Hampir satu jam Angel mematut dirinya di cermin.
Mengamati wajahnya dengan khidmat. Berulang kali memajukan bibirnya, sambil
mengerjapkan mata berkali-kali. “Bedak udah, lipstick udah, blush on
udah, eye shadow udah, maskara udah,
bulu mata udah, semua udah..” katanya girang sambil sekali lagi melirik ke
cermin. Tidak lupa Angel mengambil foto selfie-nya satu kali sebelum keluar
dari kamar.
Dia berjalan riang menuju meja makan sambil
membayangkan bagaimana ekspresi teman-teman sekolahnya melihat penampilannya
yang spekta hari ini. “Pagi, Ma..” sapanya seraya mencomot roti isi yang sudah
tersedia di atas meja makan. Mama shock
berat melihat penampilan Angel hari ini. “Kamu mau kemana?” Tanya mama bingung.
“Ya, mau sekolah lah, Ma. Masak mau berkuda,” jawabnya santai.
“I.. itu.. kenapa muka kamu full make up begitu?” pertanyaan mama benar-benar nggak santai.
“Ini namanya gaya baru, Ma. Kayak
artis-artis yang ada di film-film itu, loh. Ih, mama gak update deh,” Angel masih terus mengunyah roti isinya. “Kamu yakin
mau ke sekolah dengan wajah seperti itu?” Tanya mama lagi, masih dengan nada
nggak santai. Angel mengangguk mantap. “Nggak takut diketawain teman-teman?”
Mama memperhatikan wajah Angel sekali lagi. Angel tak sempat menjawab
pertanyaan mamanya begitu mendengar suara klakson mobil dari arah depan. Itu
pasti Olin.
Ekspresi shock
berat pun ditunjukkan Olin ketika Angel masuk ke dalam mobilnya. Bahkan kali
ini, Olin tertawa sampai mengeluarkan air mata. “Hey, kamu sakit? Sini, sini..
coba aku cek!” Olin masih tertawa sambil mendekatkan telapak tangannya ke dahi
Angel. Merasa tak terima, Angel menjitak kepala Olin pelan. “Kenapa dandan
semenor ini? Kamu lagi jatuh cinta? Atau cermin di rumahmu lagi rusak semua?”
Olin mengelap ujung matanya yang basah. Perutnya mendadak sakit menerima
lelucon tak terduga dari Angel.
“Apaan sih? Kamu ini kudet banget deh. Ini kan biasa
banget digunakan sama artis-artis yang ada di film-film itu,” Angel memberi
pembelaan. “Hello, Nona Angel.. emangnya kamu artis? Pake mau disamain segala
sama mereka. Gak cocok kali, Ngel,” terang Olin. “Sirik aja, deh! Gak ada yang
ngebedain kita sama mereka. Kan sama-sama makan nasi, sama-sama minum air,
sama-sama menghirup oksigen. Kecuali kalau mereka makannya besi, minumnya air tajin, sama yang dihirup itu
hydrogen. Itu baru beda!” terang Angel gak mau kalah.
Olin mendadak mual mendengar penjelasan Angel.
Sahabatnya satu ini memang sedikit berbeda dari makhluk hidup kebanyakan.
Paling keras kepala dan gak peduli dengan penilaian orang lain. Tapi untuk kasus
ini jelas kacau sekali kalau sampai Angel tetap mempertahankan sikapnya itu.
Bisa-bisa, dia jadi bahan ledekan teman-teman satu sekolah.
Mobil mereka mendarat dengan anggun di pelataran
sekolah. Angel dengan penuh percaya diri keluar dari mobil, sementara Olin
bersiap menutup wajah dengan sapu tangannya. “Hey, Lin. Ke sekolah kok bawa
dakocan, sih?” ledek Astria ketika melintas di depan mereka. Angel langsung
melotot mendengar ucapan gadis berambut blonde
itu. Segera Olin menyeret Angel ke kelas, sebelum pagi itu terjadi
pertumpahan darah antara Angel dan Astria.
*
* *
Kelas sudah di mulai beberapa menit lalu. Bu Mia
memasuki kelas dengan membawa sejumlah buku tebal sebagai sarana menyampaikan
materi Biologi pagi itu. Namun, tiba-tiba beliau memanggil nama Angel dengan
keras dari arah depan. “Angeeelll!!!” yang dipanggil seketika pucat pasi
mendengar suara Bu Mia yang lebih terdengar seperti teriakan. Untung nggak ada
tali di sini, kalau ada mungkin Bu Mia sudah sambil gelayutan.
Angel maju ke depan kelas. “Wajah kamu kenapa, hah?”
Tanya Bu Mia marah. “Hmm.. emangnya wajah saya kenapa, Bu?” Angel malah balik
bertanya. “Kamu pikir ini lucu? Ke sekolah dengan dandanan berlebihan seperti
ini. Kamu ini mau sekolah, bukan kondangan!” Bu Mia memegang kepalanya yang
mendadak pusing. “Tapi, kan, Bu. Ini...” Angel mencoba menjelaskan. “Cukup,
Angel. Sekarang kamu pergi ke toilet dan bersihkan wajahmu sekarang juga.
Jangan masuk kelas saya sebelum wajah kamu kembali normal!” Bu Mia menyilakan
Angel ke luar. Emangnya wajah saya
sekarang gak normal? Keluh Angel dalam hati.
“Tapi, Buuu.. saya sudah bekerja keras memakai ini
semua dari jam 5 pagi. Masa ibu tega nyuruh saya menghapus semuanya?” Angel
memasang wajah super melas. “Saya nggak peduli, Angel. Sekarang cepat kamu bersihkan,
atau kamu tidak boleh mengikuti mata pelajaran saya!” tegas Bu Mia. Tak ada
pilihan, Angel akhirnya mengalah. Ke luar kelas dengan perasaan jengkel
setengah mati. Sambil mengumpat dalam hati, Angel menghapus wajahnya dengan
tisu basah.
*
* *
Minggu sore, Angel kembali berbelanja kebutuhan make up nya yang mulai menipis. Meski
diledekin dan sering kena tegur guru-guru di sekolahan, Angel sama sekali nggak
kapok memakai make up super tebal ke
sekolah. Menurutnya itu biasa saja. Berulang kali mama dan Olin menasehati,
tetap saja tidak menyurutkan langkah Angel untuk terlihat cantik di depan
teman-teman.
Angel melihat-lihat lipstick yang ada di etalase kaca sebuah mall. Keranjang yang dijinjingnya telah terisi dengan peralatan make up, seperti bedak padat, maskara, eye liner, pembersih wajah, foundation, lipbalm, dan masker pencerah
kulit. Sekarang, dia kebingungan sendiri memilih jenis lipstick yang mana yang cocok untuk wajahnya.
Seorang SPG yang berdiri tak jauh dari etalase kaca
itu mendekati Angel. Barangkali ia mengira Angel membutuhkan bantuannya, sebab
sejak tadi ia melihat Angel tak kunjung menentukan pilihan lipstick yang hendak dibeli.
“Permisi, Dik. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya
ramah. Angel tersenyum, “Oh, begini, Mbak. Saya ingin mencari lipstick yang cocok untuk...” belum
sempat Angel menyelesaikan kalimatnya, si Mbak SPG sudah memotong, “Untuk
siapa, Dik? Untuk mamanya, ya? Kalau boleh tahu usia mamanya berapa? Biar saya
carikan warna yang pas,” Si SPG menunggu jawaban Angel.
“Bukan buat mama saya, Mbak. Tapi buat saya!” Angel
menjawab dengan nada kesal. Si SPG pun cukup kaget mendengar ucapan Angel. Anak
sekolah yang kira-kira masih berusia 16 tahun ini, beli kosmetik sebanyak ini?
Si SPG melirik keranjang belanjaan Angel. Dunia benar-benar sudah gila. Angel
meninggalkan SPG itu dengen jengkel. Nggak jadi beli.
* * *
Pagi itu, suasana rumah dikejutkan dengan suara
teriakan Angel dari dalam kamar. Padahal jam masih menunjukkan pukul 05.30
pagi.
“Mamaaaaa......” Teriak angel histeris.
Mama kaget dan langsung berlari menuju kamar Angel
bersama Dino, adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP. “Ada apa, sih?
Pagi-pagi udah teriak-teriak gitu?” mama membuka pintu kamar Angel tergesa.
Angel tampak sesenggukan menutupi wajahnya yang menghadap ke meja riasnya. Mama
bingung dengan apa yang terjadi.
“Kenapa, Sayang. Kok nangis gitu? Ayo, cerita ke
mama,” bujuk mamanya pelan.
Angel memutar tubuhnya menghadap mama. Dan dalam
hitungan detik, Dino, adik Angel sudah ngakak parah. “Hahaha.. Kak angel
jerawatan. Tuh, tuh.. banyak banget lagi. Satu, dua, tiga, lima...” Dino
menutup mulutnya ketika mama memelototinya. Dia masih terkikik geli sambil
memegangi perut.
“Maaa.. muka aku...” Angel menangis tersedu.
“Sudah.. sudah.. inilah akibatnya kalau kamu nggak
mau nurutin nasehat mama dan Olin. Kulit wajah kamu itu masih sensitif, Sayang.
Nggak cocok kalau harus dicekokin kosmetik ini-itu di kulit wajahmu. Ya,
jadinya begini deh,” Mama memeluk Angel, menenangkannya.
Angel masih tersedu di pelukan mama, “Pokoknya aku
gak mau sekolah sebelum jerawat-jerawat ini pergiii!” rengek Angel. Mama hanya
tersenyum mendengar omelannya. Puas menangis, Angel kembali meratapi wajahnya
di cermin. Lihatlah, jerawat-jerawat itu mulai berkembangbiak di wajah cantiknya.
Di hidung, di bawah bibir, di dahi, juga di kedua pipinya. Angel mengutuk
dirinya sendiri yang terlalu ceroboh menggunakan kosmetik secara berlebihan.
Dalam hati dia berjanji, akan membakar habis semua kosmetik-kosmetik ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar