Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Pesan Besar dari Manusia Kecil (Terbit 09 April 2017, Harian Medan Pos)

Dik, lagi-lagi aku melihatmu. Dengan seragam sekolah yang masih melilit badan, juga sebuah kotak dagangan kecil yang kau sampirkan di tubuh mungilmu. Kutaksir usiamu baru 10 tahun. Namun, mainmu sungguh jauh, hingga ke sebuah universitas ternama di kota kita. Ah, aku salah, Dik. Kamu tidak sedang bermain, tidak juga sedang menunggu teman untuk melakukan permainan. Kamu sedang berdagang, menjajakan jualanmu pada setiap pasang mata yang melihat. Atau pada setiap kaki yang melangkah di depanmu.
Terkadang, jika tidak ada satu orang pun yang datang membeli daganganmu, kamu memilih berkeliling menjajakannya. Memutari wilayah depan kampus dengan penuh semangat. Meski matahari tengah bersinar pongah di atas sana, kamu tetap berjalan riang menawarkan semuanya. Dik, beritahu aku bagaimana cara menjalani hidup seperti itu. Dulu, ketika aku seusiamu, yang kutahu hanya sekolah, belajar, bermain dengan teman-teman, dan mengerjakan tugas sekolah. Ketika bel pulang berbunyi, aku akan segera pulang ke rumah untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan Ibu. Setelahnya, aku akan tidur siang, Dik. Melepas lelah ketika setengah hari belajar sambil bermain.
Tapi sungguh berbeda ketika aku melihat dirimu. Dari seragam yang masih kau kenakan, aku tahu bahwa usai pulang sekolah, kau langsung berjualan di depan kampus ini. Benar, Dik, barangkali untuk pemuda seusiaku yang juga menyandang status mahasiswa tahu bahwa semua ini kau lakukan karena himpitan ekonomi. Perekonomian Indonesia memang jauh dari kata mumpuni, Dik. Kelak, jika kau sudah berada di tingkat mahasiswa sepertiku, kau akan tahu bagaimana kondisi wajah perekonomian kita sebenarnya.
Yang aku sayangkan, mengapa anak sekecil dirimu yang harus menanggung beban kehidupan seberat ini? Dulu, saat aku berusia SD sepertimu, disuruh Ibu membeli garam dapur ke warung saja, aku enggan sekali. Apalagi ketika aku sedang bermain dengan teman-teman. Meski aku tetap menuruti suruhan Ibu dengan senyum terpaksa. Apalagi jika saat seusiamu, aku disuruh jualan seperti ini? Dik, terkadang banyak sekali anak-anak di luar sana yang kurang bersyukur mendapatkan posisi ‘tak kekurangan’ dalam hidupnya. Barangkali akulah salah satu di antara anak-anak tak bersyukur itu.
Sekarang, aku jadi punya hobi baru, Dik. Usai pulang kuliah siang begini, aku selalu suka memotretmu secara diam-diam ketika kau berjualan. Dan bahkan aku pernah memotretmu menggunakan kamera handphone-ku ketika kamu tertidur di bawah pohon besar yang ada di depan kampus ini. Aku tahu kau lelah, Dik. Wajah polosmu telah menggambarkan semuanya. Ah, terkadang aku hampir menitikkan air mata ketika aku melihatmu tertidur seperti itu.
Kau mungkin tidak mengenaliku, Dik. Tapi aku pernah dengan sengaja membeli daganganmu. Tidak setiap hari, namun sesekali aku berusaha melihat wajahmu dari dekat dengan membeli tisu yang kau jajakan. Atau sekadar ingin mendengar suaramu dengan membeli roti kering yang kau jual. Kalau anak sekarang bilang, aku ini terkesan modus. Tidak apa-apa, kan, Dik? Kalau aku modus hanya untuk mengetahui siapa namamu. Aku hanya ingin belajar mengenai kehidupan dari seorang anak kecil hebat seperti dirimu.
Ketika musim hujan tiba, tak jarang aku melihatmu memanfaatkan situasi ini. Bermodalkan payung yang tak cukup lebar, kau berlari riang kesana-sini untuk menawarkan jasa payung kepada mahasiswi-mahasiswi cantik yang tengah keluar dari gerbang kampus. Aku memilih memperhatikan kesibukanmu dari depan pos satpam ini. Lihat, lagi-lagi tubuh kecilmu terguyur air hujan. Basah bersama seragam sekolah dan sepatu yang tak lagi hitam itu. Dik, sepatu saja warnanya akan luntur jika terlalu sering terkena panas dan hujan dalam satu waktu. Tapi sangat berbanding terbalik dengan semangatmu menjalani semua itu.
Salut. Hanya satu kata itu yang sering hadir di benakku ketika melihat sosokmu. Berbanggalah Ibumu memiliki malaikat kecil dengan jiwa yang besar sepertimu, Dik. Jauh di dalam hatiku, aku selalu berdoa semoga kelak kau bisa menjadi anak mandiri yang hebat. Yang ditempa Tuhan menjadi anak yang kuat jiwanya. Dan tak luntur semangatnya.
Siang ini, aku memberanikan diri membawakanmu sebuah es krim. Aku tahu, semua anak kecil pasti suka es krim. Dan kau menerima pemberianku dengan senyum mengembang. Meski awalnya kau menolak dengan halus, barangkali kau ingat pesan Ibumu untuk tidak menerima apapun dari orang yang tak dikenal. Tapi jangan takut, aku bukan orang jahat, Dik. Tidak akan ada racun di dalam es krim itu.
Setelahnya kita berbincang sedikit. Kau tidak seagresif anak-anak lain ketika diajak bicara. Kau hanya menjawab ketika ditanya. “Abil.” jawabmu singkat ssambil menatapku takut-takut. Aku tersenyum dan mengusap kepalamu. “Kenapa Abil berjualan setiap pulang sekolah?” tanyaku ingin tahu. Kau diam sejenak, lalu menggeser letak dudukmu sedikit. “Ingin bantu nenek, Kak.” jawabmu singkat.

Terlalu banyak ceritamu yang berhasil mendesak air mataku saat itu, Dik. Tapi aku kelabui dengan mengalihkan pandang ke arah lain, sementara kau masih sibuk menghabiskan es krim yang kuberi. Di akhir percakapan kita, kau mengatakan sesuatu yang membuatku tersentuh. Benar-benar tersentuh, hingga air mataku menderas jatuh. Katamu : “Meskipun saya berjalan lambat dan semuanya terasa berat, tapi  saya tidak pernah berjalan mundur, Kak. Nenek saya bilang, masa depan itu adalah milik orang-orang yang percaya pada mimpi-mimpinya. Dan saya selalu punya mimpi. Tidak besar, tapi ada.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar