Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Puisi Kutukan Raeshita (Terbit 19 Oktober 2016, Flores Sastra)

Enyahlah kau dalam darah hitam menggenang
Dalam paruh waktu tengah malam
Dengan delapan tusukan pada bola matamu
Untuk membayar sakit hatiku!
Enyah.. Enyah.. Enyah..

Raeshita menyayat ujung jari manisnya hingga mengeluarkan darah segar. Segera ia torehkan tanda silang tepat di ujung tulisan itu. Sebuah puisi maut telah selesai untuk dihantarkan pada seseorang. Puisi lima baris dengan kata-kata menyakitkan, membuat siapa pun yang membacanya turut bergidik ngeri. Raeshita mengambil tisu untuk mengelap darah yang menetes di atas meja belajarnya. Kemudian mencampakkan dengan kasar ke dalam tempat sampah di ujung pintu.
Ia segera melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop hitam segiempat. Kemudian beranjak bangkit dari kamarnya. Menutup kepala dengan jubah yang sehari-hari ia kenakan. Pribadinya yang misterius membuatnya tidak memiliki satu orang teman pun. Siapalah yang berani berteman dengan gadis dingin seperti Raeshita. Bahkan dari bisik-bisik tetangga, ia sering disebut sebagai anak kutukan keluarga Patricia.
Patricia adalah nenek kandung dari Raeshita. Ya, Raeshita hanya tinggal berdua dengan sang nenek di sebuah rumah besar bercorak Hindia-Belanda. Sehari-hari, Raeshita hanya mengurung diri di kamar seusai pulang dari sekolah. Dia tak suka bersosialisasi. Juga tak menyukai orang-orang yang sibuk mengurusi kehidupan pribadinya. Mulanya, ia tak begitu. Ia adalah gadis manis yang suka berteman. Yang senang bermain hujan di belakang halaman rumahnya. Atau sekadar berkorespondensi dengan teman satu kursusnya.
Namun, semua berubah ketika beberapa orang mulai menyakiti hatinya. Bertanya perihal kedua orangtuanya, perihal hidupnya yang kelihatan begitu penuh misteri, juga perihal dirinya yang terkesan seperti bayang-bayang. Ya, Raeshita hidup dalam kukungan kutukan sang nenek. Patricia, wanita berusia 76 tahun itu adalah seseorang yang hidup dalam bayang hitam kelompok iblis. Dia memiliki kekuatan yang bisa ia gunakan untuk membalas semua kejahatan orang-orang yang pernah menyakitinya.
Dan melalui Raeshita lah, dia mulai melancarkan aksinya. Raeshita yang sangat menyukai puisi, dijadikan sebagai alat oleh Patricia untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang pernah mengkhianatinya. Bukan itu saja, Raeshita juga diberi keleluasaan untuk menggunakan kehebatannya itu.
“Lakukan ini jika satu di antara manusia itu menyakiti hatimu, Sweety!” bisik sang nenek di telinga Raeshita seraya memberikan selembar kertas berisi mantra-mantra.
Raeshita mengangguk. Dan kini, ia menggunakannya untuk seseorang yang begitu menyakiti hatinya. Seorang teman yang dulu sangat dekat dengannya, teman tempat bercerita apa saja, dan teman yang memiliki impian yang sama dengannya. Raeshita melakukan kesalahan dan Yofa, temannya itu, menghajarnya dengan kata-kata kasar yang tidak pantas dikatakan seorang sahabat pada sahabatnya.
“Lebih baik kau menghujam perutku dengan pisau, daripada aku harus mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut sahabatku sendiri!” bentak Raeshita di pertengkarannya dengan Yofa kala itu.
Raeshita telah sampai di depan rumah bercat hijau muda. Ia memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihat. Diselipkannya amplop hitam itu dari bawah pintu. Dengan gurat wajah beku, ia meninggalkan tempat itu dengan santai. Dalam hati dia berbisik, “Habislah kau manusia bermulut busuk!”
Keesokan paginya, sekolah dihebohkan dengan berita kematian seorang siswa laki-laki bernama Yofa. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh kepala sekolah pada upacara pagi tadi. Ujung bibir Raeshita tertarik sedikit, ia tersenyum. Senyuman dingin yang tergambar jelas di wajah pucatnya. Dan angin segar seperti baru saja masuk melalui rongga dadanya. Dendamnya telah selesai.
Kematian misterius dengan 8 tusukan benda tajam di mata Yofa tentu saja membuat seluruh warga sekolah bergidik ngeri. Siapa yang tega berbuat sekejam itu pada anak laki-laki yang terkenal cerdas dan baik hati itu? Begitulah bisik-bisik yang terdengar dari mulut teman-temannya di sekolah. Raeshita mendengus sebal mendengarnya, anak laki-laki yang kalian bilang baik hati itu, nyatanya memiliki hati yang buruk untuk menghakimiku! Batin Raeshita dalam hati.
Ini bukan kasus kematian misterius pertama yang menimpa murid di sekolah Raeshita. Sebelumnya telah ada 4 siswa yang juga mengalami hal serupa. Namun, siapa yang bisa membuktikan bahwa ada orang lain yang dengan sengaja membunuh para siswa sekejam itu. Tak satu pun juga yang menyangka bahwa Raeshita lah dalang di balik setiap kejadian pembunuhan tersebut.
Murid pertama yang mati dengan sangat tak wajar adalah Sabel. Kematiannya sangat menggemparkan sekolah. Ia mati dengan dua gunting yang menancap di lehernya. Entahlah apa penyebabnya, bahkan sampai kini tak satu orang pun berhasil mengungkap kasus kematian gadis berambut pirang itu.
Murid kedua bernama Orika. Gadis manis dengan dua lesung pipi ini pun mati dengan sangat tragis. Ia terus-terusan muntah darah usai menyantap coklat kiriman yang ia terima di depan kotak surat rumahnya. Kejadian misterius ini jelas membuat pihak sekolah merasa sangat prihatin. Sebab dalam beberapa bulan ini, selalu saja ada laporan siswa yang meninggal dengan cara tak wajar.
Murid ketiga bernama Sean. Laki-laki pebasket yang sangat terkenal di seantero sekolah. Mati dengan cara mengenaskan ketika ring basket yang terbuat dari besi itu jatuh menimpa kepalanya saat pertandingan. Sontak, seluruh siswa yang menonton saat itu histeris melihat kejadian berdarah itu. Sean sempat dilarikan ke rumah sakit namun meninggal di dalam perjalanan.
Anehnya, setiap kematian itu terjadi, selalu ditemukan sebuah surat berisikan puisi dengan bercak darah bertanda silang di ujung kertasnya. Puisi dengan amplop hitam yang tidak lazim digunakan orang untuk berkirim surat telah diketahui masyarakat beberapa waktu lalu. Mereka beranggapan bahwa itu adalah puisi kutukan. Barangsiapa yang mendapat kiriman puisi itu di bawah pintu rumahnya, adalah tanda bahwa orang tersebut tidak akan hidup lebih lama. Dan kejadian-kejadian aneh akan segera datang menghampiri.
Sebagian kecil orang yang mendapatkan kematian mengerikan itu adalah orang-orang yang telah melukai perasaan Raeshita. Dia selalu menulis puisi itu di tengah malam tepat jam 12 malam. Saat semua dengkuran manusia menggantung di angkasa. Jari jemari Raeshita juga terdapat banyak sayatan, sebab dia memerlukan darah untuk membuat tanda pada puisi yang akan dikirimkannya pada orang yang akan dibunuhnya.
Setelah membaca mantra yang entah apa, dia mulai melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop hitam. Lantas esok, pagi-pagi sekali, ia akan mengirimkannya lewat bawah pintu rumah orang yang dituju. Raeshita selalu merasa puas bias membalas segala dendam yang menggelayuti hatinya. Setidaknya itu adalah balasan yang paling pantas untuk orang-orang bermulut busuk, begitu pikirnya.
Malam ini, Raeshita kembali bekerja. Bekerja mencipta puisi sadis yang tak kalah mengerikan. Setelah lelah seharian mendapati orang-orang ramai memperbincangkan tentang kematian Yofa, ia kembali menuntaskan dendam. Dengan perasaan penuh amarah, ia menyayat ujung kelingkingnya dan menampung darah pada cawan kecil. Disilangkannya pada ujung puisi. Raeshita tersenyum kecut, surat ini akan segera sampai, kali ini untuk seseorang yang berani menolak cintanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar