Enyahlah kau
dalam darah hitam menggenang
Dalam paruh
waktu tengah malam
Dengan delapan
tusukan pada bola matamu
Untuk membayar
sakit hatiku!
Enyah.. Enyah..
Enyah..
Raeshita menyayat ujung jari manisnya hingga
mengeluarkan darah segar. Segera ia torehkan tanda silang tepat di ujung
tulisan itu. Sebuah puisi maut telah selesai untuk dihantarkan pada seseorang.
Puisi lima baris dengan kata-kata menyakitkan, membuat siapa pun yang
membacanya turut bergidik ngeri. Raeshita mengambil tisu untuk mengelap darah
yang menetes di atas meja belajarnya. Kemudian mencampakkan dengan kasar ke
dalam tempat sampah di ujung pintu.
Ia segera melipat kertas itu dan memasukkannya ke
dalam amplop hitam segiempat. Kemudian beranjak bangkit dari kamarnya. Menutup
kepala dengan jubah yang sehari-hari ia kenakan. Pribadinya yang misterius
membuatnya tidak memiliki satu orang teman pun. Siapalah yang berani berteman
dengan gadis dingin seperti Raeshita. Bahkan dari bisik-bisik tetangga, ia
sering disebut sebagai anak kutukan keluarga Patricia.
Patricia adalah nenek kandung dari Raeshita. Ya,
Raeshita hanya tinggal berdua dengan sang nenek di sebuah rumah besar bercorak
Hindia-Belanda. Sehari-hari, Raeshita hanya mengurung diri di kamar seusai
pulang dari sekolah. Dia tak suka bersosialisasi. Juga tak menyukai orang-orang
yang sibuk mengurusi kehidupan pribadinya. Mulanya, ia tak begitu. Ia adalah
gadis manis yang suka berteman. Yang senang bermain hujan di belakang halaman
rumahnya. Atau sekadar berkorespondensi dengan teman satu kursusnya.
Namun, semua berubah ketika beberapa orang mulai
menyakiti hatinya. Bertanya perihal kedua orangtuanya, perihal hidupnya yang
kelihatan begitu penuh misteri, juga perihal dirinya yang terkesan seperti
bayang-bayang. Ya, Raeshita hidup dalam kukungan kutukan sang nenek. Patricia,
wanita berusia 76 tahun itu adalah seseorang yang hidup dalam bayang hitam
kelompok iblis. Dia memiliki kekuatan yang bisa ia gunakan untuk membalas semua
kejahatan orang-orang yang pernah menyakitinya.
Dan melalui Raeshita lah, dia mulai melancarkan
aksinya. Raeshita yang sangat menyukai puisi, dijadikan sebagai alat oleh
Patricia untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang pernah mengkhianatinya.
Bukan itu saja, Raeshita juga diberi keleluasaan untuk menggunakan kehebatannya
itu.
“Lakukan ini
jika satu di antara manusia itu menyakiti hatimu, Sweety!”
bisik sang nenek di telinga Raeshita seraya memberikan selembar kertas berisi
mantra-mantra.
Raeshita mengangguk. Dan kini, ia menggunakannya
untuk seseorang yang begitu menyakiti hatinya. Seorang teman yang dulu sangat
dekat dengannya, teman tempat bercerita apa saja, dan teman yang memiliki
impian yang sama dengannya. Raeshita melakukan kesalahan dan Yofa, temannya
itu, menghajarnya dengan kata-kata kasar yang tidak pantas dikatakan seorang
sahabat pada sahabatnya.
“Lebih baik kau menghujam perutku dengan pisau,
daripada aku harus mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut sahabatku sendiri!”
bentak Raeshita di pertengkarannya dengan Yofa kala itu.
Raeshita telah sampai di depan rumah bercat hijau
muda. Ia memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihat.
Diselipkannya amplop hitam itu dari bawah pintu. Dengan gurat wajah beku, ia
meninggalkan tempat itu dengan santai. Dalam hati dia berbisik, “Habislah kau manusia bermulut busuk!”
Keesokan paginya, sekolah dihebohkan dengan berita
kematian seorang siswa laki-laki bernama Yofa. Pengumuman itu disampaikan
langsung oleh kepala sekolah pada upacara pagi tadi. Ujung bibir Raeshita
tertarik sedikit, ia tersenyum. Senyuman dingin yang tergambar jelas di wajah
pucatnya. Dan angin segar seperti baru saja masuk melalui rongga dadanya.
Dendamnya telah selesai.
Kematian misterius dengan 8 tusukan benda tajam di
mata Yofa tentu saja membuat seluruh warga sekolah bergidik ngeri. Siapa yang
tega berbuat sekejam itu pada anak laki-laki yang terkenal cerdas dan baik hati
itu? Begitulah bisik-bisik yang terdengar dari mulut teman-temannya di sekolah.
Raeshita mendengus sebal mendengarnya, anak
laki-laki yang kalian bilang baik hati itu, nyatanya memiliki hati yang buruk untuk
menghakimiku! Batin Raeshita dalam hati.
Ini bukan kasus kematian misterius pertama yang
menimpa murid di sekolah Raeshita. Sebelumnya telah ada 4 siswa yang juga
mengalami hal serupa. Namun, siapa yang bisa membuktikan bahwa ada orang lain
yang dengan sengaja membunuh para siswa sekejam itu. Tak satu pun juga yang
menyangka bahwa Raeshita lah dalang di balik setiap kejadian pembunuhan
tersebut.
Murid pertama yang mati dengan sangat tak wajar
adalah Sabel. Kematiannya sangat menggemparkan sekolah. Ia mati dengan dua
gunting yang menancap di lehernya. Entahlah apa penyebabnya, bahkan sampai kini
tak satu orang pun berhasil mengungkap kasus kematian gadis berambut pirang
itu.
Murid kedua bernama Orika. Gadis manis dengan dua
lesung pipi ini pun mati dengan sangat tragis. Ia terus-terusan muntah darah
usai menyantap coklat kiriman yang ia terima di depan kotak surat rumahnya. Kejadian
misterius ini jelas membuat pihak sekolah merasa sangat prihatin. Sebab dalam
beberapa bulan ini, selalu saja ada laporan siswa yang meninggal dengan cara
tak wajar.
Murid ketiga bernama Sean. Laki-laki pebasket yang
sangat terkenal di seantero sekolah. Mati dengan cara mengenaskan ketika ring
basket yang terbuat dari besi itu jatuh menimpa kepalanya saat pertandingan.
Sontak, seluruh siswa yang menonton saat itu histeris melihat kejadian berdarah
itu. Sean sempat dilarikan ke rumah sakit namun meninggal di dalam perjalanan.
Anehnya, setiap kematian itu terjadi, selalu
ditemukan sebuah surat berisikan puisi dengan bercak darah bertanda silang di
ujung kertasnya. Puisi dengan amplop hitam yang tidak lazim digunakan orang
untuk berkirim surat telah diketahui masyarakat beberapa waktu lalu. Mereka
beranggapan bahwa itu adalah puisi kutukan. Barangsiapa yang mendapat kiriman
puisi itu di bawah pintu rumahnya, adalah tanda bahwa orang tersebut tidak akan
hidup lebih lama. Dan kejadian-kejadian aneh akan segera datang menghampiri.
Sebagian kecil orang yang mendapatkan kematian
mengerikan itu adalah orang-orang yang telah melukai perasaan Raeshita. Dia
selalu menulis puisi itu di tengah malam tepat jam 12 malam. Saat semua
dengkuran manusia menggantung di angkasa. Jari jemari Raeshita juga terdapat
banyak sayatan, sebab dia memerlukan darah untuk membuat tanda pada puisi yang
akan dikirimkannya pada orang yang akan dibunuhnya.
Setelah membaca mantra yang entah apa, dia mulai
melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop hitam. Lantas esok,
pagi-pagi sekali, ia akan mengirimkannya lewat bawah pintu rumah orang yang
dituju. Raeshita selalu merasa puas bias membalas segala dendam yang
menggelayuti hatinya. Setidaknya itu adalah balasan yang paling pantas untuk
orang-orang bermulut busuk, begitu pikirnya.
Malam ini, Raeshita
kembali bekerja. Bekerja mencipta puisi sadis yang tak kalah mengerikan.
Setelah lelah seharian mendapati orang-orang ramai memperbincangkan tentang
kematian Yofa, ia kembali menuntaskan dendam. Dengan perasaan penuh amarah, ia
menyayat ujung kelingkingnya dan menampung darah pada cawan kecil.
Disilangkannya pada ujung puisi. Raeshita tersenyum kecut, surat ini akan
segera sampai, kali ini untuk seseorang yang berani menolak cintanya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar