Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Perempuan yang Mengintipku dari Surga (Terbit 26 Februari 2017, Harian Medan Pos)

Apa yang bisa aku lakukan jika di pagi hari aku rindu teriakan Mama membangunkanku? Apa yang bisa aku lakukan jika di siang hari aku lapar dan rindu sayur racikan tanganmu? Apa yang bisa aku lakukan jika di malam hari aku rindu belaian tanganmu di kepalaku? Apa yang bisa aku lakukan jika rindu ini dengan jahatnya mengoyak-ngoyak perasaanku, membuatnya berdarah-darah, padahal dia tahu bahwa bertemu dengan Mama adalah sebuah kemustahilan untuk saat ini. Tak akan pernah ada pertemuan sekeras apa pun usahaku. Tak akan pernah, sebelum tiba masa itu.
Kepada Mama, perempuan yang kupinjam rahimnya untuk dapat melihat dunia,
Enam tahun bukanlah waktu singkat untukku dapat berdiri lagi. Nyatanya, aku masih rapuh hidup tanpa Mama di sisiku. Aku selalu rindu kamu, Ma. Rindu memelukmu, menciummu, bergelayut manja di bahumu, juga ingin merasakan kembali sentuhan hangat tanganmu ketika menyusuri rambut panjangku. Terlalu banyak kisah yang ingin kuceritakan padamu, bahkan dalam sholat lima waktu saja pun, tak habis cerita itu kubagi dalam doaku. Semuanya jelas tak lagi sama saat kau masih ada di sini. Semuanya berbeda, benar-benar berbeda.
Kakiku tak terlalu kuat untuk bisa berjalan sendiri. Pun hatiku yang tak terlalu hebat menerima kenyataan ini. Aku patah hati saat 16 Juni 2010 lalu, saat aku mendapati kenyataan kau harus pergi menuju Tuhan. Kau pergi seorang diri. Benar-benar sendiri. tidak seperti biasa, yang ketika akan pergi, kau selalu mengajakku. Aku tak bisa ikut denganmu kali ini, Ma. Sebab waktuku untuk pergi belum tiba. Tuhan belum mengizinkannya.
Kepada Mama yang dari cintanya-lah aku ada,
Ketahuilah, Ma, bahwa aku belum pernah merasakan sakit seperti saat kehilanganmu. Bahwa dari kepergianmulah aku tahu esensi sakit yang sesungguhnya. Semua begitu sulit kuterima. Menjalani hari tanpa melihat sosokmu, mendengar omelanmu, juga tawa khasmu. Masa-masa sulit itu telah usai, Ma. Meski kenangan tentangmu takkan pernah selesai.
Mereka bilang aku tegar dan tabah, padahal aku rajin menangis ketika ingat Mama. Aku tahu ini tidak mudah. Saat Tuhan dengan tega memisahkan jasad kita. Saat Tuhan telah menjauhkan sumber kebahagiaanku di tempat yang begitu sulit kudatangi. Ma, andai aku punya kesempatan satu kali saja, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak mampu jauh darimu. Enam tahun tanpamu masih belum bisa membuatku berdiri di atas kakiku sendiri. Setiap langkah yang kuayuhkan masih saja terngiang tentang dirimu.
Kepada Mama yang tak pernah sepi omelannya,
Aku masih menjadi gadis kecilmu yang keras kepala. Yang barang sedetik pun tak pernah mau jauh darimu. Yang bahkan sekolah pun masih kau antar-jemput dulu. Yang sarapan pun masih saja kau sediakan. Yang tugas sekolah pun masih saja kau bantu kerjakan. Yang ketika bahagia selalu mencari Mama. Yang ketika sedih pun masih tidur di pangkuanmu, Ma. Lalu aku bisa apa tanpa Mama? Bahkan teman-teman terbaik pun tak dapat memenuhi ruang kosong di hatiku karena kehilanganmu.
Aku benci ketika Mama harus pergi. Padahal ketika itu Mama berjanji akan sembuh sebelum pembagian raport-ku minggu depan. Mama berjanji akan datang dan mengambil raport-ku seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kenyataannya, Mama tak pernah bangun dari tidurnya. Mama tidur selamanya dan membiarkan aku menghadapi semuanya. Raport itu tak bisa lagi diambil Mama, melainkan aku sendiri yang mengambilnya. Tanpa Mama, seperti teman-temanku yang lainnya.
Tahukah kamu, Ma… perasaanku hancur saat sekembalinya dari sekolah. Tak ada lagi Mama yang menyambut raport-ku dengan bangga. Tak ada lagi Mama yang menelepon Ayah dan memberitahukan bahwa aku juara. Tak ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang kusuka seperti dulu. Yang kudapati hanya rumah yang kosong dengan foto manis Mama di meja itu. Aku menangis, tentu saja. Sebab, saat itu aku belum menjadi gadis kuat yang tahu caranya menahan air mata. Dan gumpalan kesedihan selalu menyeruak tiap kali itu berurusan dengan namamu, Ma.
Kepada Mama yang cantik dengan rambut ikalnya,
Aku selalu ingat tiap kenangan tentang kita yang kau goreskan dalam kanvas kehidupanku, meski hanya 14 tahun. Tentang Mama yang mengenalkanku pada hujan, sesuatu yang sangat aku cinta saat ini. Aku masih sangat ingat, ketika dulu kau menjemputku hujan-hujanan ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah bukanlah dekat, 9 km yang kau tempuh dengan sepeda motor dan jas hujan. Setelah sebelumnya kau meneleponku dan berpesan, “Jangan kemana-mana ya, Nak. Mama sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Jaketnya dipakai, jangan  sampai kedinginan.
Ma, meski dulu aku sangat takut dengan hujan dan gelegar petirnya, mendengar suaramu dengan nasihat hangat itu sungguh sangat menenangkanku. Kukenakan jaket merah jambu yang saat itu selalu kau siapkan di tasku ketika musim hujan tiba. Saat itu aku masih kelas 1 SMP. Dan aku benci hujan tanpa Mama di sampingku.
Setelahnya kita hujan-hujanan menuju rumah. Basah kuyup? Tentu saja. Tapi aku tidak kedinginan sebab ada Mama di sini. Sampai di rumah, Mama bukan malah berganti pakaian yang basah, namun langsung beranjak ke dapur membuatkanku segelas susu coklat. Dan hey, di tangan kirimu sudah ada minyak kayu putih yang harumnya sangat kusukai. Saat hujan begini, susu coklat dan aroma minyak kayu putih adalah favoritku. Mama tahu sekali soal itu.
Tuhan, aku merasa beruntung menjadi anak Mama. Perempuan baik yang memperlakukanku begitu istimewa. Aku masih sangat ingat kejadian itu, Ma. Meski sekarang aku sudah berteman baik dengan hujan. Kenangan bersama Mama-lah yang membuatku mencintai hujan.
Kepada Mama yang suka bercanda,
Aku rindu kamu dengan segenap rasa. Rindu celotehanmu tentang masa depan yang indah. Rindu menikmati senja dengan segelas teh bersama kakak dan ayah. Rindu leluconmu yang kerap mengundang tawa. Tidak jarang kau menggodaku hingga aku marah, namun detik berikutnya kau memelukku erat dan mencium poniku gemas. Aku sayang kamu, Ma. Marahku itu tak pernah lebih besar dari rasa cintaku. Marahku itu adalah rajukan anak kecil yang ingin dipeluk dan dicium. Dan aku selalu berhasil untuk yang satu itu. Aku selalu berhasil mendapatkan keduanya darimu, Mama terhebat sepanjang masa.
Kepada Mama yang kini mengintipku dari surga,
Sekarang aku sudah besar, Ma. Sudah jarang menangis untuk hal-hal sepele. Tidak seperti dulu, yang kehilangan novel saja sudah mewek nggak karuan. Sekarang aku sudah bisa memasak, Ma. Masak apa saja aku bisa. Mama mau apa? Capcai bakso, soto tahu, sup ayam, cah kangkung, atau telur balado, apa saja yang Mama mau sekarang aku bisa memasakkannya untuk Mama. Aku juga sudah bisa jajan dari uang hasil keringatku sendiri, Ma. Sekarang aku suka menulis dan mengirimkannya ke media cetak. Setiap kali terbit aku selalu mendapat honor, Ma. Lumayanlah untuk beli pulsa, makan es krim, atau beli novel baru.
Terima kasih ya, Ma. Bakat menulisku ini pasti diturunkan dari Mama. Sebab aku pernah membaca tulisan-tulisan indahmu di diary masa sekolahmu dulu. Sekarang aku juga sudah kuliah, Ma. Semester 5 tepatnya. Indeks prestasiku juga tidak buruk-buruk sekali. Masih aman di posisi 3,5 ke atas. Mama bangga padaku, kan? Gadis keras kepala Mama masih pintar seperti dulu. Meski belajarnya sering ngawur dan jeweran Mama tak pernah akur dengan telingaku.
Aku jadi ingat saat ketika itu ada mata kuliah Kajian Puisi. Dosen cantik berjilbab putih yang menjadi idolaku di kampus memberi tugas membuat sebuah puisi bertema bebas. Dalam waktu 10 menit, aku bisa merampungkan puisi itu dengan baik, Ma. Puisi yang sajak-sajaknya aku tulis saja tentangmu. Tentang kau yang selalu kudoakan di atas sajadah. Tentang kau dan kekhusnul-khotimahanmu waktu itu. Tentang kesakitanku di awal-awal kepergianmu. Juga tentang caraku belajar menerima ketentuan Tuhan.
Aku mendapat kesempatan membacakan puisi itu di depan teman-teman, Ma. Tahukah Mama, bahwa aku harus berusaha keras menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Suaraku sudah bergetar, dan aku rasa teman-teman tahu itu. Tapi aku memilih tetap melanjutkan membacanya hingga selesai. Aku hanya ingin teman-teman tahu, bahwa aku punya Mama yang hebat sampai akhir hayatnya. Mama yang tetap tersenyum bahkan di detik-detik kepergiannya.
Selain sibuk kuliah dan menulis, aku juga sibuk membahagiakan Ayah, Ma. Sibuk menjaga dan membuatnya bangga. Lelaki tampan yang sangat kau cintai itu pasti akan aku jaga dengan baik, Ma. Meski pun masih sering aku membuatnya kesal dan mengomel kecil, tapi sama seperti Mama, Ilham, dan Kak Devian, aku juga sayang sekali sama Ayah.
Kepada Mama yang kerap kuhadiahi Alfatihah,
Kepergian Mama adalah pukulan hebat dalam hidupku. Awalnya aku tidak tahu apakah masih bisa menjalani hidup seperti biasa layaknya dulu ketika ada Mama di sampingku. Beberapa bulan awal kepergianmu, aku bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum. Aku pun lupa bagaimana caranya menjadi bahagia. Tapi setelahnya aku berpikir, pasti Mama tidak suka. Bukankah semua yang hidup kelak juga akan mati? Ini proses kehidupan. Dan aku tidak bisa menolak takdir Tuhan.
Jika saja mampu, aku yakin Mama akan menjewerku karena bertingkah keras kepala seperti ini. Sebab itulah aku memilih bangkit dan menerima semuanya dengan perasaan yang lebih bahagia. Mama pergi hanya karena kangen Tuhan. Atau sebaliknya, Tuhan yang kangen Mama. Entahlah, mungkin kelak Mama dan Tuhan juga bakalan kangen aku. Dan aku bisa bertemu kembali dengan Mama di surga.
Kepada Mama yang selalu kukecup dalam doa,

Ketahuilah, Ma.. bahwa namamu adalah diksi terindah yang pernah ada. Kisahmu adalah inspirasi yang tak pernah mati. Dan segala tentangmu adalah gemuruh rindu paling syahdu. Sehat-sehatlah di surga. Tunggu Nanda sampai Tuhan berkata “saatnya tiba.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar