“Berjanjilah memegang
tanganku, dalam duka ataupun bahagia. Berjanjilah menghebat bersamaku, jalan
bersisian bukan bersaingan.” Aku menghapus sisa air
mata di pendopo itu. Sore yang pilu, jingga senja tak mampu membasuh lukaku.
Apapun itu, kini aku membencinya. Perihal disakiti, semua orang pasti pernah
merasakannya. Pun perihal menyakiti, setiap orang juga pernah melakukannya.
Namun mengapa aku dan kau yang menjalani alur itu? Mengapa harus aku yang kau
sakiti dan mengapa harus kamu yang menyakitiku?
Kita
sahabat, dulu.. sebelum aku tahu ternyata kau tak menyukaiku. Kita sahabat,
dulu.. sebelum aku tahu kau ingin melenyapkanku. Kita sahabat, dulu.. sebelum
aku tahu kau begitu ingin aku jatuh. Kita sahabat, setidaknya begitulah pandangan
orang-orang tentang kita. Kedekatan yang kita bangun ternyata turut membangun
rasa angkuh dalam dirimu. Kedekatan itu perlahan memakan habis rasa tulusmu.
Kedekatan itu lama kelamaan menjelma menjadi pisau yang tajam. Terlalu dekat,
hingga aku tak sadar bahwa kau telah menikamku amat dalam.
Sakit,
tentu saja. Tapi aku bisa apa? Selain berdoa meminta Tuhan menyembuhkan lukaku
dengan segera. Kau tahu, aku tak pernah membayangkan akan berada di posisi saat
ini. Membencimu dan berusaha keras menjauhkanmu dari hidupku. Aku tak ingin
lagi mengenalmu walau hanya dalam ingatan. Luka ini tak berdarah, namun
sakitnya sampai ke ubun-ubun kepala.
Aku
masih sangat ingat, saat dulu, tidak ada persaingan berarti di antara kita. Kau
temanku, kau sahabatku. Aku membantumu, memberikan apapun yang aku punya,
memberikan apapun yang aku bisa. Tulus tanpa kepura-puraan. Sesaat renggang,
aku berusaha memperbaikinya, meski aku tahu semua akan sia-sia. Purnama
berlalu, dari telinga-telinga jahat aku menangkap cerita tentangmu. Buruk,
tentu saja. Tapi aku tegaskan kepada mereka, bahwa kau tidak seperti itu. Aku
membelamu karena aku yakin kau memang bukan orang seperti itu. Katanya, kau
merusak kebahagiaan orang lain. Aku tidak tahu pasti, yang aku bisa pastikan
adalah aku geram mendengar ocehan mereka.
Kau
tidak tahu? Tentu saja, sebab aku merahasiakannya. Aku tidak mau hatimu
tergores. Aku tidak mau ada yang menyakitimu. Tapi sekali lagi kutegaskan,
bahwa semua itu adalah cerita dulu. Dulu.. saat aku belum mengetahui bahwa kau
sebenarnya ingin menghancurkanku. C’mon,
keuntungan seperti apa yang sebenarnya ingin kau dapatkan? Bukankah sejak awal
aku berteman denganmu tanpa menawarkan apa-apa selain bahagia? Atau, terlalu
burukkah aku sehingga kau dengan tega ingin melakukan itu semua?
Semua
orang tahu, bahwa kau dan aku memiliki hobi yang sama. Kita berdua memiliki
kesukaan yang sama. Mereka sebut itu bakat. Tapi aku rasa ini adalah kesukaan
biasa. Entah kamu, yang barangkali terlalu gila akan pujian mereka. Aku
mengenalkanmu pada sesuatu yang belum kau sadari, bakat melukis. Ya, aku yang
lebih dulu berkecimpung dalam dunia itu. Dan aku sangat senang jika akhirnya
sahabatku juga memiliki bakat yang sama, kesukaan yang sama di bidang melukis.
Dalam
pikirku, aku bisa bertukar cerita denganmu suatu saat nanti. Tentang apa saja
perihal dunia melukis. Aku bisa memainkan cat di kanvas berdua denganmu.
Menggoreskan sketsa sambil bertukar banyak ide. Atau saling menggambarkan diri
kita masing-masing dengan penuh gelak tawa. Berangkat dari keinginanku itulah,
aku berusaha membuka jalanmu dalam melukis. Aku mengenalkanmu pada teman-teman
pelukisku. Aku bantu kau mengikuti berbagai perlombaan melukis. Aku bantu kau
membangun kepercayaan dirimu. Semua aku lakukan dengan tulus, karena kau adalah
sahabatku.
Selang
beberapa bulan kemudian, aku dapati namamu dikenal beberapa orang. Lukisanmu
disukai beberapa pasang mata. Dan kau tahu, itulah alasanku mendukungmu penuh
selama ini. Aku ingin kau juga bisa merasakan kebahagiaan seperti yang aku
rasakan, saat karya kita diapresiasi oleh penikmat karya. Semuanya masih
baik-baik saja, hingga di suatu senja aku mendengar kabar buruk itu. Entah
karena kau sudah mengenal orang baru, entah karena memang seperti inilah
sifat aslimu. Aku tidak tahu.
Senja
itu, di pendopo kampus, aku mendengar semua tentangmu dari mulut-mulut
terpercaya. Orang-orang yang aku yakin sekali tidak akan mengada-ada cerita.
Orang-orang yang selama kukenali tidak pernah bermasalah. Jelas saja, aku lebih
mempercayai mereka. Kau tidak perlu susah payah lagi menjelaskan. Kau hanya
perlu tahu, bahwa Tuhan tidak pernah berkedip untuk setiap kesalahan. Tuhan tak
bisa amnesia untuk setiap perbuatan.
Aku
tidak menutup mata untuk semua hal yang belakangan ini kita alami. Persahabatan
yang kita anggap baik-baik saja, nyatanya menyimpan banyak gejala yang
berpotensi merobohkan segala. Perang dingin beberapa hari terjadi, perubahan
sikapmu terhadapku pun kurasakan dengan sangat nyata. Meski aku masih terus
menepis pikiran buruk itu. Entahlah, barangkali ada sesuatu yang tengah mencuci
otakmu. Atau barangkali kau tengah menemukan titik paling nyamanmu, hingga kini
kau tak membutuhkanku lagi. Tidak masalah, jika hal dasar dan paling permukaan
yang kukenalkan padamu sudah sangat membuatmu angkuh. Kalau saja kau lebih
pintar sedikit, kau bisa mengorek segalanya dari apa yang telah aku lalui
selama ini. Kau bisa mendapatkan keuntungan lebih dari apa yang kau bayangkan.
Sayangnya kau tak sepintar itu, Kawan.
Disaat
aku pernah mati-matian membelamu, dengan tega kau biarkan “seseorang” itu
menghinaku. Bahkan ingin menjatuhkanku dihadapan orang banyak. Untuk apa? Untuk
menaikkan namamu? Atau untuk memperkenalkan lukisanmu yang nyatanya belum semua
orang tahu? Begitukah caramu membalas seseorang yang pernah tulus terhadapmu?
Disaat
aku pernah mati-matian membantumu dalam segala hal, dengan tega kau setuju agar
seseorang itu menghancurkanku, melenyapkanku sampai aku tidak bisa berkutik
lagi. Menjegalku dengan berbagai cara agar aku terpuruk. Merobek tanpa ampun segala
mimpi-mimpiku. Beginikah caramu memperlakukan teman dekatmu? Atau inikah caramu
berterima kasih kepada seseorang yang telah membuka jalanmu? Jika iya, maka aku
sangat berterima kasih padamu. Sebab dengan segala usahamu menjatuhkanku, aku
bisa berdiri dua kali lebih kuat dari apa yang pernah kau bayangkan.
Kau
mengkhianatiku dengan memasang muka manis di depan, namun menusukku di
belakang. Kau merasa baik-baik saja dengan semua yang kau lakukan terhadapku.
Padahal jika saja kau yang tengah berada di posisiku, aku yakin kau tidak akan
sanggup menghadapinya. Apalagi mendapati kenyataan bahwa teman dekatmu-lah yang
tengah berusaha menginjak kepalamu.
Tidakkah
kau sadar bahwa naik itu penting? Namun lebih penting tidak dengan menginjak
kepala orang lain. Menghebat itu boleh, asal tidak dengan menyingkirkan orang
lain. Apalagi dengan berbagai cara demi mendapat sebuah pengakuan. Kau boleh
saja memasang tampang lugu nan polos tanpa dosa dihadapan banyak orang, tapi
kau perlu ingat bahwa Tuhan tidak membutuhkan dramamu. Begitu pun aku.
Kau
boleh saja, menarik perhatian banyak orang dengan lukisan-lukisan sedihmu itu.
Tapi kau juga perlu ingat bahwa Tuhan tidak bisa untuk kau kelabui. Dan kau
juga boleh saja, berkeluh kesah dan bersedih ria di beberapa pasang mata, tapi
kau perlu ingat bahwa Tuhan selalu bisa mengubah bahagia menjadi duka dalam
sekejap. Kau hanya perlu hati-hati dengan drama yang tengah kau mainkan saat
ini. Seseorang yang pernah tulus membantumu, tidak akan pernah berubah jika
saja kau masih bersikap wajar padanya.
Pendopo kampus
menjadi saksi bahwa kau tengah melukai hati seorang gadis. Semburat jingga pun
menjadi saksi bahwa detik itu kau telah meluruhkan kepercayaan seorang sahabat
terbaikmu. Aku tidak akan membawa namamu ke dalam doaku, itu hanya akan
mengotori hati dan pikiranku. Cukuplah Tuhan yang tak pernah tidur itu yang
akan memberi teguran padamu. Tidak sekarang, tidak juga besok atau lusa, pun
lima atau belasan tahun ke depan. Tuhan selalu tahu timing yang tepat untuk mengubah tawa bahagiamu menjadi kesedihan
yang sulit diungkapkan. Selamat menjalani hari tanpa aku. Selamat
bersenang-senang dengan dramamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar