Amak,
begitu aku memanggilnya. Perempuan hebat yang dari rahimnya-lah aku ada.
Perempuan tua berusia 65 tahun yang tak pernah menunjukkan rasa sakitnya,
meskipun aku tahu ia sudah terlalu sering merasakan sakit di bagian kaki. Hari
ini aku pulang, setelah satu tahun aku merantau ke Jakarta. Amak tak pernah alpa menanyakan
kesehatanku. Hampir setiap hari perempuan tua itu mengirimiku pesan singkat.
Tentu saja bukan Amak yang
mengetiknya, tapi Kinta, anak Tek Minah, tetangga kami.
Amak tinggal
seorang diri di rumah gadang peninggalan ayah. Kakak tertuaku tinggal di
Semarang, bersama istri dan dua anak laki-lakinya. Jarang sekali pulang untuk
menengok Amak. Meski seringkali Amak menyuruhnya datang untuk sekadar mencicipi
kolak yang dicampur lemang, makanan kesukaan kakak tertuaku. Tapi kesibukan
membuat dia tak mampu memenuhi keinginan Amak.
“Pulanglah,
Nak. Sabontar sajo. Amak rindu.” Begitu kata Amak dua tahun silam, saat aku belum
berangkat menuju Jakarta, meninggalkan Amak
sendiri. Entah apa yang dikatakan kakak tertuaku di seberang telepon, yang
jelas aku bisa melihat wajah Amak
muram. Mungkin kakak tertuaku itu menolak permintaan Amak dengan seribu alasan. Lain lagi dengan kakak keduaku. Sekarang
dia tinggal di Palembang, ikut suaminya. Hal yang sama pun diutarakan Amak padanya, pulang. Amak merindukan kami, katanya. Tapi,
jawaban yang sama pun diterima telinga Amak.
Kakak keduaku, tidak bisa pulang karena suaminya melarang.
Aku
sendiri, saat kakak perempuanku itu menjadi nak
daro—pengantin perempuan—saat ia menikah, sudah tidak menyukai calon marapulai—pengantin laki-laki—itu.
Bagaimana bisa aku menyukainya, jika menghormati Amak saja dia tak bisa. “Amak
suruh pindah saja ke kamar Inun, biar malam ini Ibu dan adik perempuanku
menempati kamar Amak.” Begitu ucap
lelaki yang telah menjadi iparku. Aku
mendengar percakapan kakak perempuanku dengan suaminya di beranda rumah, saat
pesta pernikahan sudah usai.
Rasanya,
aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin iparku itu mengusir Amak dari kamarnya sendiri demi
kenyamanan tidur Ibu dan adik perempuannya. Ini rumah Amak, harusnya Amak lebih
pantas mengatur, bukan diatur. Tapi lagi-lagi, Amak mengalah. Malam itu, Amak
tidur di kamarku. Memeluk tubuhku dan menyisir rambutku dengan jemarinya. Amak berpesan, semoga kelak aku tidak
salah memilih laki-laki. Pesan Amak
kuterjemahkan sebagai sebuah doa. Aku yakin, Amak berpengharapan ia bisa mendapatkan menantu yang baik satu kali
lagi.
Hari
ini aku pulang dan Amak sangat
bahagia. Aku pun begitu. Rasa bahagiaku tidak terkira saat aku dipeluk Amak. Hangat tubuhnya masih terasa
seperti dulu ia memelukku. Aku menghapus airmata Amak yang tiba-tiba saja membanjiri pipinya. Amak bilang dia sangat bahagia melihat aku pulang. Amak tidak tahu, bahwa aku lebih bahagia
karena bisa kembali melihat wajah cantik Amak.
Dua
minggu aku di rumah dan Amak sangat
melayaniku. Amak membuat kolak,
lemang, jagung bakar, gulai ikan, dan bermacam-macam makanan enak saat aku ada
di rumah. Dua minggu itu pula, aku memanjakan Amak dengan menyiapkan telingaku untuk mendengarkan ceritanya.
Tentang kesepiannya ketika kami semua pergi merantau, tentang kesehariannya
yang hanya ditemani Kinta, dan tentang mimpi Amak belakangan ini yang selalu dipenuhi ayah.
Amak
sekarang sudah tua. Aku bisa merasakan keriput tangan Amak karena kelelahan mengurus rumah. Aku sendiri tidak bisa
berbuat apa-apa karena kontrak pekerjaanku di Jakarta. Malam itu, Amak menanyakan sesuatu yang aku sendiri
enggan menjawabnya. “Ado laki-laki
yang dekat denganmu, Nak?” tanya Amak sambil menyisir rambutku dengan
tangannya. Aku tidur dipangkuan Amak,
di bangku panjang teras rumah. Usiaku 25 tahun, dan Amak masih suka memperlakukanku seperti anak kecil. Dan aku memang
masih suka dibelai rambutnya oleh Amak.
Ingin
aku menjawab, “Ado, Mak.” Tapi rasa-rasanya aku tak sanggup
mengatakannya. Karena itu berarti Amak
akan kehilangan waktuku untuk kembali ke rumah gadang ini. Aku anak perempuan
yang memang sudah sepatutnya ikut suami, ikut semua apa yang dikatakan suami.
Seperti yang terjadi pada kakak perempuanku. Aku tahu, jawabanku bisa saja
membuat dua kemungkinan. Amak bahagia
mendengarnya, atau Amak akan sedih
menerima kenyataan bahwa anak gadis bungsunya akan meninggalkannya untuk waktu
yang lama setelah menikah.
“Tanyolah, kapan keluarga kito akan maresek ke rumahnyo. Biar
Amak siapkan manapiak bandua-nyo,”
Amak tersenyum melihat wajahku dipangkuannya. Tak perlu repot-repotlah, Mak, aku lebih suka saat ini menemani Amak
daripada harus memikirkan pernikahan, batinku. Lagipula, Amak tidak tahu bagaimana
porak-porandanya hatiku setelah tahu kekasihku mengkhianati beberapa waktu
lalu. Sulit bagiku untuk kembali mempercayainya. “Amak tak sabar ingin melihat gadis bungsu Amak jadi nak daro. Pakai
suntiang gadang, pasti rancak sekali.” Amak masih berceloteh, mengeluarkan apa yang tengah dipikirkannya.
Aku hanya tersenyum.
Malam
itu, aku tidur dengan Amak. Ini hari
ke-11 aku berada di rumah gadang. Rumah yang dirawat Amak dengan penuh kasih. Aku tidak menyangka, bahwa percakapan tadi
malam adalah percakapan terakhirku dengan Amak.
Karena keesokan paginya, aku melihat Amak
tak bergerak di samping tubuhku. Subuh sudah berkumandang, tapi Amak belum juga bangun. Aku pikir Amak terlalu kelelahan. Jadi aku
putuskan untuk sholat subuh lebih dulu, setelah itu baru membangunkan Amak.
Usai
sholatku, Amak belum juga terjaga.
Kulihat ia begitu tenang, tapi wajahnya sedikit pucat. Kusentuh jemari tangan Amak, dingin. Perasaan tidak enak
menyergap tubuhku. Aku mengguncang tubuh Amak
pelan, tapi Amak tak juga bangun. Aku
memeluk tubuh Amak, jantungnya telah
berhenti berdetak. Amak-ku telah
pergi untuk selamanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Meneriakkan nama Amak dengan sakit yang mendera dadaku.
Tek
Minah datang bersama Kinta setelah mendengar teriakanku. Tangisanku
menjadi-jadi tatkala tetangga lain ikut menghambur ke rumah gadang kami. Tapi
sekeras apapun aku menangis, Amak
juga tak akan bangun. Perempuan tua itu sudah lelah dan memilih tidur untuk
selamanya. Ucapan Amak malam tadi
hanya pengharapan, Amak tak
benar-benar ingin melihatku memakai suntiang
gadang. Tapi tak apa, aku percaya Amak
lebih bahagia berada di sisi Tuhan bersama ayah. Tiada lagi kesepian yang
merajainya. Tiada lagi tangisan rindu untuk anak-anaknya. Amak sudah berada di surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar