Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku
meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang
kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang
jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa
kulakukan. Tiba-tiba aku mendengar Ibu mengucapkan sesuatu, seperti nyanyian
menyayat hati yang menyentuh gendang telingaku. Suara merdu Ibu membawa
ingatanku pada kejadian beberapa bulan lalu. Saat untuk pertama kalinya aku
benar-benar membenci ayah.
“Perempuan jalang! Sudah miskin tak tahu diri pula!
Bisa-bisanya kau merayu Ajid untuk memberi dua batang ubi itu! Dimana harga
dirimu?!” suara ayah menggelegar dari ruang depan. Aku mengintip dari celah
pintu kamar yang terbuka. Ibu menangis. Air matanya membasahi wajah.
Menjelaskan berkali-kali meski ayah tak mau mendengar.
“Dia yang memberiku ini, Yah. Bagaimana mungkin ayah
menuduhku seperti itu?” suara ibu terdengar dari balik isak tangisnya. Tapi ayah
tidak peduli, terus mencaci maki Ibu seakan perempuan itu hina sekali.
“Aku tahu bahwa dia masih menyukaimu! Aku tahu kalau
kau ada main dengan laki-laki itu!”
tuduh ayah sinis. Kudengar Ibu beristighfar berulang kali. Ayah mendorong Ibu
hingga tersungkur ke lantai. Aku segera muncul dan memeluk Ibu. Ayah membanting
apa saja yang ada di dekatnya. Aku ingin bilang bahwa Paman Ajid-lah yang
berbaik hati memberi ubi itu. Tapi aku takut jika ayah semakin marah dan
menyakiti kami berdua.
Wajahnya merah padam. Aku paham sekali bahwa ayah
marah. Ayahku yang tempramen dan tidak bisa mengontrol emosi. Suka menyakiti
jika amarah tengah memenuhi kepala. Lihat, pincangnya kaki Ibu juga bersebab
ulah ayah. Luka di kepala Ibu pun adalah karena ayah. Ayah terlalu sering
menyakiti Ibu. Dan aku sangat tidak menyukai perbuatannya.
Malamnya, tidak ada ayah di meja makan. Ibu
mengunyah nasi dengan mata sembab. Aku menyentuh tangan Ibu, menatapnya dengan
wajah muram. “Ayahmu adalah lelaki baik, Naina. Dia baik sekali,” suara Ibu
memecah keheningan. Aku menggeleng kuat-kuat, tidak setuju dengan kalimat Ibu.
Ayah itu jahat. Ayah bukan lelaki baik. Ayah suka menyakiti Ibu. Dan aku
membenci itu.
Ibu mengusap rambutku lembut. Bercerita banyak bahwa
ayah adalah lelaki paling baik yang pernah ditemuinya. Ibu bilang kalau aku tak
boleh sedikit pun membenci ayah. Ibu bilang kalau aku harus selalu menghormati
ayah. Dan Ibu bilang, aku harus menyayanginya. Aku menggeleng lagi. Aku tidak
akan menyayangi ayah. Ayah jahat pada Ibu. Ayah tidak menyayangi Ibu. Bagaimana
mungkin aku menyayangi lelaki yang selalu menyakiti Ibu?
Hari-hari selanjutnya, rumah seperti wadah
pertumpahan darah. Mataku terus dimanjakan ayah dengan kekerasan yang
dilakukannya pada Ibu. Telingaku disuapinya dengan teriakan kasar dan jeritan
Ibu. Bahkan tak jarang aku pun turut menjadi korban kemurkaan ayah. Pernah
suatu malam, lelapku terbangun karena suara ayah. Aku menyeret kakiku menuju
asal suara itu.
Kulihat di halaman belakang rumah, ayah sudah siap menghabisi
Ibu. Ia memegang kasar tangan Ibu yang diletakkan di atas bangku kayu. Ibu
meronta dan mencoba melepaskan genggaman ayah pada pergelangan tangannya, namun
sia-sia. Pisau besar yang biasa digunakan ayah untuk menyembelih ayam akhirnya
menjawab semua pertanyaan besar dalam hatiku tentang apalagi yang akan
dilakukan ayah terhadap Ibu.
Pisau besar itu dengan sekali hentakan, memotong dua
jemari tangan Ibu. Aku menelan ludah saat kulihat darah segar mengucur dari
tangan Ibu. Setetes air mataku jatuh. Badanku menggigil. Seketika itu pula
tubuhku gemetar hebat. Oh Tuhan, apa yang baru saja dilakukan ayah? Aku
melangkah menjauhi pintu dapur, masuk menuju kamarku.
Kudengar suara jeritan pilu dari mulut Ibu. Aku tak
lagi mendengar suara ayah, barangkali lelaki jahanam itu pergi setelah memotong
dua ruas jari ibuku. Langkah kakiku menuju kamar Ibu, selang beberapa menit tak
lagi kudengar suara apapun. Hanya sesenggukan tangis Ibu yang terdengar
menyakiti hatiku. Kubawakan kotak P3K sambil berurai air mata. Ibu menatapku
begitu dingin. Tak ada kata terucap dari bibirnya. Wajahnya pucat seperti
seseorang yang hendak menemu kematian.
Aku membalut jemari berdarah Ibu. Ibu tidak merintih,
hanya suara tertahan yang kudengar dari mulutnya. Sakit di hati ibu jelas lebih
banyak daripada sakit di jemarinya saat ini. “Aku akan membunuh ayah!”
tiba-tiba suara itu keluar dari mulutku. Ibu menggeleng, matanya kembali
berair. “Aku tidak bisa membiarkan dia membunuh Ibu pelan-pelan, Bu. Terlalu
sering dia menyakiti Ibu. Sakit! Sakit mata dan hatiku tiap kali melihat lelaki
itu menjahatimu!” bentakku pada Ibu.
Oh Tuhan, dosakah aku telah membentak Ibuku sendiri?
Aku hanya tak sanggup melihat lebih banyak laki luka di tubuh Ibu. Pun
luka-luka lain di hatinya. “Lihat, Bu. Lihat! Lihat kakimu, Bu. Lihat
telingamu! Lihat wajahmu! Dan sekarang lihat jemarimu! Mau sampai berapa banyak
lagi cacat di tubuhmu hingga kau percaya bahwa sebenarnya dia ingin membunuhmu,
Bu!” teriakku di depan Ibu. Aku terisak panjang. Hatiku benar-benar sakit
melihat keadaan Ibu.
Untuk kemudian, aku tersadar. Jika Ibu tidak bisa
menghentikan perbuatan ayah, maka akulah yang harus berhenti melihat ini semua.
Aku sungguh tidak sanggup lagi melihat semua perbuatan ayah pada Ibu. Aku
mengorek laci meja Ibu. Mencari sesuatu yang dapat menghentikan semua kegilaan
ini. Ibu terus menangis di pinggir tempat tidur. Setelah mendapatkan apa yang
aku cari, aku mendekati Ibu.
“Jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Kumohon...” pintaku
dengan penuh keyakinan.
Ibu menggeleng lemah. Air matanya tidak berhenti.
Aku tahu Ibu akan sulit melakukannya. Aku tahu ini adalah permintaan gila. Tapi
aku akan lebih gila bila terus-terusan melihat ayah menyakiti Ibu. Kuusap
lembut tangannya, kupeluk ia dengan hangat.
“Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Aku tidak
ingin melihatmu terluka lagi. Aku tidak sanggup melihatmu dengan kondisi
begini. Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah sekarang juga,” aku serahkan jarum dan
benang paling kuat ke tangan Ibu.
Ibu menerima dengan tangisan yang semakin kencang.
Aku mengusap tangannya, “Jangan menangis, Bu. Percayalah, aku akan lebih
bahagia jika kau menjahit mataku dan menyelamatkanku dari kekejaman ayah
padamu,” suaraku menyentuh gendang telinga Ibu. Malam itu, Ibu menjahit mataku
dengan lihai. Tak ada sakit yang kurasa sedikitpun. Aku seperti melayang dan
ingin mati saja. Menyudahi segala kekejaman yang ada di dunia. Membuktikan pada
ayah bahwa aku bisa lebih kejam dari dirinya.
Darah di mataku pun mengering keesokan paginya.
Bersama mayat Ibu yang membeku di samping tubuhku. Ya, Ibuku telah meninggal
dunia. Dia mati dalam rasa sakit di hati dan tubuhnya. “Dia lelaki baik, Naina.
Dia satu-satunya lelaki yang mau menikahiku meskipun tahu aku sedang mengandung
janin dari lelaki lain.” Astaga! Jadi itulah sebab mengapa ayah sering murka
kepada Ibu. Karena ia merasa telah menolong Ibu, jadi ia merasa bebas
memperlakukan apa saja terhadap Ibu. Dan aku? Aku bukan anak kandungnya. Cerita
Ibu saat menjahit mataku benar-benar pilu. Kali ini, bukan hati Ibu saja yang
sakit, melainkan hatiku.
Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku
meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang
kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang
jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa
kulakukan. Sebab Ibu telah menjahit mataku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan
tangis ayah memelukku. Kudengar teriakan histerisnya melihat mayat Ibu.
Kudengar tangis meraungnya menyentuh mataku. Untuk pertama kalinya, ayahku
menangis. Bukan, dia bukan ayahku. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia bukan
keluargaku. Dia... dia adalah pembunuh ibuku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar