.
“Lalu?
Nik, aku benar-benar minta maaf dan ingin sekali memperbaiki semuanya sama
kamu,” Melisa memelas, habis sudah akalnya membujuk Niko. Dulu, Niko tak pernah
sekeras ini.
“Nggak
perlu. Kalau bisa, perbaiki saja hubunganmu dengan dia. Percuma saja dulu kamu
meninggalkan aku demi dia. Bukankah dia lebih segalanya? Jangan mengemis pada apa
yang dulu telah kamu buang!” sindir Niko lagi. Melisa menarik napas berat. Barangkali
hatinya sakit mendengar ucapan Niko. “Bukannya apa-apa, ya, tapi memang sulit
untukku menerima kembali yang pernah pergi,” Niko menatap Melisa tajam.
“Aku
menyesal, Nik,” lirih suara Melisa.
“Maaf,
aku nggak bisa, Mel. Aku sudah menyukai orang lain,”
“Tapi
aku masih akan menunggu. Gak peduli kamu mau menerimaku atau tidak. Kamu gak
ngerti aku, Nik. Aku mencarimu kemana-mana. Dan ketika kita ketemu, kenapa kamu
malah memperlakukan aku seperti ini? Kamu kok tega?” Melisa menyentuh punggung
tangan Niko lembut.
“Terima
kasih atas kunjunganmu, Mel, tapi mengenai ajakanmu itu, aku tidak tertarik.
Maaf, ya.” Niko menepis pelan tangan Melisa sekali lagi. “Niko…” Melisa
memandang cowok itu hampir menangis. “Aku sudah melangkah ke depan, Mel. Tidak
lagi berjalan sambil melihat ke belakang. Semua terlalu sakit untuk kuterima.
Sekali aku melepaskan sesuatu, sampai mati aku tidak akan lagi mengejarnya,”
tegas Niko.
“Segitu
yakinnya kamu dengan ucapanmu?” Melisa merasa kepalanya mendadak pusing. Dia
menunduk, memijat dahinya pelan. Niko memperhatikannya tanpa mau melakukan apa
pun. “Tolong lupain aku!” Niko berujar lagi. Melisa menatap Niko cepat. Air
mata itu sudah menumpuk di mata. Sekali kedipan, air itu akan melaju dengan
mulus di kedua pipinya. “Kenapa?”
“Yaaa
karena kamu tidak harus membangkitkan yang telah mati. Kamu tidak harus
membenahi gelas yang sudah pecah. Jalanilah saja hidup kita sekarang secara
masing-masing. Mungkin kebahagiaanmu bukan di aku. Terimalah kenyataan, tidak
semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan. Ini kehidupan nyata, bukan negeri
dongeng semata. Dewasalah!”
Melisa
menghapus air matanya. Kata-kata Niko mungkin begitu menusuknya. Dia malu. Malu
sekali. Maka detik itu juga, dia berlari menuju mobilnya. Berlalu begitu saja
dari pekarangan rumah Niko. Niko menatapnya datar, tidak peduli. Di balik
pintu, seseorang telah mendengar semua dialog Niko dan Melisa sejak tadi.
Seorang wanita yang begitu keibuan, muncul dari balik pintu, menghampiri. Niko
terkejut melihat Mama tiba-tiba sudah berada di sini.
“Kenapa
kamu membuatnya menangis, Nik?” Tanya Mama lembut. Beliau mengusap kepala Niko.
“Mama mendengar semua percakapan kami?” bukannya menjawab, Niko malah balik
bertanya. Mama tersenyum, “Tentu saja. Mama sejak tadi berdiri di sana,
menyaksikan betapa kuat argumen yang kamu berikan padanya, tak terbantah
sedikit pun,”
“Aku
benci dia, Ma,” ucap Niko kesal.
“Mama
dengar dia telah menyesal, dan kamu masih mempermasalahkannya?”
“Apa
maksud Mama, sih? Mama masih suka sama
dia?” Niko nggak terima.
“Bukan
begitu, Nik. Tapi Mama minta, kamu bersikap manis saja padanya. Jangan
membuatnya menangis seperti tadi. Dia seorang perempuan, begitu pun Mama. Kamu
mengerti maksud Mama, kan?” Niko menghela napas, “Apa Mama memberi kesempatan
padanya?” tanyanya. “Mama hanya ingin bilang, anak laki-laki yang baik, tidak
akan menyakiti hati gadis mana pun dengan sengaja,” Mama mengelus pipi Niko
lembut.
“Apa
sekarang ada seseorang yang dekat denganmu? Seseorang yang mengisi hatimu? Mama
sudah cukup kenal Melisa sejak dulu, Nik. Sejak kalian kecil malah. Masa kamu
nggak bisa maafin kesalahan dia yang dulu?” Mama bertanya dengan nada serius,
membuat kening Niko berkerut. “Nggak, Ma. Melisa suka tertarik pada sesuatu
yang lebih,” jelas Niko. “Tapi bukankah dia sudah kapok? Sudah minta maaf dan
menyadari kesalahannya?” tanya Mama lagi. “Untuk saat ini mungkin iya, Ma. Tapi
nanti bila dia bosan, dia akan kembali berulah. Niko kenal betul sifatnya, Ma.
Mama rela anak Mama yang ganteng ini tertipu dua kali?” Niko mencoba bercanda.
“Kan sudah lama nggak ketemu, kamu tidak ingin
mencobanya lagi?” Mama masih penasaran. “Perasaan bukan eksperimen, kan, Ma?
Yang harus dicoba-coba,” Niko mulai kesal. “Mama tahu, Sayang. Tapi sifat
manusia kan dinamis, pasti bisa berubah,” bela Mama. “Tapi susah untuk orang
macam Melisa, Ma. Spesiesnya agak langka,” Niko asal menjawab. “Kenapa kamu
yakin sekali sih?” Mama kesal. “Karena Niko kenal dia sekali, Ma. Niko tidak
pernah bisa menerima seseorang pergi sesuka hatinya dan kembali seenak
jidatnya,” jelas Niko.
Mama
tersenyum. Mungkin merasa kalau anaknya ini memang selalu terlihat dewasa di
saat-saat tertentu. Misalnya dalam keadaan seperti ini, Niko akan memperjuangkan
pendapatnya mati-matian untuk mematikan argumen orang lain. “Ya sudah, kenapa
kamu harus emosi? Mama kan hanya bertanya perihal kemungkinannya. Jangan
cemberut gitu, dong!” gurau Mama melihat wajah Niko mulai menunjukkan ekspresi
sebal.
Mau
tidak mau, Niko tersenyum. Mama memang pandai membuatnya serba salah seperti
tadi. Perasaan sebal dan marah menjadi satu.
“Lalu, sekarang siapa?” Tanya Mama dengan nada menggoda. “Apanya, Ma?” Niko
pura-pura nggak tahu. “Siapa yang sekarang berhasil mengunci pintu hatimu dari
Melisa?” Mama tersenyum penuh arti. Niko tergelak melihat ekspresi wajah lucu
Mama, “Ada, Mama tenang saja. Nanti aku kenalkan dengannya kok,” Niko
mengedipkan sebelah mata. “Apa Mama mengenalnya? Apa dia teman dekatmu?”
Jleb.
Hati Niko mencelos. Kenapa tebakan Mama bisa selalu tepat? “Enggg.. kok Mama
bisa bilang begitu?” tanya Niko takut-takut. “Sebab Mama pernah membaca SMS mu
yang isinya ‘Jangan telat makan ya,
Sayang’, sayangnya mama nggak sempat lihat siapa nama pengirimnya,” ledek
Mama dengan tawa berderai.
Beliau
langsung lari ke dalam rumah sambil tertawa cekikikan kayak Mbak Kunti.
“MAMAAAAAAAAA!!!”
teriak Niko menahan malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar