“Abiiiii…”
teriak seseorang dari arah belakang.
Abi
baru saja keluar dari perpustakaan. Kepalanya segera menoleh ke asal suara itu.
Abi hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rin berada dua meter di
depannya, tengah melambaikan tangan dengan sebuah senyuman. Kepala Abi
tiba-tiba berdenyut. Kejutan apa lagi
ini? Kenapa gadis itu seperti jamur saja? Dimana-mana ada. Rin berjalan
mendekat ke arah Abi. Abi menggaruk tengkuknya.
“Nggak
nyangka ya ternyata kita satu kampus,” suara Rin terdengar mengerikan di
telinga Abi.
Bagaimana
tidak, ia mengira siang kemarin adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan
gadis itu. Dia tidak mau lagi bertemu atau bahkan berbicara basa-basi lagi dengannya.
Namun semua terjadi di luar kendalinya. Bagaimana
bisa Rin berkuliah di sini juga? Rutuknya dalam hati. Itu artinya, dia akan
semakin sering bertemu dengan gadis itu. Dan Giska akan semakin salah paham.
Ini benar-benar gawat.
“Hmm..
aku buru-buru. Sorry!” Abi segera
berbalik, menjauh dari gadis itu.
Tanpa
sadar seorang anak laki-laki yang tampak terburu-buru juga, menabrak lengan
Abi. Tabrakan itu cukup membuat tubuh Abi sedikit oleng. Buku tulis yang ada di
pelukannya terjatuh. Abi tidak menyadari itu. Dia langsung pergi dan menghilang
di balik kerumunan mahasiswa lainnya. Rin memungut buku tulis itu. Menatap
punggung Abi yang semakin menjauh. Dia hendak memanggil Abi, namun sepertinya
anak laki-laki itu memang tengah berusaha menjauhinya. Rin menatap buku tulis
itu, lalu membawanya. Dia berniat akan mengembalikannya di jam istirahat nanti.
Lunch time!
Kantin kampus tengah ramai. Hampir seluruh siswa memenuhi kantin itu untuk
mengisi perut. Giska duduk di meja kecil di ujung kantin bersama Abi dan Yoana.
Mereka menikmati pizza mini dan sebotol cola. Ketika tiba-tiba seorang gadis
mendekat ke arah mereka bertiga. Yoana yang lebih dulu menoleh, sementara Abi
dan Giska tengah asik menyeruput colanya. Masih jelas diingatannya, gadis itu
adalah gadis yang sama saat di café kemarin siang. Yoana menyikut lengan Giska
pelan. Giska menoleh, lantas mengikuti arah mata Yoana. Sedikit terkejut, mata
Giska terbelalak. Benarkah dengan apa yang dilihatnya?
“Hai
semua..” sapa Rin.
Abi
langsung menoleh. Rin lagi? Abi memutar
bola matanya. Dilihatnya air muka Giska sudah berubah sejak tadi. Yoana sendiri
sudah tersenyum kaku.
“Boleh
aku gabung disi…”
“Nggak!”
sergah Abi cepat. Ucapan Abi sontak membuat Giska dan Yoana terkejut. Bahkan
mulut Yoana sedikit terbuka. “Kenapa?” tanya Rin pelan, nyaris tak terdengar.
Raut
wajah Abi jauh dari kesan bersahabat. Dia menatap tajam ke arah Rin. Hening
menelingkup sejenak di antara mereka. Sementara Giska memilih diam, hanya
memperhatikan. Dia benar-benar dibuat bingung oleh kemunculan Rin. Semakin
bingung ketika menyadari bahwa gadis itu satu sekolah dengannya, juga Abi.
Namun dia bersyukur melihat sikap Abi yang tegas seperti tadi. Bukan maksudnya
dia bahagia melihat Abi memperlakukan Rin seperti itu, tapi lebih kepada Abi menepati
janjinya.
Seperti
yang diketahui, Rin adalah seseorang dari masa lalu Abi. Kemunculan Rin sempat
membuat Giska berang. Bagaimana tidak, gadis itu muncul disaat Abi telah sah
menjadi kekasihnya. Menurut cerita Yoana, gadis itu telah meninggalkan Abi untuk
sesuatu yang terlihat lebih. Dan ketika sekarang Abi memilih dirinya, gadis itu
tanpa perasaan menunjukkan batang hidungnya. Benar-benar menyebalkan, rutuk Giska dalam hati.
“Kalian
udah selesai makan, kan? Kita balik sekarang!” Ajak Abi seraya melirik Giska
dan Yoana.
Giska
hanya menatap Abi datar. Yoana sendiri sudah bangkit. Abi segera menarik lembut
tangan Giska dan mengajaknya kembali ke kelas. Kejadian itu jelas tertangkap
oleh kedua mata Rin Abi menarik tangan
gadis itu? Hatinya terasa sakit. Tiba-tiba ada gemuruh di dalam dadanya,
ingin rasanya dia menangis saat itu juga. Giska.. gadis itu benar-benar telah
merebut posisinya.
Langit
kembali menangis. Gemuruh petir membuat Giska ngeri, gelegarnya seperti
melucuti nyali. Awan hitam jelas terlihat di atas sana. Dalam keadaan seperti
ini rasanya tak mungkin ia nekat untuk menerobos hujan. Di sudut kanan kelas
itu, Abi menatapnya datar. Giska yang saat ini duduk di meja sudut kiri kelas,
meliriknya sekilas lalu membuang muka. Keadaan selalu menjadi tidak enak
setelah mereka bertemu Rin. Ada pikiran dan dugaan-dugaan tertentu yang tidak
bisa dienyahkan Giska dari dalam hatinya. Ketakutan akan Abi yang akan
berpaling darinya, membuatnya semakin hari semakin mudah marah. Untungnya Abi
paham akan hal itu. Itulah sebabnya mengapa dia memperlakukan Rin seperti saat
di kantin tadi.
“Ngambek
mulu, sih?” celetuk Abi di antara suara hujan.
Giska
diam saja. Dia merebahkan kepalanya di atas meja.
“Aku
baik sama dia, salah. Aku jutek sama dia, lebih salah. Benernya itu gimana?”
tanya Abi lagi.
Giska
menoleh, menatap pemilik mata indah itu beberapa detik. Ada perasaan bersalah
dalam dirinya. Sikapnya seperti ini yang akan justeru membuat Abi lelah.
Separuh hatinya membenarkan pernyataan Abi barusan. Lalu sekarang apa? Bahkan
dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan. Duh, wanita!
“Aku
cuma takut,” Giska akhirnya bersuara.
“Takut
aku tergoda dengan dia lagi?” Abi beranjak dari duduknya, berjalan mendekat ke
arah tempat duduk Giska.
Abi
menatap Giska sambil nyengir. Giska membuang muka, dia paling benci ditatap
seperti itu. “Dengar baik-baik, Dear,
yang perlu kamu ingat saat ini adalah hatiku serupa gembok. Dan kamu adalah
kuncinya. Kita, dua tubuh yang selalu ingin menjadi satu,” Abi mengusap lembut
kepala Giska. “Aku tahu, ketampananku sulit ditolak banyak gadis. Tapi
percayalah, aku cuma bisa jatuh cinta pada satu orang gadis yaitu kamu,” tambah
Abi lagi sambil tertawa.
Giska
menyikut lengan Abi. Dia ikut tertawa. “Karena lelaki baik selalu tahu perihal mana
yang diinginkannya dan mana yang dibutuhkannya. Dan aku lebih memilih
membutuhkanmu, Dear. Gimana? Sekarang
udah percaya?” Abi tersenyum puas. “Oke, aku percaya,” Giska membalas dengan
senyum yang tak kalah puas. “Bersikaplah dewasa, Giska-ku. Besok atau lusa, mungkin
kita akan bertengkar lagi. Namun teruslah berusaha mencintai tanpa letih.
Teruslah menyetia tanpa alpa,” Abi menyentuh pipi Giska lembut.
Giska
tertunduk. Ucapan Abi benar-benar menyadarkannya betapa dia masih terlalu childish untuk gadis seusianya. “Seberapapun
kamu ingin pergi, semoga kamu tak lupa kembali. Seberapapun kamu ingin menjauh,
semoga kamu selalu mengingatku, seseorang yang akan selalu menjadi tutup
cangkirmu,” Ucap Giska tersenyum.
“Kamu
bisa mempercayaiku, Dear..” Abi
menarik tubuh Giska. Lantas memeluknya. Keduanya tersenyum, membayangkan
panggilan sayang yang disematkan Giska pada Abi. Tutup cangkir; ia yang akan
selalu menjadi pasangan cangkir. Ia yang akan selalu menghangatkan isinya. Ia
yang akan selalu menjaga suhunya. Dan Giska, adalah tutup cangkir bagi Abi yang
kedinginan.
Ingin
rasanya dia berbisik pada gadis itu, bahwa saat ini dia telah menemukan yang
tepat. Giska adalah gadis luar biasa yang pernah ditemuinya. Perasaan sayang
sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu masih bertahan sampai detik ini.
Dia memang tak sebaik yang Giska pikirkan. Namun Giska perlu mengerti, Abi yang
bersamanya kini adalah Abi yang ingin selalu memperbaiki diri. Abi yang selalu
ingin melindungi. Dan Abi yang selalu ingin menyembuhkan perih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar