Sebelumnya,
izinkan aku memperkenalkan seorang perempuan daruma kepada kalian semua. Kalian
tahu apa itu Daruma? Daruma adalah sebuah boneka kepercayaan orang Jepang yang
dibentuk sedemikian rupa, ada sebuah rongga di dalamnya, dan didesain agak
berat pada bagian bawahnya. Bagian bawah boneka itu berbentuk bulat halus. Sehingga
ketika boneka itu didorong, dijatuhkan, dibalikkan, atau dihempaskan berapa
kali pun, ia akan tetap kembali pada posisi semula.
Dari
ibu aku tahu, bahwa boneka daruma ini meski jatuh berkali-kali, ia akan tetap
bangkit dan berdiri lagi. Dongeng sebelum tidur yang selalu ibu bacakan untukku
ketika kecil inilah yang membuatku menyebut perempuan itu dengan sebutan
perempuan daruma. Perempuan yang ketika dihina, dijatuhkan, diremehkan oleh
orang-orang sekitarnya, namun tetap memilih bangkit dan terus berjalan ke
depan. Ia ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat. Ia diciptakan untuk menjadi
perempuan yang hebat.
Aku
mengenalnya di sepotong senja yang hujan. Saat itu, aku melihatnya duduk di
halte depan kampus menunggu seseorang. Aku membenci gaya berpakaiannya, yang
kunilai terlalu seksi untuk perempuan paruh baya seperti dirinya. Usianya
kutaksir sebaya ibuku, sekitar 40 tahun. Kerap aku melihatnya duduk sendiri
menunggu banyak lelaki. Kukatakan banyak lelaki, sebab bukan sekali dua kali
aku mendapatinya tengah bermesraan dengan lelaki berbeda sebelum pergi
menggunakan mobil mewah.
Aku
mencibir kelakuannya dan menceritakannya kepada ibu. “Jangan menilai orang dari
luarnya saja, Dinda. Itu tidak baik,” sanggah ibu ketika aku melaporkan
kejadian itu. Sepertinya ibu mengenal baik perempuan yang selalu kulihat dengan
banyak lelaki. Perempuan itu juga sering bertandang ke rumah, bercakap-cakap
dengan ibu, namun tidak pernah menyapaku. Hanya satu yang selalu ia lakukan
ketika melihatku, menatapku dengan tatapan sendu. Dan aku selalu melihat mata
itu berbicara. Entahlah, barangkali dia habis curhat dengan ibu, meminta ibu
mengasihaninya.
Perempuan
itu selalu suka mengenakan rok mini juga pakaian-pakaian ketat lainnya. Sengaja
benar mengundang mata para lelaki hidung belang. Dia selalu memakai heels dan berlipstik amat menggoda.
Rambutnya yang bergelombang cokelat, dibiarkannya tergerai ditiup angin. Tak
lupa ia menggunakan anting yang lumayan besar. Aku mual tiap kali melihat gaya
yang kurasa tidak pantas untuk perempuan seusianya.
Pernah
suatu waktu, ibu menasehatiku, “Apalah yang dia buat terhadapmu, Dinda? Hanya
karena dia tunasusila, lalu kau berhak menghakiminya?” protes ibu kala itu. Aku
mendengus kesal, “Ibu jangan terlalu baik padanya. Aku tak suka. Dia itu bukan
perempuan baik-baik, Bu. Aku hanya tidak mau nama ibu jelek gara-gara terlalu
sering memberi angin padanya. Terlalu sering bergaul dengannya. Lagian apa sih
yang dia ceritakan ke ibu? Kenapa sering sekali bertandang ke rumah kita?” nada
suaraku naik beberapa oktaf. Aku tahu telah menyakiti ibu dengan perkataanku,
tapi aku sayang ibu. Aku hanya tidak mau perempuan liar itu menjerumuskan ibu
dan membuat nama ibu jelek.
“Suatu
saat kau akan tahu, Nak. Ibu hanya berpesan, kita tidak pernah tahu jalan pahit
yang orang lain tempuh, sebelum kita berada di posisi orang tersebut. Jangan
suka menghakimi orang lain dengan prasangka burukmu, Dinda. Boleh jadi suatu
saat nanti, dialah orang yang paling kau butuhkan.” Ibu pergi meninggalkanku
sendirian di meja makan. Usai perdebatan itu, ibu kelihatan berbeda. Hanya mengajakku
ngobrol seadanya. Aku jadi merasa bersalah pada ibu.
Malam
ini, sepulang dari kuliah, aku melihatnya baru saja turun dari mobil mewah yang
berbeda. Dalam hati aku mencibir kelakuannya. Perempuan yang tinggal tak jauh
dari rumahku itu memang diketahui mempunyai tabiat buruk. Dia tinggal seorang
diri di kontrakan gang depan. Pergi malam, pulang malam. Entah apa yang dilakukannya.
Tapi seluruh masyarakat di sini tahu, bahwa ia adalah seorang tunasusila. Semua
warga membencinya, tak terkecuali aku. Sebagai mahasiswi aku tentu begitu jijik
melihat kelakuannya, konon lagi aku pun seorang perempuan.
Kejadian
itu tak kuceritakan pada ibu, sebab respon ibu pasti akan sama seperti kemarin-kemarin.
Menyalahkan aku yang selalu berprasangka buruk pada perempuan itu. Tapi,
bukankah dia memang sudah buruk? Dia itu adalah penyakit masyarakat, yang jika
dibiarkan akan menulari warga lainnya. Termasuk ibu yang kunilai terlampau
hangat padanya.
Esok
paginya, ibu mengetuk pintu kamarku dengan kencang. Pagi ini aku tidak ada
kelas, jadi aku memutuskan untuk bermalas-malasan di kamar. Ibu menggedor pintu
kamarku dengan terburu, cepat-cepat aku membukanya, kupikir akan ada hal
penting yang hendak ibu sampaikan. Kulihat ibu sudah berpakaian rapi dengan
jilbab hitamnya. Aku bingung melihat penampilan ibu. Mata ibu terlihat sembab.
Hidungnya memerah. Ibu menatapku dengan tatapan pedih. Di tangannya, aku
melihat ia memegang selembar foto.
“Ada
apa, Bu? Kenapa ibu menangis?” tanyaku khawatir. Seingatku, ibu tak pernah lagi
menangis sejak kepergian ayah 5 tahun lalu. Ibu memelukku kencang, tangisnya
pecah, aku sendiri bisa merasakan gemuruh hebat di dada ibu. Cukup lama ibu
memelukku, hingga akhirnya ia menyerahkan foto itu. Aku mengambil dan
mengamatinya. Ini foto kecilku. Ya, aku mengenali bahwa ini adalah fotoku.
Tapi, siapa perempuan yang menggendongku itu? Bukan, itu jelas bukan wajah ibu.
Aku mengamatinya lebih dalam, mencoba mengingat-ingat sketsa wajah di foto
hitam putih itu.
DEG!
Jantungku terasa berhenti sepersekian detik. Wajah itu, aku mengenalnya. Wajah
itu, wajah perempuan yang begitu familiar di mataku. Wajah itu, wajah perempuan
yang selalu bertandang ke rumahku. Wajah itu, wajah yang selalu menemui ibu.
Dan wajah itu, wajah seseorang yang begitu kubenci. “Ma.. maksud ibu apa?” aku
menatap foto itu dan wajah ibu bergantian. Ibu mengelus pundakku, “Temui ibumu,
Nak. Pandang wajahnya untuk yang terakhir kali. Pagi ini ibu mendapat kabar
bahwa dia mengakhiri hidupnya. Temuilah, Nak..” ibu tergugu menjelaskan padaku.
Rahangku
kaku. Otakku terasa beku. Lelucon macam apa yang kuterima sepagi ini? “Maksud
ibu apa? Perempuan itu… maksudnya apa, Bu?” tanyaku sekali lagi dengan nada
sedikit lebih tinggi. “Ibu Lail adalah ibu kandungmu, Dinda. Maafkan ibu yang
tak pernah menceritakan ini padamu. Beliau meminta ibu merahasiakannya. Beliau
takut kau tidak mau menerimanya. Dulu, 19 tahun yang lalu, beliau menitipkanmu
pada ibu. Dia takut dan khawatir kau akan hidup dalam kenistaan seperti
dirinya. Dia memilih menyelamatkanmu dengan menitipkannya pada ibu, yang
kebetulan ibu dan bapak tak memiliki anak,”
Aku
shock mendengar penjelasan ibu. “Ibu
merawat dan menyayangimu seperti anak ibu sendiri. Dan Ibu Lail selalu
menengokmu dari kau kecil hingga kau sebesar ini. Dia selalu datang melihat
perkembanganmu. Itulah sebab dia sering bertandang ke rumah kita, Nak.” Ibu mengakhiri
kalimatnya dengan sesenggukan. “Kau ingat boneka daruma, Dinda? Sejak kecil kau
selalu bertanya siapa seseorang yang pantas kau sebut daruma. Dia, Nak.. Dialah
yang pantas kau sebut daruma. Perempuan daruma. Perempuan terhebat dalam
hidupmu, meski kau tak pernah menyadari itu,”
“Kehidupannya
pahit, Dinda. Dia melakukan pekerjaan itu sebab sudah kadung kecewa dengan
seseorang yang merusak dirinya hingga ia melahirkanmu. Dia merasa keadilan
hidup tak pernah berpihak padanya. Orang-orang memandangnya sebelah mata,
menghujat kelakuannya, juga meremehkan segala apa yang dibuatnya. Meski ia
terus bersikap baik dan hangat kepada para tetangga, tetap saja mereka merasa
jijik walau hanya dengan melihat wajahnya. Dan ibu, ibu hanya tidak mau menjadi
seperti mereka, Nak. Dia punya alasan tersendiri mengapa menjerumuskan diri ke
dalam pekerjaan yang hina itu,”
“Hidup
ini berat, Dinda. Kau dan orang-orang itu hanya belum sepenuhnya mengerti
tentang pilihan hidup. Terhimpit oleh keadaan dan mengharuskan kita melakukan
sesuatu yang buruk. Tapi jelas, Tuhan tahu alasan pastinya. Berulang kali ibu
menasehatimu, Nak, untuk tidak memandang orang sebelah mata. Selama dia tak
mengganggu kita dengan pekerjaannya, itu bukanlah sesuatu yang pantas
didebatkan. Perempuan daruma itu telah pergi untuk selamanya, bersoraklah
sebagian para pembencinya,” isak ibu semakin kuat.
Aku
terduduk, badanku terasa lemas mendengar pengakuan ibu. Berdosanya aku, Tuhan..
membenci perempuan yang ternyata dari rahimnya-lah aku ada. Air mataku tumpah
ruah. Dadaku terasa sakit sekali. Mengapa aku baru mengetahui ketika perempuan
daruma itu sudah tiada? Mengapa tak Kau beri aku kesempatan untuk meminta maaf
atas prasangka burukku selama ini padanya? Kurasakan sekelilingku berputar.
Dadaku sesak karena tangis. Aku terlalu kaget dengan semuanya. Aku juga tak
akan bisa bertemu dengan perempuan daruma itu lagi. Meski untuk terakhir kali. Tiba-tiba
aku merasa gelap. Gelap sekali. Lalu semuanya menjadi gulita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar