Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Catatan Tentang Mantan (Terbit 16 April 2017, Harian Medan Pos)

Kira-kira lepas ashar, sebuah Lexus putih memasuki pekarangan rumah Niko. Saat itu Niko sedang mengutak-atik leggo. Seorang gadis bercelana pendek dengan kaus panjang biru muda turun dari mobil mewah itu. Niko menghela napas panjang, sudah kuduga, batinnya lelah. Melisa langsung menghambur ke arahnya yang tengah duduk santai di teras rumah. Gadis itu tak hentinya menebar senyum, namun Niko malah dengan sengaja tak melihatnya.
“Hai, Nik, sedang apa?” Tanya Melisa basa-basi. Dia menarik sebuah kursi lagi untuk kemudian duduk tepat di samping cowok itu. “Menurutmu?” Niko malas menjawab pertanyaan mubazir itu. Melisa menarik napas tertahan, mungkin sudah mulai terbiasa jika Niko bersikap dingin padanya. Meski Niko masih bersedia bertatap muka dengannya. Namun tetap saja, sikap Niko tak bisa berubah menjadi hangat seperti dulu. “Ada perlu apa ke sini?” Tanya Niko masih pura-pura sibuk dengan leggo.
“Bukankah dulu aku juga sering main ke sini, kenapa pertanyaan itu terasa begitu dingin?” Melisa berusaha menyentuh tangan Niko, namun dengan segera cowok berkulit putih itu menepisnya. “Kamu.. berhentilah menggangguku. Semua udah gak kayak dulu,” Sekarang mata Niko menatap tajam ke arahnya. Niko memang terbiasa memanggil Melisa dengan sebutan aku-kamu, berbeda seperti saat ia bersama dengan gadis berkacamata yang sedang didekatinya. Namun itu bukan berarti semuanya akan membaik seperti dulu.
Suasana berubah menjadi tidak enak. Mereka berdua larut dalam diam, larut dengan pikiran masing-masing. Agak kaku meski Melisa berusaha untuk bersikap wajar. Gadis itu masih berusaha mencairkan suasana demi meredakan emosi yang mulai meletup kecil di hati Niko. Melisa masih bertanya ini-itu, takut-takut salah ngomong, Niko akan menghardiknya. “Kamu masih marah padaku?” Melisa terlihat serius. “Biasa saja,” Niko masih menjawab datar. “Syukurlah. Aku sengaja ke sini ingin minta maaf sekali lagi atas kejadian yang lalu,”
“Bukannya kamu sudah pernah mengutarakannya kan di kafetaria waktu itu? Lagi pula semua sudah berlalu, kenapa harus repot-repot sih?” sindir Niko lagi. “Bukan begitu, Nik. Aku mengaku salah. Kamu harus tahu, kalau hidupku nggak lagi sama saat dulu aku memutuskan pergi,” Niko merasa akan terjadi pentas drama di sini. Melisa adalah Drama Queen terhebat yang pernah ia kenal. “Itu masalahmu. Kenapa harus diceritakan padaku?”
“Supaya kamu tahu, bahwa aku gak bahagia. Mungkin aku salah meninggalkanmu. Theo gak lebih baik dari kamu, Nik. Dia sering menyalahkanku dengan kesalahan yang sama sekali gak pernah aku perbuat. Dia juga tidak selalu menomorsatukanku. Dia selalu asik dengan dunianya sendiri. Beda dengan kamu. Aku menyesal, tapi aku gak tahu harus bagaimana. Dan selama itu aku berusaha mencarimu. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu,” jelas Melisa panjang lebar.
Tidak ada komentar dari mulut Niko. Masa bodoh. Beberapa kali Melisa melirik cowok berambut berantakan itu. Ia merasa Niko masih tampan, gampang memaafkan, dan baik hati. Gadis itu tampak menyesal, meninggalkan Niko hanya karena Theo, anak laki-laki partner bisnis Papanya itu. “Katakan sesuatu, Nik? Please, katakan,”
“Aku harus bicara apa? Itu bukan urusanku lagi, Mel,”
“Hmm.. aku paham. Kamu gak akan bisa membayangkan tentang semua itu. Pun tentang perasaanku,” Melisa merendahkan nada suaranya. “Aku memang tidak bisa dan tidak mau lagi membayangkan semua yang berkaitan tentang kamu,” kata Niko ketus. “Aku minta maaf, Nik. Aku berharap masih ada aku di hatimu,”
Niko tertawa, “Aku telah nyaman begini. Hidup bersama orang-orang yang aku sayangi. Dan tentunya juga menyayangiku,”
“Apa karena gadis itu, Nik? Apa yang dilakukan gadis itu sehingga kamu nggak mau memberiku satu kesempatan lagi?”
“Itu urusanku, Mel. Orang lain gak perlu tahu, termasuk kamu,”
“Kamu tertarik padanya? Atau dia telah menghasutmu untuk tidak lagi menerimaku?” Tanya Melisa sedikit kesal.
“Berhentilah menyalahkan orang lain. Dia tidak memiliki andil, dia tidak pernah menyebabkan hubungan kita putus,” Niko berkata tegas, nada suaranya naik beberapa oktaf. Niko tidak ingin seorang pun berpikiran jelek tentang Milla, gadis berkacamata itu.
“Lalu? Nik, aku benar-benar minta maaf dan ingin sekali memperbaiki semuanya sama kamu,” Melisa memelas, habis sudah akalnya membujuk Niko. Dulu, Niko tak pernah sekeras ini.
“Nggak perlu. Kalau bisa, perbaiki saja hubunganmu dengan dia. Percuma saja dulu kamu meninggalkan aku demi dia. Bukankah dia lebih segalanya? Jangan mengemis pada apa yang dulu telah kamu buang!” sindir Niko lagi. Melisa menarik napas berat. Barangkali hatinya sakit mendengar ucapan Niko. “Bukannya apa-apa, ya, tapi memang sulit untukku menerima kembali yang pernah pergi,” Niko menatap Melisa tajam.
“Aku menyesal, Nik,” lirih suara Melisa.
“Maaf, aku nggak bisa, Mel. Aku sudah menyukai orang lain,”
“Tapi aku masih akan menunggu. Gak peduli kamu mau menerimaku atau tidak. Kamu gak ngerti aku, Nik. Aku mencarimu kemana-mana. Dan ketika kita ketemu, kenapa kamu malah memperlakukan aku seperti ini? Kamu kok tega?” Melisa menyentuh punggung tangan Niko lembut.
“Terima kasih atas kunjunganmu, Mel, tapi mengenai ajakanmu itu, aku tidak tertarik. Maaf, ya.” Niko menepis pelan tangan Melisa sekali lagi. “Niko…” Melisa memandang cowok itu hampir menangis. “Aku sudah melangkah ke depan, Mel. Tidak lagi berjalan sambil melihat ke belakang. Semua terlalu sakit untuk kuterima. Sekali aku melepaskan sesuatu, sampai mati aku tidak akan lagi mengejarnya,” tegas Niko.
“Segitu yakinnya kamu dengan ucapanmu?” Melisa merasa kepalanya mendadak pusing. Dia menunduk, memijat dahinya pelan. Niko memperhatikannya tanpa mau melakukan apa pun. “Tolong lupain aku!” Niko berujar lagi. Melisa menatap Niko cepat. Air mata itu sudah menumpuk di mata. Sekali kedipan, air itu akan melaju dengan mulus di kedua pipinya. “Kenapa?”
“Yaaa karena kamu tidak harus membangkitkan yang telah mati. Kamu tidak harus membenahi gelas yang sudah pecah. Jalanilah saja hidup kita sekarang secara masing-masing. Mungkin kebahagiaanmu bukan di aku. Terimalah kenyataan, tidak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan. Ini kehidupan nyata, bukan negeri dongeng semata. Dewasalah!”
Melisa menghapus air matanya. Kata-kata Niko mungkin begitu menusuknya. Dia malu. Malu sekali. Maka detik itu juga, dia berlari menuju mobilnya. Berlalu begitu saja dari pekarangan rumah Niko. Niko menatapnya datar, tidak peduli. Di balik pintu, seseorang telah mendengar semua dialog Niko dan Melisa sejak tadi. Seorang wanita yang begitu keibuan, muncul dari balik pintu, menghampiri. Niko terkejut melihat Mama tiba-tiba sudah berada di sini.
“Kenapa kamu membuatnya menangis, Nik?” Tanya Mama lembut. Beliau mengusap kepala Niko. “Mama mendengar semua percakapan kami?” bukannya menjawab, Niko malah balik bertanya. Mama tersenyum, “Tentu saja. Mama sejak tadi berdiri di sana, menyaksikan betapa kuat argumen yang kamu berikan padanya, tak terbantah sedikit pun,”
“Aku benci dia, Ma,” ucap Niko kesal.
“Mama dengar dia telah menyesal, dan kamu masih mempermasalahkannya?”
“Apa maksud  Mama, sih? Mama masih suka sama dia?” Niko nggak terima.
“Bukan begitu, Nik. Tapi Mama minta, kamu bersikap manis saja padanya. Jangan membuatnya menangis seperti tadi. Dia seorang perempuan, begitu pun Mama. Kamu mengerti maksud Mama, kan?” Niko menghela napas, “Apa Mama memberi kesempatan padanya?” tanyanya. “Mama hanya ingin bilang, anak laki-laki yang baik, tidak akan menyakiti hati gadis mana pun dengan sengaja,” Mama mengelus pipi Niko lembut.
“Apa sekarang ada seseorang yang dekat denganmu? Seseorang yang mengisi hatimu? Mama sudah cukup kenal Melisa sejak dulu, Nik. Sejak kalian kecil malah. Masa kamu nggak bisa maafin kesalahan dia yang dulu?” Mama bertanya dengan nada serius, membuat kening Niko berkerut. “Nggak, Ma. Melisa suka tertarik pada sesuatu yang lebih,” jelas Niko. “Tapi bukankah dia sudah kapok? Sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya?” tanya Mama lagi. “Untuk saat ini mungkin iya, Ma. Tapi nanti bila dia bosan, dia akan kembali berulah. Niko kenal betul sifatnya, Ma. Mama rela anak Mama yang ganteng ini tertipu dua kali?” Niko mencoba bercanda.
 “Kan sudah lama nggak ketemu, kamu tidak ingin mencobanya lagi?” Mama masih penasaran. “Perasaan bukan eksperimen, kan, Ma? Yang harus dicoba-coba,” Niko mulai kesal. “Mama tahu, Sayang. Tapi sifat manusia kan dinamis, pasti bisa berubah,” bela Mama. “Tapi susah untuk orang macam Melisa, Ma. Spesiesnya agak langka,” Niko asal menjawab. “Kenapa kamu yakin sekali sih?” Mama kesal. “Karena Niko kenal dia sekali, Ma. Niko tidak pernah bisa menerima seseorang pergi sesuka hatinya dan kembali seenak jidatnya,” jelas Niko.
Mama tersenyum. Mungkin merasa kalau anaknya ini memang selalu terlihat dewasa di saat-saat tertentu. Misalnya dalam keadaan seperti ini, Niko akan memperjuangkan pendapatnya mati-matian untuk mematikan argumen orang lain. “Ya sudah, kenapa kamu harus emosi? Mama kan hanya bertanya perihal kemungkinannya. Jangan cemberut gitu, dong!” gurau Mama melihat wajah Niko mulai menunjukkan ekspresi sebal.
Mau tidak mau, Niko tersenyum. Mama memang pandai membuatnya serba salah seperti tadi. Perasaan sebal dan marah menjadi satu.  “Lalu, sekarang siapa?” Tanya Mama dengan nada menggoda. “Apanya, Ma?” Niko pura-pura nggak tahu. “Siapa yang sekarang berhasil mengunci pintu hatimu dari Melisa?” Mama tersenyum penuh arti. Niko tergelak melihat ekspresi wajah lucu Mama, “Ada, Mama tenang saja. Nanti aku kenalkan dengannya kok,” Niko mengedipkan sebelah mata. “Apa Mama mengenalnya? Apa dia teman dekatmu?”
Jleb. Hati Niko mencelos. Kenapa tebakan Mama bisa selalu tepat? “Enggg.. kok Mama bisa bilang begitu?” tanya Niko takut-takut. “Sebab Mama pernah membaca SMS mu yang isinya ‘Jangan telat makan ya, Sayang’, sayangnya mama nggak sempat lihat siapa nama pengirimnya,” ledek Mama dengan tawa berderai.
Beliau langsung lari ke dalam rumah sambil tertawa cekikikan kayak Mbak Kunti.
“MAMAAAAAAAAA!!!” teriak Niko menahan malu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar