Dik,
lagi-lagi aku melihatmu. Dengan seragam sekolah yang masih melilit badan, juga
sebuah kotak dagangan kecil yang kau sampirkan di tubuh mungilmu. Kutaksir
usiamu baru 10 tahun. Namun, mainmu sungguh jauh, hingga ke sebuah universitas
ternama di kota kita. Ah, aku salah, Dik. Kamu tidak sedang bermain, tidak juga
sedang menunggu teman untuk melakukan permainan. Kamu sedang berdagang,
menjajakan jualanmu pada setiap pasang mata yang melihat. Atau pada setiap kaki
yang melangkah di depanmu.
Terkadang,
jika tidak ada satu orang pun yang datang membeli daganganmu, kamu memilih
berkeliling menjajakannya. Memutari wilayah depan kampus dengan penuh semangat.
Meski matahari tengah bersinar pongah di atas sana, kamu tetap berjalan riang
menawarkan semuanya. Dik, beritahu aku bagaimana cara menjalani hidup seperti
itu. Dulu, ketika aku seusiamu, yang kutahu hanya sekolah, belajar, bermain
dengan teman-teman, dan mengerjakan tugas sekolah. Ketika bel pulang berbunyi,
aku akan segera pulang ke rumah untuk menyantap hidangan makan siang yang telah
disediakan Ibu. Setelahnya, aku akan tidur siang, Dik. Melepas lelah ketika
setengah hari belajar sambil bermain.
Tapi
sungguh berbeda ketika aku melihat dirimu. Dari seragam yang masih kau kenakan,
aku tahu bahwa usai pulang sekolah, kau langsung berjualan di depan kampus ini.
Benar, Dik, barangkali untuk pemuda seusiaku yang juga menyandang status
mahasiswa tahu bahwa semua ini kau lakukan karena himpitan ekonomi.
Perekonomian Indonesia memang jauh dari kata mumpuni, Dik. Kelak, jika kau
sudah berada di tingkat mahasiswa sepertiku, kau akan tahu bagaimana kondisi wajah
perekonomian kita sebenarnya.
Yang
aku sayangkan, mengapa anak sekecil dirimu yang harus menanggung beban
kehidupan seberat ini? Dulu, saat aku berusia SD sepertimu, disuruh Ibu membeli
garam dapur ke warung saja, aku enggan sekali. Apalagi ketika aku sedang
bermain dengan teman-teman. Meski aku tetap menuruti suruhan Ibu dengan senyum
terpaksa. Apalagi jika saat seusiamu, aku disuruh jualan seperti ini? Dik, terkadang
banyak sekali anak-anak di luar sana yang kurang bersyukur mendapatkan posisi
‘tak kekurangan’ dalam hidupnya. Barangkali akulah salah satu di antara
anak-anak tak bersyukur itu.
Sekarang,
aku jadi punya hobi baru, Dik. Usai pulang kuliah siang begini, aku selalu suka
memotretmu secara diam-diam ketika kau berjualan. Dan bahkan aku pernah
memotretmu menggunakan kamera handphone-ku
ketika kamu tertidur di bawah pohon besar yang ada di depan kampus ini. Aku
tahu kau lelah, Dik. Wajah polosmu telah menggambarkan semuanya. Ah, terkadang
aku hampir menitikkan air mata ketika aku melihatmu tertidur seperti itu.
Kau
mungkin tidak mengenaliku, Dik. Tapi aku pernah dengan sengaja membeli
daganganmu. Tidak setiap hari, namun sesekali aku berusaha melihat wajahmu dari
dekat dengan membeli tisu yang kau jajakan. Atau sekadar ingin mendengar
suaramu dengan membeli roti kering yang kau jual. Kalau anak sekarang bilang,
aku ini terkesan modus. Tidak
apa-apa, kan, Dik? Kalau aku modus
hanya untuk mengetahui siapa namamu. Aku hanya ingin belajar mengenai kehidupan
dari seorang anak kecil hebat seperti dirimu.
Ketika
musim hujan tiba, tak jarang aku melihatmu memanfaatkan situasi ini.
Bermodalkan payung yang tak cukup lebar, kau berlari riang kesana-sini untuk
menawarkan jasa payung kepada mahasiswi-mahasiswi cantik yang tengah keluar
dari gerbang kampus. Aku memilih memperhatikan kesibukanmu dari depan pos
satpam ini. Lihat, lagi-lagi tubuh kecilmu terguyur air hujan. Basah bersama
seragam sekolah dan sepatu yang tak lagi hitam itu. Dik, sepatu saja warnanya
akan luntur jika terlalu sering terkena panas dan hujan dalam satu waktu. Tapi
sangat berbanding terbalik dengan semangatmu menjalani semua itu.
Salut.
Hanya satu kata itu yang sering hadir di benakku ketika melihat sosokmu.
Berbanggalah Ibumu memiliki malaikat kecil dengan jiwa yang besar sepertimu,
Dik. Jauh di dalam hatiku, aku selalu berdoa semoga kelak kau bisa menjadi anak
mandiri yang hebat. Yang ditempa Tuhan menjadi anak yang kuat jiwanya. Dan tak
luntur semangatnya.
Siang
ini, aku memberanikan diri membawakanmu sebuah es krim. Aku tahu, semua anak
kecil pasti suka es krim. Dan kau menerima pemberianku dengan senyum
mengembang. Meski awalnya kau menolak dengan halus, barangkali kau ingat pesan
Ibumu untuk tidak menerima apapun dari orang yang tak dikenal. Tapi jangan
takut, aku bukan orang jahat, Dik. Tidak akan ada racun di dalam es krim itu.
Setelahnya
kita berbincang sedikit. Kau tidak seagresif anak-anak lain ketika diajak
bicara. Kau hanya menjawab ketika ditanya. “Abil.” jawabmu singkat ssambil
menatapku takut-takut. Aku tersenyum dan mengusap kepalamu. “Kenapa Abil
berjualan setiap pulang sekolah?” tanyaku ingin tahu. Kau diam sejenak, lalu
menggeser letak dudukmu sedikit. “Ingin bantu nenek, Kak.” jawabmu singkat.
Terlalu
banyak ceritamu yang berhasil mendesak air mataku saat itu, Dik. Tapi aku
kelabui dengan mengalihkan pandang ke arah lain, sementara kau masih sibuk
menghabiskan es krim yang kuberi. Di akhir percakapan kita, kau mengatakan
sesuatu yang membuatku tersentuh. Benar-benar tersentuh, hingga air mataku
menderas jatuh. Katamu : “Meskipun saya
berjalan lambat dan semuanya terasa berat, tapi
saya tidak pernah berjalan mundur, Kak. Nenek saya bilang, masa depan
itu adalah milik orang-orang yang percaya pada mimpi-mimpinya. Dan saya selalu
punya mimpi. Tidak besar, tapi ada.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar