Apa
yang bisa aku lakukan jika di pagi hari aku rindu teriakan Mama membangunkanku?
Apa yang bisa aku lakukan jika di siang hari aku lapar dan rindu sayur racikan
tanganmu? Apa yang bisa aku lakukan jika di malam hari aku rindu belaian
tanganmu di kepalaku? Apa yang bisa aku lakukan jika rindu ini dengan jahatnya
mengoyak-ngoyak perasaanku, membuatnya berdarah-darah, padahal dia tahu bahwa
bertemu dengan Mama adalah sebuah kemustahilan untuk saat ini. Tak akan pernah
ada pertemuan sekeras apa pun usahaku. Tak akan pernah, sebelum tiba masa itu.
Kepada
Mama, perempuan yang kupinjam rahimnya untuk dapat melihat dunia,
Enam
tahun bukanlah waktu singkat untukku dapat berdiri lagi. Nyatanya, aku masih
rapuh hidup tanpa Mama di sisiku. Aku selalu rindu kamu, Ma. Rindu memelukmu,
menciummu, bergelayut manja di bahumu, juga ingin merasakan kembali sentuhan
hangat tanganmu ketika menyusuri rambut panjangku. Terlalu banyak kisah yang
ingin kuceritakan padamu, bahkan dalam sholat lima waktu saja pun, tak habis
cerita itu kubagi dalam doaku. Semuanya jelas tak lagi sama saat kau masih ada
di sini. Semuanya berbeda, benar-benar berbeda.
Kakiku
tak terlalu kuat untuk bisa berjalan sendiri. Pun hatiku yang tak terlalu hebat
menerima kenyataan ini. Aku patah hati saat 16 Juni 2010 lalu, saat aku
mendapati kenyataan kau harus pergi menuju Tuhan. Kau pergi seorang diri. Benar-benar sendiri. tidak seperti biasa, yang
ketika akan pergi, kau selalu mengajakku. Aku tak bisa ikut denganmu kali ini,
Ma. Sebab waktuku untuk pergi belum
tiba. Tuhan belum mengizinkannya.
Kepada
Mama yang dari cintanya-lah aku ada,
Ketahuilah,
Ma, bahwa aku belum pernah merasakan sakit seperti saat kehilanganmu. Bahwa
dari kepergianmulah aku tahu esensi sakit yang sesungguhnya. Semua begitu sulit
kuterima. Menjalani hari tanpa melihat sosokmu, mendengar omelanmu, juga tawa
khasmu. Masa-masa sulit itu telah usai, Ma. Meski kenangan tentangmu takkan
pernah selesai.
Mereka
bilang aku tegar dan tabah, padahal aku rajin menangis ketika ingat Mama. Aku
tahu ini tidak mudah. Saat Tuhan dengan tega memisahkan jasad kita. Saat Tuhan
telah menjauhkan sumber kebahagiaanku di tempat yang begitu sulit kudatangi. Ma,
andai aku punya kesempatan satu kali saja, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku
tidak mampu jauh darimu. Enam tahun tanpamu masih belum bisa membuatku berdiri
di atas kakiku sendiri. Setiap langkah yang kuayuhkan masih saja terngiang tentang
dirimu.
Kepada
Mama yang tak pernah sepi omelannya,
Aku
masih menjadi gadis kecilmu yang keras kepala. Yang barang sedetik pun tak
pernah mau jauh darimu. Yang bahkan sekolah pun masih kau antar-jemput dulu.
Yang sarapan pun masih saja kau sediakan. Yang tugas sekolah pun masih saja kau
bantu kerjakan. Yang ketika bahagia selalu mencari Mama. Yang ketika sedih pun
masih tidur di pangkuanmu, Ma. Lalu aku bisa apa tanpa Mama? Bahkan teman-teman
terbaik pun tak dapat memenuhi ruang kosong di hatiku karena kehilanganmu.
Aku
benci ketika Mama harus pergi. Padahal ketika itu Mama berjanji akan sembuh
sebelum pembagian raport-ku minggu depan. Mama berjanji akan datang dan
mengambil raport-ku seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kenyataannya, Mama tak
pernah bangun dari tidurnya. Mama tidur selamanya dan membiarkan aku menghadapi
semuanya. Raport itu tak bisa lagi diambil Mama, melainkan aku sendiri yang
mengambilnya. Tanpa Mama, seperti teman-temanku yang lainnya.
Tahukah
kamu, Ma… perasaanku hancur saat sekembalinya dari sekolah. Tak ada lagi Mama
yang menyambut raport-ku dengan bangga. Tak ada lagi Mama yang menelepon Ayah
dan memberitahukan bahwa aku juara. Tak ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang
kusuka seperti dulu. Yang kudapati hanya rumah yang kosong dengan foto manis
Mama di meja itu. Aku menangis, tentu saja. Sebab, saat itu aku belum menjadi
gadis kuat yang tahu caranya menahan air mata. Dan gumpalan kesedihan selalu
menyeruak tiap kali itu berurusan dengan namamu, Ma.
Kepada
Mama yang cantik dengan rambut ikalnya,
Aku
selalu ingat tiap kenangan tentang kita yang kau goreskan dalam kanvas
kehidupanku, meski hanya 14 tahun. Tentang Mama yang mengenalkanku pada hujan,
sesuatu yang sangat aku cinta saat ini. Aku masih sangat ingat, ketika dulu kau
menjemputku hujan-hujanan ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah bukanlah
dekat, 9 km yang kau tempuh dengan sepeda motor dan jas hujan. Setelah
sebelumnya kau meneleponku dan berpesan, “Jangan
kemana-mana ya, Nak. Mama sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Jaketnya
dipakai, jangan sampai kedinginan.”
Ma,
meski dulu aku sangat takut dengan hujan dan gelegar petirnya, mendengar
suaramu dengan nasihat hangat itu sungguh sangat menenangkanku. Kukenakan jaket
merah jambu yang saat itu selalu kau siapkan di tasku ketika musim hujan tiba.
Saat itu aku masih kelas 1 SMP. Dan aku benci hujan tanpa Mama di sampingku.
Setelahnya
kita hujan-hujanan menuju rumah. Basah kuyup? Tentu saja. Tapi aku tidak
kedinginan sebab ada Mama di sini. Sampai di rumah, Mama bukan malah berganti
pakaian yang basah, namun langsung beranjak ke dapur membuatkanku segelas susu
coklat. Dan hey, di tangan kirimu sudah ada minyak kayu putih yang harumnya
sangat kusukai. Saat hujan begini, susu coklat dan aroma minyak kayu putih
adalah favoritku. Mama tahu sekali soal itu.
Tuhan,
aku merasa beruntung menjadi anak Mama. Perempuan baik yang memperlakukanku
begitu istimewa. Aku masih sangat ingat kejadian itu, Ma. Meski sekarang aku
sudah berteman baik dengan hujan. Kenangan bersama Mama-lah yang membuatku
mencintai hujan.
Kepada
Mama yang suka bercanda,
Aku
rindu kamu dengan segenap rasa. Rindu celotehanmu tentang masa depan yang indah.
Rindu menikmati senja dengan segelas teh bersama kakak dan ayah. Rindu
leluconmu yang kerap mengundang tawa. Tidak jarang kau menggodaku hingga aku
marah, namun detik berikutnya kau memelukku erat dan mencium poniku gemas. Aku
sayang kamu, Ma. Marahku itu tak pernah lebih besar dari rasa cintaku. Marahku
itu adalah rajukan anak kecil yang ingin dipeluk dan dicium. Dan aku selalu
berhasil untuk yang satu itu. Aku selalu berhasil mendapatkan keduanya darimu,
Mama terhebat sepanjang masa.
Kepada
Mama yang kini mengintipku dari surga,
Sekarang
aku sudah besar, Ma. Sudah jarang menangis untuk hal-hal sepele. Tidak seperti
dulu, yang kehilangan novel saja sudah mewek nggak karuan. Sekarang aku sudah
bisa memasak, Ma. Masak apa saja aku bisa. Mama mau apa? Capcai bakso, soto
tahu, sup ayam, cah kangkung, atau telur balado, apa saja yang Mama mau
sekarang aku bisa memasakkannya untuk Mama. Aku juga sudah bisa jajan dari uang
hasil keringatku sendiri, Ma. Sekarang aku suka menulis dan mengirimkannya ke
media cetak. Setiap kali terbit aku selalu mendapat honor, Ma. Lumayanlah untuk
beli pulsa, makan es krim, atau beli novel baru.
Terima
kasih ya, Ma. Bakat menulisku ini pasti diturunkan dari Mama. Sebab aku pernah
membaca tulisan-tulisan indahmu di diary masa sekolahmu dulu. Sekarang aku juga
sudah kuliah, Ma. Semester 5 tepatnya. Indeks prestasiku juga tidak buruk-buruk
sekali. Masih aman di posisi 3,5 ke atas. Mama bangga padaku, kan? Gadis keras
kepala Mama masih pintar seperti dulu. Meski belajarnya sering ngawur dan
jeweran Mama tak pernah akur dengan telingaku.
Aku
jadi ingat saat ketika itu ada mata kuliah Kajian Puisi. Dosen cantik berjilbab
putih yang menjadi idolaku di kampus memberi tugas membuat sebuah puisi bertema
bebas. Dalam waktu 10 menit, aku bisa merampungkan puisi itu dengan baik, Ma.
Puisi yang sajak-sajaknya aku tulis saja tentangmu. Tentang kau yang selalu
kudoakan di atas sajadah. Tentang kau dan kekhusnul-khotimahanmu waktu itu. Tentang
kesakitanku di awal-awal kepergianmu. Juga tentang caraku belajar menerima
ketentuan Tuhan.
Aku
mendapat kesempatan membacakan puisi itu di depan teman-teman, Ma. Tahukah
Mama, bahwa aku harus berusaha keras menahan air mata yang mendesak ingin
keluar. Suaraku sudah bergetar, dan aku rasa teman-teman tahu itu. Tapi aku
memilih tetap melanjutkan membacanya hingga selesai. Aku hanya ingin
teman-teman tahu, bahwa aku punya Mama yang hebat sampai akhir hayatnya. Mama
yang tetap tersenyum bahkan di detik-detik kepergiannya.
Selain
sibuk kuliah dan menulis, aku juga sibuk membahagiakan Ayah, Ma. Sibuk menjaga
dan membuatnya bangga. Lelaki tampan yang sangat kau cintai itu pasti akan aku
jaga dengan baik, Ma. Meski pun masih sering aku membuatnya kesal dan mengomel
kecil, tapi sama seperti Mama, Ilham, dan Kak Devian, aku juga sayang sekali
sama Ayah.
Kepada
Mama yang kerap kuhadiahi Alfatihah,
Kepergian
Mama adalah pukulan hebat dalam hidupku. Awalnya aku tidak tahu apakah masih
bisa menjalani hidup seperti biasa layaknya dulu ketika ada Mama di sampingku.
Beberapa bulan awal kepergianmu, aku bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum.
Aku pun lupa bagaimana caranya menjadi bahagia. Tapi setelahnya aku berpikir,
pasti Mama tidak suka. Bukankah semua yang hidup kelak juga akan mati? Ini
proses kehidupan. Dan aku tidak bisa menolak takdir Tuhan.
Jika
saja mampu, aku yakin Mama akan menjewerku karena bertingkah keras kepala
seperti ini. Sebab itulah aku memilih bangkit dan menerima semuanya dengan
perasaan yang lebih bahagia. Mama pergi hanya karena kangen Tuhan. Atau
sebaliknya, Tuhan yang kangen Mama. Entahlah, mungkin kelak Mama dan Tuhan juga
bakalan kangen aku. Dan aku bisa bertemu kembali dengan Mama di surga.
Kepada
Mama yang selalu kukecup dalam doa,
Ketahuilah,
Ma.. bahwa namamu adalah diksi terindah yang pernah ada. Kisahmu adalah
inspirasi yang tak pernah mati. Dan segala tentangmu adalah gemuruh rindu
paling syahdu. Sehat-sehatlah di surga. Tunggu Nanda sampai Tuhan berkata
“saatnya tiba.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar