Itu
benar-benar wajah Lovaria. Wajah itu bersinar suram, seperti seekor burung
hantu terjaga di gelap malam. Wajah itu tampak marah dan bengis. Aku tak pernah
paham mengapa tiba-tiba aku bisa ada di sini, di rumah ini. Rumah yang sangat
besar namun tidak dengan penerangan yang baik. Ada beberapa peti mati di sini.
Lampu yang meremang, juga lilin-lilin putih yang bergoyang ditiup angin,
menambah atmosfer mencekam dalam rumah tua ini. Bahkan aku baru saja melihat
kereta jenazah melintas di halaman depan. Seperti akan ada tamu baru untuk
peti-peti kosong di dalam rumah itu. Sungguh! Bahkan, peti-peti itu terbuka
dengan sendirinya, seolah-olah siap memakan jenazah berikutnya untuk rebah di
dalamnya. Rumah besar ini semakin mencekam, ketika aku mendengar suara lolongan
yang menyayat hati. Suara itu? Suara itu..Ya, suara itu berasal dari mulut
Lovaria.
Aku tersentak kaget, terbangun dari
tidurku. Billy menggebrak mejaku dengan keras, “Sial! Bikin kaget saja,” omelku
ketika kulihat dia tertawa puas setelah berhasil membuatku terbangun. “Hey,
dengar! Aku terganggu oleh dengkuranmu, lagipula ini masih les pertama.
Bisa-bisanya kau tertidur pulas,” dia balas mengomeliku. Aku mengabaikannya,
tiba-tiba aku tertarik untuk menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah tempat duduk
Lovaria, gadis yang menjadi objek dalam mimpiku tadi. Kulihat gadis berwajah pucat itu sedang
memperhatikan Minny dengan tatapan yang membuatku bergidik. Kenapa dia? Bisikku lirih. Sesekali
sudut bibirnya tertarik, dia tersenyum penuh misteri. Aku kembali menatap depan
dengan perasaan yang sulit kugambarkan.
Aku tak pernah mengerti mengapa aku
begitu tertarik dengan sosoknya yang misterius. Penampilannya aneh, mengenakan
jaket hitam panjang seperti jubah. Tatapan matanya tajam dan terasa dingin,
wajahnya sedikit pucat, rambut ikalnya acak-acakan, dan ada goresan luka di
bawah matanya. Dia adalah Lovaria, murid baru di kelasku. Semenjak kehadirannya
di sini, aku bisa merasakan atmosfer ruangan kelas yang terasa aneh bagiku. Gadis
berwajah tirus itu duduk di bangku belakang paling sudut. Dia duduk seorang
diri, lebih sering diam dan memperhatikan teman-teman lain dari tempat duduknya
dengan tatapan sedingin es. Entah mengapa, firasatku selalu buruk ketika aku
berpapasan dengannya atau ketika secara tidak sengaja tatapan mata kami beradu.
Aku berusaha berkonsentrasi, beberapa
kali mencoba membaca, melihat sisi lain dalam dirinya, namun tak pernah
berhasil. Ini semua membuatku bingung. Tak biasanya daya analitik ini sulit
kukendalikan. Sedikit kuberitahu, aku adalah seorang anak indigo. Aku mempunyai
kemampuan meramalkan kejadian yang akan datang atau yang sering disebut dengan Prekognision. Beberapa murid di sekolah
ini mempercayai kelebihanku, namun tak sedikit juga yang meragukannya. Aku tak
pernah ambil pusing soal mereka yang mengataiku, bilang kalau aku hanya
membual. Bagiku, ini adalah satu anugerah dari Tuhan. Kelebihan yang tidak semua
orang punya. Beberapa dari mereka yang percaya adalah mereka yang selamat dari
kejadian yang sebelumnya telah kuprediksi, aku bahkan menyarankan kepada mereka
untuk lebih hati-hati. Dan mereka menuruti nasihatku.
Kembali pada Lovaria. Aku sering menceritakan
keganjilan-keganjilan yang kulihat dari sudut pandangku tentangnya kepada
Billy, teman sebangku sekaligus kekasihku itu, seperti siang ini. Namun,
tanggapan yang kudapat dari Billy mendadak membuat kepalaku berdenyut. “Grace,
apa kau iri padanya? Dengan sosoknya? Atau dengan tingkahnya yang selalu
tertutup dan misterius itu?” ucap Billy di sela tawanya. Dia menertawakanku.
Aku mendengus sebal, “C’mon, Billy!
Aku sama sekali tidak iri padanya, sedikit pun! Aku hanya merasakan aura yang
aneh setiap kali aku melihatnya. Kita harus hati-hati padanya!” aku menatap
Billy serius. Tapi Billy malah menarik hidungku, menganggap aku hanya bercanda
menasihatinya.
Kami melanjutkan langkah menuju
kelas. Perasaanku tiba-tiba berubah menjadi tidak enak, aku seperti mendengar
sebuah bisikan-bisikan yang terdengar samar di telingaku. Aku mengerjapkan
mataku beberapa kali, tiba-tiba sebuah slide
hinggap di otakku. Terputar begitu cepat, secepat kilat. Aku merasa akan ada
seorang gadis dengan kepala berlumuran darah di depan kelasku, tapi aku tidak
tahu siapa. Aku tersadar ketika mendengar Billy meneriakiku, aku sudah
tertinggal jauh di belakang. Aku berlari menghampirinya secepat yang aku bisa,
lebih kepada sekarang teriakannya terdengar begitu histeris di telingaku. Juga diikuti teriakan histeris beberapa anak perempuan
yang ada di sekitar kelasku. Seketika langkahku terhenti ketika kulihat pot
bunga dari bahan tanah liat yang biasanya tergantung di atas kelasku itu, sudah
pecah berserakan di lantai. Aku tersentak begitu melihat seorang gadis berjepit
biru tergeletak tak sadarkan diri tepat
disebelah pot yang sudah berkeping-keping itu.
Seolah tak percaya dengan apa yang
kulihat. Gadis itu adalah Minny. Kepalanya berlumuran darah segar akibat
tertimpa pot bunga itu saat dia melintas di bawah bingkai pintu kelas kami.
Kulihat Billy sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Beberapa siswa
laki-laki sudah membopong tubuh Minny untuk dibawa ke rumah sakit. Semua
penghuni kelas sudah menghambur keluar, ingin melihat kejadian yang telah menggemparkan
satu sekolah. Hanya ada satu murid yang kulihat masih berdiam di tempat
duduknya. Lovaria. Ya, gadis berwajah pucat itu duduk diam di sana. Kulihat dia
tersenyum sinis ke arah pot bunga yang berserakan itu. Saat itu juga aku menyadari,
bahwa dia bukan manusia biasa.
Esoknya kudengar berita duka dari
Kepala Sekolah. Kami, warga kelas XII IPS 3 menunduk dalam saat apel pagi itu
dilaksanakan. Beberapa dari kami bahkan ada yang menangis sesenggukan. Ya,
insiden semalam telah merenggut nyawa teman sekaligus kami, Minny. Aku melirik
beberapa teman yang saling bantu menghapus air mata. Sementara itu kulihat
wajah Lovaria tidak menampakkan kesedihan apa pun. Dan astaga! Dia tersenyum.
Senyum itu hanya tipis, namun aku bisa melihatnya dengan jelas. Lapangan saat
itu begitu hening, Kepala Sekolah masih menyampaikan belasungkawa atas
kepergian Minny. Aku begitu muak dengan sikap Lovaria. Kedatangannya telah
membuat kami kehilangan teman yang paling kami sayangi. Aku menatapnya tajam,
lalu tiba-tiba mata itu juga turut menatapku. Aku terkesiap, kelopak mata itu
memang terbuka lebar, namun dua mata itu tak bergerak sedikit pun. Warnanya
yang kelam dan tatapannya yang sedingin es membuatnya terlihat sangat mengerikan.
Aku mengalihkan pandangan ketika Billy menyikutku pelan.
“Siang ini kau akan datang, kan?”
tanyanya pelan. Kami masih tetap dalam barisan, posisi istirahat di tempat.
“Datang? Kemana?” aku balik bertanya. “Kau lupa? Yang benar saja. Siang ini ada
pertandingan basket dengan SMA Violence. Kau sudah berjanji akan datang
melihatku,” Billy mengingatkan. Aku baru ingat, lantas mengangguk paham. Ya,
tentu saja aku akan datang. Lima menit kemudian, barisan dibubarkan. Billy
menggandeng tanganku untuk segera menuju kelas. Lagi-lagi tatapan mata kami
beradu. Lovaria melirik genggaman tangan Billy di tanganku, lalu menatapku
dengan pandang tak suka. Aku mengartikan pandangannya sebagai pertanda buruk.
Tepat pukul dua siang, aku sudah
berada di dalam stadion basket. Suasana sudah ramai sejak tadi. Pertandingan
baru akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Kulihat Billy mengenakan kaos
basket berwarna biru tua berlari ke arahku, melambaikan tangan. Tampaknya dia
senang melihatku datang untuk menonton pertandingannya. “Duduk yang manis, ya.
Dan kau akan melihat Kapten tim basket paling tampan ini akan mencetak skor,”
dia bergaya seolah-olah sedang menembakkan bola ke ring. Aku tergelak melihat
tingkahnya. Dia kembali ke tengah ketika Pak Ed, pelatih tim basket sekolah
kami memanggilnya untuk bergabung. Aku menyapu pandangan ke seluruh tribun
penonton. Mataku terbelalak saat melihat sosok misterius itu duduk di pojokan
sana. Lovaria! Minuman yang kupegang jatuh ke lantai. Seluruh pikiranku mulai
bekerja. Firasat yang tidak enak tiba-tiba menyergapku. Tanganku perlahan
mendingin. Apa yang dia lakukan disini?
Aku masih menatapnya, tubuhnya seolah mengeluarkan aura berbahaya yang dengan
cepat memenuhi stadion basket ini.
Pertandingan sudah berjalan lima
belas menit yang lalu. Billy dan timnya sudah gesit saling lempar dan membagi
bola, lantas melempar bola ke dalam ring basket. Riuh suara penonton terdengar
ketika bola masuk dengan mudahnya ke ring lawan. Tiba-tiba bisikan samar itu
terdengar lagi. Slide yang sama
seperti kemarin saat kejadian tragis yang menimpa Minny terputar kembali di
otakku. Sama persis, masih ada darah, jeritan, orang yang tergeletak, juga
tangisan. Hanya saja satu yang membuat beda, kali ini bayangan orang yang
tergeletak itu adalah seorang laki-laki muda. Aku tersentak. Oh Tuhan, tidak! Aku menatap ke arah
Lovaria, dia sudah menatapku lebih dulu dengan sebuah senyuman yang membuatku
menggigil. Aku ingin menjerit, namun pita suaraku seakan tercekat sesuatu. Aku
sungguh ingin menyelamatkan laki-laki muda yang tak lain adalah kekasihku.
Sebentar lagi, semuanya akan
berakhir. Benar saja, kulihat seorang laki-laki muda dengan kostum biru tua
berlari membawa bola ke arah ring lawan. Dia begitu semangat sambil terus
memantul-mantulkan bola. Hanya tinggal tiga langkah lagi dia berada di bawah
ring itu. Dia sudah bersiap-siap untuk melompat. Berniat memasukkan bola itu
dengan sekali lompatan. Dan.. dia melompat. Lompatan yang cukup baik. Bola itu
berhasil masuk dengan mulus ke dalam ring. Lantas dia melompat turun setelah
agak lama menggantung di ring itu. Dia tertawa senang, hingga tiba-tiba sesuatu
yang tak terduga terjadi. Ring basket yang tampaknya masih kokoh itu, tiba-tiba
jatuh kebawah menghantam kepalanya. Anak laki-laki muda itu seketika
terjerembab ke lantai. Penonton berteriak histeris. Teman-teman satu timnya
sudah berlari mengejarnya. Pun pelatihnya. “Billyyy…” teriakku tak kalah
histeris.
Aku berlari turun dari tribun
penonton. Kusibak kerumunan itu, hatiku terasa nyeri. Darah segar mengalir
deras dari kepalanya. Wajahnya yang putih kini merah tersiram darah. Darah
segar itu juga ikut membanjiri lantai. Deras, sederas air kran yang bocor di
sana-sini. Kulihat napas Billy memendek, menghirup udara dengan susah-payah. Detik
berikutnya, dia kaku, tak bergerak sama sekali. Aku menjerit keras. Kudengar
suara tawa cekikikan dari atas tribun sana. Anehnya, hanya aku yang
mendengarnya.
Aku
menoleh ke atas sana, tempat dimana Lovaria berada. “Senang bisa mengenalmu,
Indigo berhati malaikat!” desisnya tajam. “Kk.. Kau?” aku tergagap, air mataku
menetes. “Apa kau tak sadar? Telah begitu banyak orang yang ingin kuhabisi,
tapi kau selalu menghalanginya. Dan itu, itu adalah balasan terpantas untukmu,”
Lovaria menunjuk mayat Billy. Aku sudah jatuh bersimpuh, menangis
sejadi-jadinya. “Aku sudah tahu bahwa kau bukan manusia normal! Kau telah salah
menggunakan kelebihanmu itu! Kau hanya anak indigo hitam, Lovaria!!” Dia
tertawa puas memandangku. Sesekali melirik mayat Billy yang kini sudah dibawa
menggunakan tandu. Tubuhku tiba-tiba melemah, kepalaku berat sekali, kakiku
serasa tak mampu menopang berat tubuhku. Dan tiba-tiba dingin yang amat sangat
menyerangku. Aku kedinginan, dingin, dingin sekali. Aku terjerembab ke lantai. Mulai
kehilangan kesadaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar