Membuminya Bahasa
Indonesia di Tanah Internasional
Oleh : Nanda Dyani
Amilla
Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa bahasa
Indonesia saat ini sudah dipakai dan dipelajari di belahan dunia lain selain
Indonesia. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuk bangsa Indonesia,
mengetahui bahwa bahasa nasional kita sudah mulai mendunia. Meski banyak kawula
muda yang menganggap bahwa bahasa Indonesia kalah menarik dengan bahasa-bahasa
asing, nyatanya bahasa Indonesia sudah mampu menembus kancah internasional.
Beberapa fakta cukup mencengangkan adalah bahwa
bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling populer di negara Paman Sam, yakni
Amerika. Bahasa Indonesia juga termasuk bahasa yang resmi di negara Vietnam.
Dan bahasa Indonesia juga dikembangkan di negara Piramid yaitu Mesir. Masih
banyak lagi negara-negara yang menggunakan bahasa Indonesia, baik itu dalam
sebuah percakapan maupun pelajaran.
Lantas, mengapa orang Indonesia masih enggan
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Kenyataannya adalah kita
terlalu sering mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, seperti
bahasa Inggris. Alasan yang paling banyak dilontarkan adalah agar terlihat
keren dan kekinian. Orang-orang yang berdialog dengan menggunakan bahasa
Inggris dinilai lebih berkelas dibanding orang-orang yang menggunakan bahasa
Indonesia.
Dalam rapat, pertemuan, ataupun seminar-seminar
resmi, beberapa orang juga kerap menggunakan bahasa Inggris. Pamflet, spanduk,
dan poster-poster yang ada di jalanan juga telah terinfeksi menggunakan bahasa
Inggris. Memang benar, bahasa Inggris adalah bahasa internasional, yang berarti
bahasa pemersatu suatu bangsa dengan bangsa lain. Namun kelirunya adalah
mengapa kita warga negara Indonesia malah menggunakan bahasa Inggris? Bukankah
dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita saja sudah
lebih dari cukup untuk memahami sesuatu?
Pro dan kontra pun mulai bermunculan. Bagaimana
mungkin bangsa lain lebih mencintai bahasa Indonesia dibanding bangsa Indonesia
itu sendiri. Bukankah kalimat “Aku cinta padamu” akan terasa lebih syahdu
diucapkan ketimbang menggunakan kata “I love you”? Bukankah kata “contact
person” lebih baik jika diganti dengan “narahubung”? Bukankah kata “loudspeaker” lebih enak jika
diganti dengan “pengeras suara”? dan bukankah kata “presenter” lebih baik jika
diganti dengan “pewara”?
Kata-kata yang penulis contohkan di atas tadi adalah
sebagian kecil kata-kata yang kurang dipahami oleh masyarakat Indonesia jika
diubah ke dalam bahasa Indonesia. Mereka terlalu sering dijejali kata-kata
hasil saduran bahasa Inggris, sehingga kurang mengenal bahasa asli Indonesia.
Sangat disayangkan, di saat bangsa lain jatuh hati pada bahasa Indonesia,
bangsa Indonesia sendiri kurang menghargai bahasa nasionalnya.
Anjani Mutter dalam soulofjakarta.com
menuliskan bahwa bahasa Indonesia telah dipelajari di lebih dari 45 negara di
dunia. Minat orang-orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia terbilang
tinggi. Menurut Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri,
Andri Hadi, saat ini ada 45 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia di
wilayahnya, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan sebagainya. Di
Australia bahkan bahasa Indonesia menjadi bahasa populer ke-4 dan ada 500
sekolah yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran.
Sungguh sebuah kenyataan yang membanggakan. Di saat
bangsa Indonesia tidak begitu jatuh hati pada bahasanya sendiri, bangsa-bangsa
lain malah amat sangat mencintai bahasa Indonesia. Kenyataan yang penulis alami
sendiri adalah banyaknya cemoohan dan sindiran dari orang lain terhadap jurusan
bahasa Indonesia di perkuliahan. Mereka menganggap bahwa pelajaran bahasa
Indonesia terbilang mudah. Padahal kenyataannya adalah jika disurvey secara random, maka nilai bahasa Indonesia
adalah nilai yang paling rendah dan sulit mendapatkan nilai tinggi dibanding
nilai-nilai mata pelajaran yang lain. Itu berarti bahasa Indonesia bukanlah
sebuah mata pelajaran yang bisa dipandang sebelah mata.
Orang-orang di luar jurusan bahasa Indonesia, akan
selalu berpikir bahwa jurusan bahasa Indonesia adalah jurusan termudah di semua
universitas. Padahal jika kalian mau mengintip sedikit saja, betapa babak
belurnya anak-anak jurusan bahasa Indonesia yang bertemu dengan linguistik,
fonetik, morfologi, sintaksis, semiotik, sosiolingusitik, psikolinguistik,
kritik sastra, dan lain sebagainya. Jelas itu bukan perkara mudah dibanding apa
yang kalian lihat.
Tribunnews.com
menuliskan membuminya bahasa Indonesia juga berasal dari segi makanan yang bisa
menyumbang banyak kosakata melalui diplomasi dalam acara berstandar
internasional. Upaya juga dilakukan dengan membuka pameran makanan di luar
negeri. Kosakata dalam penyajian makanan seperti cara membuatnya, bisa tetap
menggunakan bahasa Inggris. Tetapi penyebutan nama makanan tetap bahasa
Indonesia, sehingga bisa jadi kosakata dunia.
Berbanggalah kita sebagai bangsa Indonesia.
Cintailah bahasa kita seperti orang-orang asing yang jatuh hati pada bahasa
kita. Mulailah untuk mencintai bahasa Indonesia dengan cara menggunakannya
dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidakkah kita semua sadar bahwa bahasa
Indonesia tak kalah keren dari bahasa-bahasa asing? Bahasa Indonesia itu syahdu
dan penuh makna. Sunggguh, tidak ada larangan untuk mempelajari bahasa asing,
tetapi orang yang baik adalah orang yang tidak akan pernah melupakan rumahnya
sendiri, yakni bangsa dan bahasa Indonesia.
(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Semester 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar