Selalu
ada yang tak bisa kujelaskan ketika aku melihat dirimu. Terlalu banyak cinta
yang berlompatan dan menyusup masuk ke dalam hati, bahkan sebelum aku
mengizinkannya untuk masuk dan menepi. Juga segudang rindu yang kau biaskan
lewat tatapan matamu, semakin membuat aku kewalahan mewaraskan diri. Ya, bahkan
lebih dari yang kau pahami, bahwa kau telah kujatuhcintai jauh sebelum kau
mulai menyadari. Bahwa segala rasaku, muaranya adalah kamu.
Aku
tidak ingin bilang bahwa kau adalah segalanya. Pun aku tak ingin bilang bahwa
kau selalu menawarkan bahagia. Belakangan ini, kau sering mengajakku
bermain-main dengan luka. Mendekat dan membiarkan aku merasakan sedikit
perihnya berada di posisi yang kurasa sangat menyebalkan. Kau tahu aku tak
tertarik, tapi kau selalu berusaha menarik. Membawaku mencicipi duka walau
hanya sekadar bayangan.
Mari
kita menyisir kenangan, melihat-lihat kembali masa-masa apa yang telah kita
lewati. Mengunjungi ingatan yang barangkali sudah karatan. Atau membaca ulang
segala senyum dan tawa yang pernah mengembang. Kita pernah sama-sama bahagia
berada di sana, saling menguatkan dengan kelingking yang bertautan. Saling
berjanji untuk tersenyum walau disakiti. Saling mengerti walau kadang hati
susah diajak kompromi. Tapi kita selalu bisa melewatinya, membujuk hati yang
kerap merajuk. Mendinginkan emosi dengan peluk dan kecup.
Aku
selalu ada di saat-saat tersulitmu, kau pun kerap ada di saat-saat tersulitku.
Kita utarakan janji masa depan meski hanya sekadar khayalan. Bahwa kita ingin
bersama, menetap di rumah yang sama, pun tidur di ranjang yang sama, dengan
cinta dan rindu yang tak pernah berubah. Bangun dengan kecupan manis di
keningku sambil menikmati kopi yang berkekasih dengan roti. Setelahnya kita
akan menghabiskan satu hari bersama, dengan tawa dan bahagia.
Kita
tidak ingin berjanji akan semua itu, kita hanya berkhayal dan berusaha
mewujudkannya di masa depan. Aku pahami bahwa kau bukan pria yang suka
berjanji, apalagi dalam hal-hal besar semacam ini. Namun kau selalu berusaha
untuk selalu menepati apa yang kau ingini. Ruas-ruas jarak mulai terkuak, siap
menelan segala kebahagiaan yang mati-matian kita jaga. Tinggal menghitung bulan
lagi, aku akan sendiri dan kembali sepi.
Bukankah
kau tahu, bahwa jauh darimu adalah hal terperih untuk bunuh diri? Jauh darimu
adalah mimpi buruk yang tak pernah ingin kusinggahi. Sebab akan ada luka yang
kembali menganga dan kamu tidak di sini untuk mengobati. Haruskah kuminta kau
untuk tidak pergi? Untuk terus menemani gadismu yang rapuh ini. Untuk terus
bersama menghabiskan menit hingga detik.
Aku
tak ingin kau pergi. Aku tak ingin kau melupa bahwa di kota ini, kita pernah
saling membahagiakan. Kamu pernah menemaniku menikmati hujan dan menggenggam
tanganku saat kedinginan. Di kota ini, kita pernah membangun cinta, merawatnya
dengan temu, dan membesarkannya melalui rindu. Sungguh, aku tak ingin kau jauh.
Aku tak ingin kembali sepi dan merawat rindu seorang diri.
Ah,
mendung kembali bergelayut manja di pelupuk mataku. Sebentar lagi, hujan akan
menderas jatuh di balik kacamataku. Orang bilang, setiap pertemuan tentu akan
ada perpisahan. Tapi yang aku tahu, perpisahan itu tetap saja menyakitkan.
Bagaimanapun bentuknya, perpisahan adalah kondisi paling menyebalkan untuk
orang-orang yang sedang jatuh cinta. Bukan, bukan aku tidak ingin melepasmu
untuk menuntaskan rindu dengan orangtuanmu. Bukan aku tak ingin kau kembali
tidur di rumah hangatmu. Bukan juga aku tak ingin kau bersua dengan teman-teman
masa SMA-mu.
Aku
hanya takut, kau melupa bahwa gadismu masih ada. Aku takut kau lupa dengan
cinta yang pernah membuat kita bahagia. Aku takut kau lupa bahwa aku menunggu
dengan setia. Tidak ada kemungkinan baik atau buruk untuk sebuah hubungan, kita
telah berjanji akan merawat semampunya, pun tidak menutup konsekuensi
mengakhirinya. Masa depan tak berada di telapak tangan kita. Masa depan bukan
bagian dari kekuasaan kita.
Meski
begitu, ada kuat yang sedang kita bangun sejak saat ini. Untuk terus mendewasa
dan percaya bahwa hal indah akan selalu ada jika kita mau menerima apa adanya.
Bersama dan membersamaimu adalah hal paling menyenangkan dalam hidupku.
Masa-masa bertengkar untuk kemudian berbaikan kembali adalah masa-masa paling
syahdu untuk melunasi rindu. Kamu telah hadir dan membantu mewarnai kanvas
kehidupanku. Menorehkannya dengan banyak warna hingga membuatku terkesima.
Apapun
itu, mengenalmu bukan sesuatu hal yang harus kusesali. Dekat denganmu saat ini,
juga bukan sesuatu hal yang patut kutakuti. Tidak ada yang sia-sia selama kita
saling menjaga dan merasa bahagia. Kamu sudah membantuku mengisi ruang kosong
yang selama ini mengganggu, kamu pulalah yang sudah menawarkan segala bahagia
untuk membuatku merasa teristimewa. Kelak, bersama atau tidak, kita tidak akan
saling membenci dan menutup diri. Kelak, dengan ataupun tanpaku, kamu akan
selalu jadi Tuan Penawar Bahagia yang manis dan lucu. Yang mendapat tempat
spesial di dalam hati, meski takdir sudah menemukan jalannya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar