Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Romantisme Kopi dengan Penulis (Terbit 13 Januari 2017, Kabar Madura)

Romantisme Kopi dengan Penulis
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengapa penulis suka minum kopi? Mungkin itu salah satu alasan saya menuliskan ini. Pertanyaan itu bahkan saya lontarkan untuk diri saya sendiri. Sebab saya pun mencintai kopi seperti saya mencintai pena.  Bagi penulis seperti saya, kopi merupakan minuman wajib yang harus ada ketika akan mulai menulis. Satu gelas kopi adalah inspirasi terbaik dalam menciptakan satu buah tulisan hebat. Jika diamati, kebanyakan penulis besar juga punya hubungan baik dengan minuman beraroma khas satu ini.
Kopi selalu identik dengan dunia tulis menulis. Banyak rekan penulis yang mengaku jatuh cinta pada minuman berwarna pekat ini. Selain aromanya yang dapat menenangkan pikiran, kandungan kafeinnya pun dapat membantu meningkatkan konsentrasi, setidaknya begitu yang pernah saya dengar dari ayah saya. Tidak ada kopi sama dengan tidak ada tulisan hari ini. Jika ingin ditelisik lebih dalam, beberapa coffee shop pun lebih banyak dikunjungi oleh para penulis.
Di daerah kampus saya sendiri, ada sebuah warung kopi yang dibangun oleh anak-anak pecinta sastra. Sepertinya kopi dan sastra adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di sana mereka sering mengadakan musikalisasi puisi atau pembacaan puisi secara tunggal. Pengunjung juga boleh unjuk kebolehan jika berminat. Bahkan tidak sedikit penulis-penulis besar mengangkat tema tentang kopi, seperti yang dilakukan oleh Dee penulis novel Filosofi Kopi, yang juga telah tayang di layar lebar beberapa waktu lalu.
Beberapa alasan yang pernah dilontarkan oleh sebagian penulis tentang kopi adalah dengan mengkonsumsi minuman itu, mereka lebih bisa berkonsentrasi dalam menyelesaikan tulisannya. Selain itu, penulis yang mempunyai jadwal menulis pada tengah malam, mengaku suka dengan kopi karena bisa menghalau rasa kantuk yang berlebih. Sehingga mereka bisa menyelesaikan tulisannya dengan baik.
Secangkir kopi juga bisa membantu kita untuk lebih bersemangat. Menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan semangat tinggi. Tidak akan jadi suatu tulisan jika kita tergolong orang yang malas. Imajinasi akan terus lahir jika kita semangat menggali ide-ide yang bertebaran di sekitar kita. Peka terhadap suatu masalah dan sikap mau menerima merupakan hal terbaik dalam menciptakan ide.
Kopi juga membantu memperbaiki mood yang semula berantakan, menjadi rapi kembali. Kegiatan menulis yang terlihat begitu membosankan pun akan menjadi menyenangkan jika sambil menikmati secangkir kopi. Kopi adalah minuman penghasil imajinasi.
Meski kopi terdengar kontroversial, ada yang membahas sisi positif dan negatifnya, saya sendiri punya prinsip dalam menikmati kopi. Maksimal satu gelas sehari. Itu pun tidak terlalu sering, sebab segala sesuatu yang berlebihan jatuhnya tidak akan baik buat kesehatan. Menjadi penulis bukan berarti harus mencintai kopi. Banyak juga penulis yang tidak akrab dengan minuman satu ini. Semua kembali pada selera masing-masing saja.
 Dari teman penulis saya, saya mengetahui bahwa kafein yang terdapat dalam kopi dapat merangsang kreativitas seorang penulis. Mungkin itulah sebab mengapa banyak penulis atau editor sangat mencintai minuman satu ini. Selain sebagai penumbuh kreativitas, kopi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri kita sebagai seorang penulis. Meski tulisan yang dihasilkan kurang maksimal, namun ketika sudah ngopi, rasa malu, takut, dan tidak percaya diri akan hilang, berganti dengan rasa optimis bahwa pembaca akan menyukai tulisan kita.
Jika boleh mengutip artikel dari rezkyfirmansyah.com, beliau mengatakan bahwa ada banyak kesamaan antara penulis dengan kopi. Menurutnya, kopi dan tulisan yang nikmat itu selalu butuh waktu. Kopi yang nikmat tentu akan melewati sederet proses pengerjaan yang panjang, dari biji kopi sampai menjadi bubuk kopi yang siap dinikmati. Pun dengan tulisan, akan ada proses kreatif yang panjang untuk menghasilkan tulisan yang baik dan disenangi pembaca.
Beliau juga menuturkan bahwa kopi dan tulisan mempunyai banyak jenis. Seiring perkembangan zaman, kopi bukan lagi dibagi menjadi Robusta dan Arabica, namun telah melahirkan kopi dengan jenis campuran lainnya, seperti cappuccino, coffelatte, dan moccacino. Begitu juga dengan penulis, mereka punya genre yang berbeda-beda. Ada yang menghasilkan tulisan fiksi, nonfiksi, sejarah, dan lainnya.
Dalam rezkyfirmansyah.com juga menuliskan bahwa kopi dan tulisan punya penikmat tersendiri. Saya sangat setuju dengan pendapatnya satu ini. Kopi dengan rasa tertentu juga punya penikmat sendiri. Tulisan kita pun begitu, punya pembaca setianya sendiri. Dia juga berpendapat bahwa kopi dan menulis memiliki efek candu yang berlebih. Ini jelas sekali terlihat pada kopi yang mengandung kafein. Menulis pun demikian, saya pribadi kecanduan menulis setelah tulisan saya menang dalam suatu perlombaan nasional dan dimuat di media cetak.
Masih banyak sekali romantisme kopi dengan penulis jika ditelaah lebih dalam lagi. Segala sesuatu tentu punya dampak positif maupun negatif. Hanya saja semua kembali lagi bagaimana kita menyikapinya. Menjadi seorang penulis memang tak harus mencintai kopi, tapi penulis yang dahsyat adalah pecinta kopi yang hebat. Mari terus ngopi, mari terus menulis!

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar