Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Perempuan Daruma (Terbit 19 Maret 2017, Harian Medan Pos)

Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan seorang perempuan daruma kepada kalian semua. Kalian tahu apa itu Daruma? Daruma adalah sebuah boneka kepercayaan orang Jepang yang dibentuk sedemikian rupa, ada sebuah rongga di dalamnya, dan didesain agak berat pada bagian bawahnya. Bagian bawah boneka itu berbentuk bulat halus. Sehingga ketika boneka itu didorong, dijatuhkan, dibalikkan, atau dihempaskan berapa kali pun, ia akan tetap kembali pada posisi semula.
Dari ibu aku tahu, bahwa boneka daruma ini meski jatuh berkali-kali, ia akan tetap bangkit dan berdiri lagi. Dongeng sebelum tidur yang selalu ibu bacakan untukku ketika kecil inilah yang membuatku menyebut perempuan itu dengan sebutan perempuan daruma. Perempuan yang ketika dihina, dijatuhkan, diremehkan oleh orang-orang sekitarnya, namun tetap memilih bangkit dan terus berjalan ke depan. Ia ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat. Ia diciptakan untuk menjadi perempuan yang hebat.
Aku mengenalnya di sepotong senja yang hujan. Saat itu, aku melihatnya duduk di halte depan kampus menunggu seseorang. Aku membenci gaya berpakaiannya, yang kunilai terlalu seksi untuk perempuan paruh baya seperti dirinya. Usianya kutaksir sebaya ibuku, sekitar 40 tahun. Kerap aku melihatnya duduk sendiri menunggu banyak lelaki. Kukatakan banyak lelaki, sebab bukan sekali dua kali aku mendapatinya tengah bermesraan dengan lelaki berbeda sebelum pergi menggunakan mobil mewah.
Aku mencibir kelakuannya dan menceritakannya kepada ibu. “Jangan menilai orang dari luarnya saja, Dinda. Itu tidak baik,” sanggah ibu ketika aku melaporkan kejadian itu. Sepertinya ibu mengenal baik perempuan yang selalu kulihat dengan banyak lelaki. Perempuan itu juga sering bertandang ke rumah, bercakap-cakap dengan ibu, namun tidak pernah menyapaku. Hanya satu yang selalu ia lakukan ketika melihatku, menatapku dengan tatapan sendu. Dan aku selalu melihat mata itu berbicara. Entahlah, barangkali dia habis curhat dengan ibu, meminta ibu mengasihaninya.
Perempuan itu selalu suka mengenakan rok mini juga pakaian-pakaian ketat lainnya. Sengaja benar mengundang mata para lelaki hidung belang. Dia selalu memakai heels dan berlipstik amat menggoda. Rambutnya yang bergelombang cokelat, dibiarkannya tergerai ditiup angin. Tak lupa ia menggunakan anting yang lumayan besar. Aku mual tiap kali melihat gaya yang kurasa tidak pantas untuk perempuan seusianya.
Pernah suatu waktu, ibu menasehatiku, “Apalah yang dia buat terhadapmu, Dinda? Hanya karena dia tunasusila, lalu kau berhak menghakiminya?” protes ibu kala itu. Aku mendengus kesal, “Ibu jangan terlalu baik padanya. Aku tak suka. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Bu. Aku hanya tidak mau nama ibu jelek gara-gara terlalu sering memberi angin padanya. Terlalu sering bergaul dengannya. Lagian apa sih yang dia ceritakan ke ibu? Kenapa sering sekali bertandang ke rumah kita?” nada suaraku naik beberapa oktaf. Aku tahu telah menyakiti ibu dengan perkataanku, tapi aku sayang ibu. Aku hanya tidak mau perempuan liar itu menjerumuskan ibu dan membuat nama ibu jelek.
“Suatu saat kau akan tahu, Nak. Ibu hanya berpesan, kita tidak pernah tahu jalan pahit yang orang lain tempuh, sebelum kita berada di posisi orang tersebut. Jangan suka menghakimi orang lain dengan prasangka burukmu, Dinda. Boleh jadi suatu saat nanti, dialah orang yang paling kau butuhkan.” Ibu pergi meninggalkanku sendirian di meja makan. Usai perdebatan itu, ibu kelihatan berbeda. Hanya mengajakku ngobrol seadanya. Aku jadi merasa bersalah pada ibu.
Malam ini, sepulang dari kuliah, aku melihatnya baru saja turun dari mobil mewah yang berbeda. Dalam hati aku mencibir kelakuannya. Perempuan yang tinggal tak jauh dari rumahku itu memang diketahui mempunyai tabiat buruk. Dia tinggal seorang diri di kontrakan gang depan. Pergi malam, pulang malam. Entah apa yang dilakukannya. Tapi seluruh masyarakat di sini tahu, bahwa ia adalah seorang tunasusila. Semua warga membencinya, tak terkecuali aku. Sebagai mahasiswi aku tentu begitu jijik melihat kelakuannya, konon lagi aku pun seorang perempuan.
Kejadian itu tak kuceritakan pada ibu, sebab respon ibu pasti akan sama seperti kemarin-kemarin. Menyalahkan aku yang selalu berprasangka buruk pada perempuan itu. Tapi, bukankah dia memang sudah buruk? Dia itu adalah penyakit masyarakat, yang jika dibiarkan akan menulari warga lainnya. Termasuk ibu yang kunilai terlampau hangat padanya.
Esok paginya, ibu mengetuk pintu kamarku dengan kencang. Pagi ini aku tidak ada kelas, jadi aku memutuskan untuk bermalas-malasan di kamar. Ibu menggedor pintu kamarku dengan terburu, cepat-cepat aku membukanya, kupikir akan ada hal penting yang hendak ibu sampaikan. Kulihat ibu sudah berpakaian rapi dengan jilbab hitamnya. Aku bingung melihat penampilan ibu. Mata ibu terlihat sembab. Hidungnya memerah. Ibu menatapku dengan tatapan pedih. Di tangannya, aku melihat ia memegang selembar foto.
“Ada apa, Bu? Kenapa ibu menangis?” tanyaku khawatir. Seingatku, ibu tak pernah lagi menangis sejak kepergian ayah 5 tahun lalu. Ibu memelukku kencang, tangisnya pecah, aku sendiri bisa merasakan gemuruh hebat di dada ibu. Cukup lama ibu memelukku, hingga akhirnya ia menyerahkan foto itu. Aku mengambil dan mengamatinya. Ini foto kecilku. Ya, aku mengenali bahwa ini adalah fotoku. Tapi, siapa perempuan yang menggendongku itu? Bukan, itu jelas bukan wajah ibu. Aku mengamatinya lebih dalam, mencoba mengingat-ingat sketsa wajah di foto hitam putih itu.
DEG! Jantungku terasa berhenti sepersekian detik. Wajah itu, aku mengenalnya. Wajah itu, wajah perempuan yang begitu familiar di mataku. Wajah itu, wajah perempuan yang selalu bertandang ke rumahku. Wajah itu, wajah yang selalu menemui ibu. Dan wajah itu, wajah seseorang yang begitu kubenci. “Ma.. maksud ibu apa?” aku menatap foto itu dan wajah ibu bergantian. Ibu mengelus pundakku, “Temui ibumu, Nak. Pandang wajahnya untuk yang terakhir kali. Pagi ini ibu mendapat kabar bahwa dia mengakhiri hidupnya. Temuilah, Nak..” ibu tergugu menjelaskan padaku.
Rahangku kaku. Otakku terasa beku. Lelucon macam apa yang kuterima sepagi ini? “Maksud ibu apa? Perempuan itu… maksudnya apa, Bu?” tanyaku sekali lagi dengan nada sedikit lebih tinggi. “Ibu Lail adalah ibu kandungmu, Dinda. Maafkan ibu yang tak pernah menceritakan ini padamu. Beliau meminta ibu merahasiakannya. Beliau takut kau tidak mau menerimanya. Dulu, 19 tahun yang lalu, beliau menitipkanmu pada ibu. Dia takut dan khawatir kau akan hidup dalam kenistaan seperti dirinya. Dia memilih menyelamatkanmu dengan menitipkannya pada ibu, yang kebetulan ibu dan bapak tak memiliki anak,”
Aku shock mendengar penjelasan ibu. “Ibu merawat dan menyayangimu seperti anak ibu sendiri. Dan Ibu Lail selalu menengokmu dari kau kecil hingga kau sebesar ini. Dia selalu datang melihat perkembanganmu. Itulah sebab dia sering bertandang ke rumah kita, Nak.” Ibu mengakhiri kalimatnya dengan sesenggukan. “Kau ingat boneka daruma, Dinda? Sejak kecil kau selalu bertanya siapa seseorang yang pantas kau sebut daruma. Dia, Nak.. Dialah yang pantas kau sebut daruma. Perempuan daruma. Perempuan terhebat dalam hidupmu, meski kau tak pernah menyadari itu,”
“Kehidupannya pahit, Dinda. Dia melakukan pekerjaan itu sebab sudah kadung kecewa dengan seseorang yang merusak dirinya hingga ia melahirkanmu. Dia merasa keadilan hidup tak pernah berpihak padanya. Orang-orang memandangnya sebelah mata, menghujat kelakuannya, juga meremehkan segala apa yang dibuatnya. Meski ia terus bersikap baik dan hangat kepada para tetangga, tetap saja mereka merasa jijik walau hanya dengan melihat wajahnya. Dan ibu, ibu hanya tidak mau menjadi seperti mereka, Nak. Dia punya alasan tersendiri mengapa menjerumuskan diri ke dalam pekerjaan yang hina itu,”
“Hidup ini berat, Dinda. Kau dan orang-orang itu hanya belum sepenuhnya mengerti tentang pilihan hidup. Terhimpit oleh keadaan dan mengharuskan kita melakukan sesuatu yang buruk. Tapi jelas, Tuhan tahu alasan pastinya. Berulang kali ibu menasehatimu, Nak, untuk tidak memandang orang sebelah mata. Selama dia tak mengganggu kita dengan pekerjaannya, itu bukanlah sesuatu yang pantas didebatkan. Perempuan daruma itu telah pergi untuk selamanya, bersoraklah sebagian para pembencinya,” isak ibu semakin kuat.

Aku terduduk, badanku terasa lemas mendengar pengakuan ibu. Berdosanya aku, Tuhan.. membenci perempuan yang ternyata dari rahimnya-lah aku ada. Air mataku tumpah ruah. Dadaku terasa sakit sekali. Mengapa aku baru mengetahui ketika perempuan daruma itu sudah tiada? Mengapa tak Kau beri aku kesempatan untuk meminta maaf atas prasangka burukku selama ini padanya? Kurasakan sekelilingku berputar. Dadaku sesak karena tangis. Aku terlalu kaget dengan semuanya. Aku juga tak akan bisa bertemu dengan perempuan daruma itu lagi. Meski untuk terakhir kali. Tiba-tiba aku merasa gelap. Gelap sekali. Lalu semuanya menjadi gulita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar