Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Antara Pembaca dan Pembenci (Terbit 25 Januari 2017, Kabar Madura)

Antara Pembaca dan Pembenci
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengutip kalimat dari penulis novel Jus Alpukat; Win R.G, beliau pernah mengatakan bahwa penulis itu kerjanya hanya menulis dan menyelesaikan tulisan. Ketika tulisan telah selesai dan melemparkannya kepada pembaca, maka tugas penulis itu telah selesai. Bagaimanapun tanggapan pembaca tentang tulisan kita, itu bukanlah menjadi urusan kita. Sebab penulis hanya bertanggung jawab dalam menulis. Urusan pembaca suka atau tidak suka terhadap tulisan kita, itu adalah sepenuhnya hak mereka.
Pembaca yang baik tentu menilai suatu karya sastra secara objektif. Maksudnya adalah menilai dengan cara membaca secara langsung karya sastra itu, kemudian memahaminya. Namun yang terjadi sekarang adalah kebanyakan dari pembaca lebih condong menilai suatu karya sastra secara subjektif. Misal, ketika mereka menyukai seorang penulis atau mengidolakan seorang penulis. Mereka akan cenderung menyukai sekalipun tulisan yang dihasilkan penulis tersebut adalah kurang baik.
Kecenderungan ini terjadi karena pembaca telah sepenuhnya percaya terhadap apapun yang dituliskan oleh penulis tersebut. Dalam meresensi sebuah buku atau novel pun kita cenderung memilih bacaan yang sesuai dengan selera kita untuk diresensi. Kebanyakan resensi yang kita lakukan adalah buku dan novel karya penulis favorit kita.
Jika resensi dilakukan untuk menilai kualitas suatu buku dengan cara yang baik, yakni dengan membaca keseluruhan isi buku terlebih dahulu, maka semua pendapat pembaca mengenai buku tersebut adalah sah untuk diterima. Lain halnya dengan yang ditemukan pada saat sekarang ini. Pembaca lebih suka menilai secara objektif. Pembaca lebih mudah terhasut oleh anggapan teman yang mengatakan bahwa buku atau novel dengan judul X tidak enak untuk dinikmati.
Ini adalah hal keliru. Jika kita menjadi pembaca yang baik, tentunya kita tidak termakan omongan teman yang mengatakan ini-itu terhadap suatu karya sastra. Bijaklah dalam menilai, contoh dengan membaca isi buku tersebut. Setelah itu, barulah kita bisa berkomentar. Jenis pembaca lainnya adalah pembaca yang ikut-ikutan membenci suatu karya sastra atau tulisan dari seorang penulis. Mereka bukan saja membenci karyanya, namun turut membenci penulisnya.
Ini juga suatu hal yang saya rasa keliru. penilaian subjektif memang tak dapat terlepas dari diri manusia. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti mengenal dekat seseorang itu, mengetahui kepribadiannya, atau menilai dari bisik-bisik orang lain.
Pembaca nakal seperti ini bisa menjelma menjadi pembenci. Apa pun yang ditulis oleh salah sastrawan yang memang sudah tidak disukainya, maka seseorang itu tetap tak akan suka dengan berbagai alasan. Mereka akan tetap menilai karya kita sebagai sesuatu yang buruk dan tak layak baca. Saya sendiri pernah mengalami hal serupa ketika menghadapi suatu masalah dalam dunia literasi.
Pembenci seperti ini sebenarnya tak tahu benar apa yang yang sedang ia benci. Ia tak punya alasan pasti mengenai alasan jika ditanyakan. Ketika seorang penulis mendapati suatu masalah, dan masalah tersebut terlalu di blow up, saya rasa akan banyak pembenci yang bermunculan. Pembenci-pembenci dadakan ini memiliki kemungkinan memanfaatkan situasi yang tengah memanas.
Suka menjelekkan padahal tidak tahu apa yang dijelekkan. Suka berkomentar kasar tentang tulisan seseorang padahal tidak mengerti apa yang dikomentarin. Suka menghujat dan menghina hanya karena ikut-ikutan. Pembenci hanya tidak tahu bagaimana menempatkan cinta dan rasa peduli di dalam hati. Tidak paham menghargai karya orang lain. Dan tidak pernah terima untuk dinasehati.
Pembaca dan pembenci seperti dua sisi logam. Di dunia literasi tentu akan ada yang mengaku pro dan kontra. Merupakan hal yang wajar jika ada yang suka dan menyenangi tulisan kita, dan sebaliknya juga. Pasti ada yang membenci atau tidak menyukai tulisan kita. Tulisan saya kali ini saya tujukan untuk menyemangati penulis-penulis yang punya pembenci dengan alasan yang tidak jelas.
Pembenci adalah seseorang yang tidak mampu menjadi seperti kita. Barangkali mereka menilai tulisan kita adalah bagus, namun tidak bisa mengungkapkannya dengan cara yang lebih baik. Saya sangat setuju dengan kalimat yang sering dilontarkan oleh penulis novel Raksasa dari Jogja yakni Dwitasari, beliau mengatakan bahwa pembencimu adalah penggemarmu nomor satu.
Kalimat tersebut ada benarnya, pembenci adalah penggemar tulisan kita yang malu mengakui saja. Mari terus berpikiran positif terhadap orang lain. Jangan merusak hati kita dengan anggapan-anggapan buruk terhadap pembenci. Jika kita terus berbuat baik dan produktif berkarya, maka kelak mereka akan dapat menilai sendiri. Mereka akan tahu bahwa karya sastra yang kita hasilkan layak untuk dibaca.  Jangan habiskan waktu kita untuk mengurusi komentar pedas dari mulut mereka, jika sekarang mereka menertawakan karyamu, suatu saat kamu juga berhak menertawakan mereka karena tidak menghasilkan satu karya pun. Salam semangat!

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar