Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Sahabat Pengkhianat (Terbit 05 Maret 2017, Harian Medan Pos)

“Berjanjilah memegang tanganku, dalam duka ataupun bahagia. Berjanjilah menghebat bersamaku, jalan bersisian bukan bersaingan.” Aku menghapus sisa air mata di pendopo itu. Sore yang pilu, jingga senja tak mampu membasuh lukaku. Apapun itu, kini aku membencinya. Perihal disakiti, semua orang pasti pernah merasakannya. Pun perihal menyakiti, setiap orang juga pernah melakukannya. Namun mengapa aku dan kau yang menjalani alur itu? Mengapa harus aku yang kau sakiti dan mengapa harus kamu yang menyakitiku?
Kita sahabat, dulu.. sebelum aku tahu ternyata kau tak menyukaiku. Kita sahabat, dulu.. sebelum aku tahu kau ingin melenyapkanku. Kita sahabat, dulu.. sebelum aku tahu kau begitu ingin aku jatuh. Kita sahabat, setidaknya begitulah pandangan orang-orang tentang kita. Kedekatan yang kita bangun ternyata turut membangun rasa angkuh dalam dirimu. Kedekatan itu perlahan memakan habis rasa tulusmu. Kedekatan itu lama kelamaan menjelma menjadi pisau yang tajam. Terlalu dekat, hingga aku tak sadar bahwa kau telah menikamku amat dalam.
Sakit, tentu saja. Tapi aku bisa apa? Selain berdoa meminta Tuhan menyembuhkan lukaku dengan segera. Kau tahu, aku tak pernah membayangkan akan berada di posisi saat ini. Membencimu dan berusaha keras menjauhkanmu dari hidupku. Aku tak ingin lagi mengenalmu walau hanya dalam ingatan. Luka ini tak berdarah, namun sakitnya sampai ke ubun-ubun kepala.
Aku masih sangat ingat, saat dulu, tidak ada persaingan berarti di antara kita. Kau temanku, kau sahabatku. Aku membantumu, memberikan apapun yang aku punya, memberikan apapun yang aku bisa. Tulus tanpa kepura-puraan. Sesaat renggang, aku berusaha memperbaikinya, meski aku tahu semua akan sia-sia. Purnama berlalu, dari telinga-telinga jahat aku menangkap cerita tentangmu. Buruk, tentu saja. Tapi aku tegaskan kepada mereka, bahwa kau tidak seperti itu. Aku membelamu karena aku yakin kau memang bukan orang seperti itu. Katanya, kau merusak kebahagiaan orang lain. Aku tidak tahu pasti, yang aku bisa pastikan adalah aku geram mendengar ocehan mereka.
Kau tidak tahu? Tentu saja, sebab aku merahasiakannya. Aku tidak mau hatimu tergores. Aku tidak mau ada yang menyakitimu. Tapi sekali lagi kutegaskan, bahwa semua itu adalah cerita dulu. Dulu.. saat aku belum mengetahui bahwa kau sebenarnya ingin menghancurkanku. C’mon, keuntungan seperti apa yang sebenarnya ingin kau dapatkan? Bukankah sejak awal aku berteman denganmu tanpa menawarkan apa-apa selain bahagia? Atau, terlalu burukkah aku sehingga kau dengan tega ingin melakukan itu semua?
Semua orang tahu, bahwa kau dan aku memiliki hobi yang sama. Kita berdua memiliki kesukaan yang sama. Mereka sebut itu bakat. Tapi aku rasa ini adalah kesukaan biasa. Entah kamu, yang barangkali terlalu gila akan pujian mereka. Aku mengenalkanmu pada sesuatu yang belum kau sadari, bakat melukis. Ya, aku yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia itu. Dan aku sangat senang jika akhirnya sahabatku juga memiliki bakat yang sama, kesukaan yang sama di bidang melukis.
Dalam pikirku, aku bisa bertukar cerita denganmu suatu saat nanti. Tentang apa saja perihal dunia melukis. Aku bisa memainkan cat di kanvas berdua denganmu. Menggoreskan sketsa sambil bertukar banyak ide. Atau saling menggambarkan diri kita masing-masing dengan penuh gelak tawa. Berangkat dari keinginanku itulah, aku berusaha membuka jalanmu dalam melukis. Aku mengenalkanmu pada teman-teman pelukisku. Aku bantu kau mengikuti berbagai perlombaan melukis. Aku bantu kau membangun kepercayaan dirimu. Semua aku lakukan dengan tulus, karena kau adalah sahabatku.
Selang beberapa bulan kemudian, aku dapati namamu dikenal beberapa orang. Lukisanmu disukai beberapa pasang mata. Dan kau tahu, itulah alasanku mendukungmu penuh selama ini. Aku ingin kau juga bisa merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan, saat karya kita diapresiasi oleh penikmat karya. Semuanya masih baik-baik saja, hingga di suatu senja aku mendengar kabar buruk itu. Entah karena kau sudah mengenal orang baru, entah karena memang seperti inilah sifat  aslimu. Aku tidak tahu.
Senja itu, di pendopo kampus, aku mendengar semua tentangmu dari mulut-mulut terpercaya. Orang-orang yang aku yakin sekali tidak akan mengada-ada cerita. Orang-orang yang selama kukenali tidak pernah bermasalah. Jelas saja, aku lebih mempercayai mereka. Kau tidak perlu susah payah lagi menjelaskan. Kau hanya perlu tahu, bahwa Tuhan tidak pernah berkedip untuk setiap kesalahan. Tuhan tak bisa amnesia untuk setiap perbuatan.
Aku tidak menutup mata untuk semua hal yang belakangan ini kita alami. Persahabatan yang kita anggap baik-baik saja, nyatanya menyimpan banyak gejala yang berpotensi merobohkan segala. Perang dingin beberapa hari terjadi, perubahan sikapmu terhadapku pun kurasakan dengan sangat nyata. Meski aku masih terus menepis pikiran buruk itu. Entahlah, barangkali ada sesuatu yang tengah mencuci otakmu. Atau barangkali kau tengah menemukan titik paling nyamanmu, hingga kini kau tak membutuhkanku lagi. Tidak masalah, jika hal dasar dan paling permukaan yang kukenalkan padamu sudah sangat membuatmu angkuh. Kalau saja kau lebih pintar sedikit, kau bisa mengorek segalanya dari apa yang telah aku lalui selama ini. Kau bisa mendapatkan keuntungan lebih dari apa yang kau bayangkan. Sayangnya kau tak sepintar itu, Kawan.
Disaat aku pernah mati-matian membelamu, dengan tega kau biarkan “seseorang” itu menghinaku. Bahkan ingin menjatuhkanku dihadapan orang banyak. Untuk apa? Untuk menaikkan namamu? Atau untuk memperkenalkan lukisanmu yang nyatanya belum semua orang tahu? Begitukah caramu membalas seseorang yang pernah tulus terhadapmu?
Disaat aku pernah mati-matian membantumu dalam segala hal, dengan tega kau setuju agar seseorang itu menghancurkanku, melenyapkanku sampai aku tidak bisa berkutik lagi. Menjegalku dengan berbagai cara agar aku terpuruk. Merobek tanpa ampun segala mimpi-mimpiku. Beginikah caramu memperlakukan teman dekatmu? Atau inikah caramu berterima kasih kepada seseorang yang telah membuka jalanmu? Jika iya, maka aku sangat berterima kasih padamu. Sebab dengan segala usahamu menjatuhkanku, aku bisa berdiri dua kali lebih kuat dari apa yang pernah kau bayangkan.
Kau mengkhianatiku dengan memasang muka manis di depan, namun menusukku di belakang. Kau merasa baik-baik saja dengan semua yang kau lakukan terhadapku. Padahal jika saja kau yang tengah berada di posisiku, aku yakin kau tidak akan sanggup menghadapinya. Apalagi mendapati kenyataan bahwa teman dekatmu-lah yang tengah berusaha menginjak kepalamu.
Tidakkah kau sadar bahwa naik itu penting? Namun lebih penting tidak dengan menginjak kepala orang lain. Menghebat itu boleh, asal tidak dengan menyingkirkan orang lain. Apalagi dengan berbagai cara demi mendapat sebuah pengakuan. Kau boleh saja memasang tampang lugu nan polos tanpa dosa dihadapan banyak orang, tapi kau perlu ingat bahwa Tuhan tidak membutuhkan dramamu. Begitu pun aku.
Kau boleh saja, menarik perhatian banyak orang dengan lukisan-lukisan sedihmu itu. Tapi kau juga perlu ingat bahwa Tuhan tidak bisa untuk kau kelabui. Dan kau juga boleh saja, berkeluh kesah dan bersedih ria di beberapa pasang mata, tapi kau perlu ingat bahwa Tuhan selalu bisa mengubah bahagia menjadi duka dalam sekejap. Kau hanya perlu hati-hati dengan drama yang tengah kau mainkan saat ini. Seseorang yang pernah tulus membantumu, tidak akan pernah berubah jika saja kau masih bersikap wajar padanya.
Pendopo kampus menjadi saksi bahwa kau tengah melukai hati seorang gadis. Semburat jingga pun menjadi saksi bahwa detik itu kau telah meluruhkan kepercayaan seorang sahabat terbaikmu. Aku tidak akan membawa namamu ke dalam doaku, itu hanya akan mengotori hati dan pikiranku. Cukuplah Tuhan yang tak pernah tidur itu yang akan memberi teguran padamu. Tidak sekarang, tidak juga besok atau lusa, pun lima atau belasan tahun ke depan. Tuhan selalu tahu timing yang tepat untuk mengubah tawa bahagiamu menjadi kesedihan yang sulit diungkapkan. Selamat menjalani hari tanpa aku. Selamat bersenang-senang dengan dramamu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar