Januari
hampir habis. Hujan tidak pernah datang lagi meski hanya sekadar rintik. Dia
memilih bersembunyi dalam mendung yang kelabu. Entahlah apa sebabnya, aku
sendiri kadang-kadang sangat merindukan hujan, meski kini aku tidak bisa
terang-terangan mencintainya. Bian, laki-laki berambut cokelat yang mempunyai
alasan kuat mengapa aku begitu mencintai hujan. Dia senang mengajakku menari di
bawah hujan. Merentangkan tangan lebar-lebar dan membiarkan tetes hujan
membasuh wajah secara perlahan. Bian bilang, hujan adalah kebahagiaannya. Hujan
adalah kecintaannya setelah aku.
Aku
lebih suka menamai Bian dengan sebutan hujan. Sejak kali pertama dia mengenalkanku
pada ribuan tetes air langit itu. Di bawah senja, di sebuah halte pinggiran
kota. Kala itu, Bian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sambil
tersenyum, dia banyak bercerita tentang kecintaannya pada hujan. Katanya, hujan
adalah teman terbaik dalam mengingat sesuatu. Hujan adalah momen terbaik untuk
mengadu pada sang pencipta raga.
Berbulan-bulan
lamanya, aku semakin akrab pada hujan. Aku bahagia jika hujan datang. Aku
bahagia jika hujan berkunjung. Hidupku seolah terpenuhi oleh hujan. Aku tidak
butuh yang selain hujan. Hujan bisa menenangkan gundahku, bisa meminimalisir
lukaku, dan bisa menjadi penyebab tawaku. Hujan adalah segala, meski banyak
orang menyumpahserapahinya.
Hingga
suatu ketika, hujan tidak pernah datang lagi. Hujanku tengah sibuk dengan
aktivitasnya. Panggilanku diabaikan, pesanku dibiarkan. Hujan tak lagi ingin
menemuiku meski aku sangat ingin bertemu dengannya. Hujan bilang, semuanya
sudah berakhir. Masa-masa sejuk dan dingin itu sudah sirna. Sebentar lagi summer akan datang.
Aku
mengatakan padanya bahwa aku hanya mencintai hujan. Aku tidak butuh summer.
Aku hanya ingin menari di bawah hujan. Aku juga hanya ingin berdoa
banyak-banyak saat derasnya hujan. Lantas, apa yang bisa aku lakukan jika hujan
tak ada dan summer tiba?
Hujan
datang tepat di malam aku menangisinya. Dia mengetuk kaca jendela kamarku,
berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa, sedangkan
kini lukaku bertaburkan namanya. Berdarah-darah hingga aku tak berdaya. Aku
tidak menyukai summer. Aku tidak
ingin summer ada. Tapi hujan seolah
mengejekku, bilang bahwa aku terlalu arogan menyikapi semuanya. Kesukaan adalah
hal yang tumbuh dari kebiasaan. Hujan bilang, kesukaanku padanya pun tumbuh
bersebab kebiasaan. Maka dari itu, kehadiran summer kelak, mungkin saja juga menjadi kecintaanku. Tapi, aku
enggan mendengarkan celoteh hujan. Aku menutup telingaku dengan bantal besar.
Lalu menangis sesenggukan, semerdu lagu cinta kesukaan kami berdua.
Aku
tidur dengan airmata yang berserakan di pipi. Hujan benar-benar telah pergi.
Pagi ini, summer untuk pertama
kalinya, menyapaku dengan hangat. Cahayanya menerpa wajahku lembut.
Kehangatannya memberikan kesan positif di hati, not bad, aku membatin. Hari-hari berikutnya, summer lah yang menemaniku. Aku menemukan sosoknya ketika memungut
daun jatuh di depan toko kue itu. Dia melambaikan tangan dan mengajak
berkenalan. Sore itu, aku tahu bahwa ia bernama Biru.
Biru
sangat berbeda dengan hujan. Dia menyukai Mars. Dia menyukai senja. Juga
menyukai cokelat panas. Dia tidak suka hujan. Katanya, hujan itu hal terburuk
yang pernah ada. Jika saja aku tak mengenalnya sebagai kekasih baruku, tentu
aku akan marah besar padanya. Berani benar mengatai hujanku adalah hal
terburuk. Hujan itu adalah yang terbaik. Hujan adalah saat terbaik untuk
memanjatkan doa. Meminta banyak-banyak pada Tuhan agar dihadiahkan banyak
berkah. Lantas, mengapa Biru tak menyukainya?
“Bagaimana
kalau kita menari di bawah hujan. Sekali saja.” Pintaku kala itu.
Biru
menggeleng, “Aku tak suka hujan, Mia. Hujan membuat tubuhku flu. Lebih baik kau
ke sini, dengarkan aku bercerita tentang Mars. Planet merah dengan banyak cinta.
Kau mau mendengarnya?”
Aku
terdiam, berkedip dua kali, namun menurut. “Kau tahu kenapa aku suka Mars?”
Biru bertanya. Aku menggeleng, menatapnya menunggu jawaban. “Karena di Mars
tidak ada hujan,” katanya tajam. Aku melirik Biru dalam. Mengapa dia menekan
kata hujan di kalimatnya? Sebegitu bencinyakah ia pada hujan? Atau dia tahu
alasan mengapa aku kini sangat mencintai hujan? “Dan tidak akan ada hujan di
langit senja!” lirihnya. Aku terdiam.
Hari-hari
berikutnya, kunamai dia dengan sebutan summer.
Dia benar-benar summer untuk hatiku
yang dingin. Dia suka bercanda dan melontarkan banyak jokes, namun aku terus saja menyisir kenangan bersama hujan.
Mengais-ais masa lalu dengan ketidakpastian. Apa kabar hujanku? Kapan dia akan
datang lagi? Aku rindu bermain di bawah rintiknya. Tertawa-tawa melepaskan
segala beban yang terasa. Aku bahagia bersama summer, tentu saja. Namun aku lebih bahagia jika bersama hujan.
Kabar
hujan datang ketika malam itu kuputuskan meneleponnya. Hujan memberi kabar
beserta guntur yang bersahut-sahutan. Menyambar gendang telingaku tanpa ampun.
Minggu depan, hujanku akan menikah. Aku tergugu. Apa yang akan aku katakan
selanjutnya? Sambungan telepon masih tersambung. Apakah mengatakan selamat adalah
yang terbaik? Atau mematikan sambungan telepon dengan alasan jaringan yang
kurang bersahabat?
Malam
itu, kuputuskan untuk tertawa dalam airmata. Kami bercanda seperti biasa. Namun
hatiku terluka karenanya. Dia menyebutkan bahwa gadis itu cantik luar biasa.
Bahkan aku tak sudi membayangkannya. Bagaimana mungkin aku membayangkan gadis
yang sudah merebut hujan dariku? Hujan tetap tak menyadari bahwa aku begitu
mencintainya. Usai bertelepon, airmataku luruh satu-satu. Hingga akhirnya
menderas dan membuat bantalku basah.
Musim
hujan benar-benar sudah berlalu. Masa-masa membahagiakan sudah usai. Tak ada
lagi yang tersisa selain duka lebam yang dicongkelnya dengan geram. Panah yang
ditancapkan hujan terlalu dalam hingga melukai hatiku. Sejak malam itu, aku
berusaha menerima summer. Mencintai summer apa adanya. Mencintai cerita summer tentang Mars yang penuh cinta.
Dan sejak malam itu pula, aku berhenti mencintai hujan. Berhenti menangisi
tentangnya. Berhenti mengharapkan kedatangannya. Meski kerapkali, hatiku tetap
setia menyusuri kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar