Romantisme Kopi dengan Penulis
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengapa
penulis suka minum kopi? Mungkin itu salah satu alasan saya menuliskan ini.
Pertanyaan itu bahkan saya lontarkan untuk diri saya sendiri. Sebab saya pun
mencintai kopi seperti saya mencintai pena.
Bagi penulis seperti saya, kopi merupakan minuman wajib yang harus ada
ketika akan mulai menulis. Satu gelas kopi adalah inspirasi terbaik dalam
menciptakan satu buah tulisan hebat. Jika diamati, kebanyakan penulis besar
juga punya hubungan baik dengan minuman beraroma khas satu ini.
Kopi
selalu identik dengan dunia tulis menulis. Banyak rekan penulis yang mengaku
jatuh cinta pada minuman berwarna pekat ini. Selain aromanya yang dapat
menenangkan pikiran, kandungan kafeinnya pun dapat membantu meningkatkan
konsentrasi, setidaknya begitu yang pernah saya dengar dari ayah saya. Tidak
ada kopi sama dengan tidak ada tulisan hari ini. Jika ingin ditelisik lebih
dalam, beberapa coffee shop pun lebih
banyak dikunjungi oleh para penulis.
Di
daerah kampus saya sendiri, ada sebuah warung kopi yang dibangun oleh anak-anak
pecinta sastra. Sepertinya kopi dan sastra adalah dua hal yang tak dapat
dipisahkan. Di sana mereka sering mengadakan musikalisasi puisi atau pembacaan
puisi secara tunggal. Pengunjung juga boleh unjuk kebolehan jika berminat. Bahkan
tidak sedikit penulis-penulis besar mengangkat tema tentang kopi, seperti yang
dilakukan oleh Dee penulis novel Filosofi Kopi, yang juga telah tayang di layar
lebar beberapa waktu lalu.
Beberapa
alasan yang pernah dilontarkan oleh sebagian penulis tentang kopi adalah dengan
mengkonsumsi minuman itu, mereka lebih bisa berkonsentrasi dalam menyelesaikan
tulisannya. Selain itu, penulis yang mempunyai jadwal menulis pada tengah
malam, mengaku suka dengan kopi karena bisa menghalau rasa kantuk yang
berlebih. Sehingga mereka bisa menyelesaikan tulisannya dengan baik.
Secangkir
kopi juga bisa membantu kita untuk lebih bersemangat. Menulis adalah pekerjaan
yang membutuhkan semangat tinggi. Tidak akan jadi suatu tulisan jika kita
tergolong orang yang malas. Imajinasi akan terus lahir jika kita semangat
menggali ide-ide yang bertebaran di sekitar kita. Peka terhadap suatu masalah
dan sikap mau menerima merupakan hal terbaik dalam menciptakan ide.
Kopi
juga membantu memperbaiki mood yang
semula berantakan, menjadi rapi kembali. Kegiatan menulis yang terlihat begitu
membosankan pun akan menjadi menyenangkan jika sambil menikmati secangkir kopi.
Kopi adalah minuman penghasil imajinasi.
Meski
kopi terdengar kontroversial, ada yang membahas sisi positif dan negatifnya,
saya sendiri punya prinsip dalam menikmati kopi. Maksimal satu gelas sehari.
Itu pun tidak terlalu sering, sebab segala sesuatu yang berlebihan jatuhnya
tidak akan baik buat kesehatan. Menjadi penulis bukan berarti harus mencintai
kopi. Banyak juga penulis yang tidak akrab dengan minuman satu ini. Semua
kembali pada selera masing-masing saja.
Dari teman penulis saya, saya mengetahui bahwa
kafein yang terdapat dalam kopi dapat merangsang kreativitas seorang penulis.
Mungkin itulah sebab mengapa banyak penulis atau editor sangat mencintai
minuman satu ini. Selain sebagai penumbuh kreativitas, kopi juga dapat
meningkatkan kepercayaan diri kita sebagai seorang penulis. Meski tulisan yang
dihasilkan kurang maksimal, namun ketika sudah ngopi, rasa malu, takut, dan
tidak percaya diri akan hilang, berganti dengan rasa optimis bahwa pembaca akan
menyukai tulisan kita.
Jika
boleh mengutip artikel dari rezkyfirmansyah.com,
beliau mengatakan bahwa ada banyak kesamaan antara penulis dengan kopi.
Menurutnya, kopi dan tulisan yang nikmat itu selalu butuh waktu. Kopi yang
nikmat tentu akan melewati sederet proses pengerjaan yang panjang, dari biji
kopi sampai menjadi bubuk kopi yang siap dinikmati. Pun dengan tulisan, akan ada
proses kreatif yang panjang untuk menghasilkan tulisan yang baik dan disenangi
pembaca.
Beliau
juga menuturkan bahwa kopi dan tulisan mempunyai banyak jenis. Seiring
perkembangan zaman, kopi bukan lagi dibagi menjadi Robusta dan Arabica, namun
telah melahirkan kopi dengan jenis campuran lainnya, seperti cappuccino, coffelatte, dan moccacino. Begitu juga dengan penulis,
mereka punya genre yang berbeda-beda. Ada yang menghasilkan tulisan fiksi,
nonfiksi, sejarah, dan lainnya.
Dalam
rezkyfirmansyah.com juga menuliskan bahwa
kopi dan tulisan punya penikmat tersendiri. Saya sangat setuju dengan
pendapatnya satu ini. Kopi dengan rasa tertentu juga punya penikmat sendiri. Tulisan
kita pun begitu, punya pembaca setianya sendiri. Dia juga berpendapat bahwa kopi
dan menulis memiliki efek candu yang berlebih. Ini jelas sekali terlihat pada
kopi yang mengandung kafein. Menulis pun demikian, saya pribadi kecanduan
menulis setelah tulisan saya menang dalam suatu perlombaan nasional dan dimuat
di media cetak.
Masih
banyak sekali romantisme kopi dengan penulis jika ditelaah lebih dalam lagi. Segala
sesuatu tentu punya dampak positif maupun negatif. Hanya saja semua kembali
lagi bagaimana kita menyikapinya. Menjadi seorang penulis memang tak harus
mencintai kopi, tapi penulis yang dahsyat adalah pecinta kopi yang hebat. Mari
terus ngopi, mari terus menulis!
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar