Antara Pembaca dan Pembenci
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengutip
kalimat dari penulis novel Jus Alpukat; Win R.G, beliau pernah mengatakan bahwa
penulis itu kerjanya hanya menulis dan menyelesaikan tulisan. Ketika tulisan
telah selesai dan melemparkannya kepada pembaca, maka tugas penulis itu telah
selesai. Bagaimanapun tanggapan pembaca tentang tulisan kita, itu bukanlah
menjadi urusan kita. Sebab penulis hanya bertanggung jawab dalam menulis.
Urusan pembaca suka atau tidak suka terhadap tulisan kita, itu adalah
sepenuhnya hak mereka.
Pembaca
yang baik tentu menilai suatu karya sastra secara objektif. Maksudnya adalah
menilai dengan cara membaca secara langsung karya sastra itu, kemudian
memahaminya. Namun yang terjadi sekarang adalah kebanyakan dari pembaca lebih
condong menilai suatu karya sastra secara subjektif. Misal, ketika mereka
menyukai seorang penulis atau mengidolakan seorang penulis. Mereka akan
cenderung menyukai sekalipun tulisan yang dihasilkan penulis tersebut adalah
kurang baik.
Kecenderungan
ini terjadi karena pembaca telah sepenuhnya percaya terhadap apapun yang
dituliskan oleh penulis tersebut. Dalam meresensi sebuah buku atau novel pun
kita cenderung memilih bacaan yang sesuai dengan selera kita untuk diresensi.
Kebanyakan resensi yang kita lakukan adalah buku dan novel karya penulis
favorit kita.
Jika
resensi dilakukan untuk menilai kualitas suatu buku dengan cara yang baik,
yakni dengan membaca keseluruhan isi buku terlebih dahulu, maka semua pendapat
pembaca mengenai buku tersebut adalah sah untuk diterima. Lain halnya dengan
yang ditemukan pada saat sekarang ini. Pembaca lebih suka menilai secara
objektif. Pembaca lebih mudah terhasut oleh anggapan teman yang mengatakan
bahwa buku atau novel dengan judul X tidak enak untuk dinikmati.
Ini
adalah hal keliru. Jika kita menjadi pembaca yang baik, tentunya kita tidak
termakan omongan teman yang mengatakan ini-itu terhadap suatu karya sastra.
Bijaklah dalam menilai, contoh dengan membaca isi buku tersebut. Setelah itu,
barulah kita bisa berkomentar. Jenis pembaca lainnya adalah pembaca yang
ikut-ikutan membenci suatu karya sastra atau tulisan dari seorang penulis. Mereka
bukan saja membenci karyanya, namun turut membenci penulisnya.
Ini
juga suatu hal yang saya rasa keliru. penilaian subjektif memang tak dapat
terlepas dari diri manusia. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti
mengenal dekat seseorang itu, mengetahui kepribadiannya, atau menilai dari
bisik-bisik orang lain.
Pembaca
nakal seperti ini bisa menjelma menjadi pembenci. Apa pun yang ditulis oleh
salah sastrawan yang memang sudah tidak disukainya, maka seseorang itu tetap
tak akan suka dengan berbagai alasan. Mereka akan tetap menilai karya kita
sebagai sesuatu yang buruk dan tak layak baca. Saya sendiri pernah mengalami
hal serupa ketika menghadapi suatu masalah dalam dunia literasi.
Pembenci
seperti ini sebenarnya tak tahu benar apa yang yang sedang ia benci. Ia tak
punya alasan pasti mengenai alasan jika ditanyakan. Ketika seorang penulis
mendapati suatu masalah, dan masalah tersebut terlalu di blow up, saya rasa
akan banyak pembenci yang bermunculan. Pembenci-pembenci dadakan ini memiliki
kemungkinan memanfaatkan situasi yang tengah memanas.
Suka
menjelekkan padahal tidak tahu apa yang dijelekkan. Suka berkomentar kasar
tentang tulisan seseorang padahal tidak mengerti apa yang dikomentarin. Suka
menghujat dan menghina hanya karena ikut-ikutan. Pembenci hanya tidak tahu
bagaimana menempatkan cinta dan rasa peduli di dalam hati. Tidak paham
menghargai karya orang lain. Dan tidak pernah terima untuk dinasehati.
Pembaca
dan pembenci seperti dua sisi logam. Di dunia literasi tentu akan ada yang
mengaku pro dan kontra. Merupakan hal yang wajar jika ada yang suka dan
menyenangi tulisan kita, dan sebaliknya juga. Pasti ada yang membenci atau
tidak menyukai tulisan kita. Tulisan saya kali ini saya tujukan untuk
menyemangati penulis-penulis yang punya pembenci dengan alasan yang tidak
jelas.
Pembenci
adalah seseorang yang tidak mampu menjadi seperti kita. Barangkali mereka
menilai tulisan kita adalah bagus, namun tidak bisa mengungkapkannya dengan
cara yang lebih baik. Saya sangat setuju dengan kalimat yang sering dilontarkan
oleh penulis novel Raksasa dari Jogja yakni Dwitasari, beliau mengatakan bahwa
pembencimu adalah penggemarmu nomor satu.
Kalimat
tersebut ada benarnya, pembenci adalah penggemar tulisan kita yang malu
mengakui saja. Mari terus berpikiran positif terhadap orang lain. Jangan
merusak hati kita dengan anggapan-anggapan buruk terhadap pembenci. Jika kita
terus berbuat baik dan produktif berkarya, maka kelak mereka akan dapat menilai
sendiri. Mereka akan tahu bahwa karya sastra yang kita hasilkan layak untuk
dibaca. Jangan habiskan waktu kita untuk
mengurusi komentar pedas dari mulut mereka, jika sekarang mereka menertawakan
karyamu, suatu saat kamu juga berhak menertawakan mereka karena tidak
menghasilkan satu karya pun. Salam semangat!
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar