Kepada
wanita yang kupinjam rahimnya untuk dapat melihat dunia,
Apa
kabar, Ma? Sehatkah kamu di sana? Bagaimana keadaan surga? Apakah seindah
cerita kita waktu itu? Apakah di sana banyak bidadari dan buah-buahan? Apa di
sana juga banyak hiburan? Atau kamu merasa kesepian? Ayo, Ma.. berceritalah.
Berceritalah padaku, gadis bungsumu yang keras kepala. Aku rindu gaya bicaramu.
Aku rindu caramu menyampaikan sesuatu. Aku rindu semua tentang kamu.
Lama
tak berjumpa ya, Ma. Aku suka heran, kenapa Tuhan memisahkan jasad kita sejauh
ini. Mengapa Tuhan membiarkan aku kehilangan satu sumber kebahagiaanku. Mengapa
Tuhan mengambil kamu pada 2010 lalu. Aku suka iri, Ma, jika sekarang aku
mendapati banyak sekali teman-teman yang bercerita tentang ibunya. Tentang
betapa rewelnya sang ibu setiap pagi, tentang bagaimana kebersamaan mereka
setiap hari.
Dulu,
kita juga pernah seperti itu, kan, Ma? Ya, kita pernah seperti mereka. Kamu
adalah cinta pertamaku di dunia. Orang yang kulihat setiap paginya, orang yang
kudengar omelannya, dan orang yang menghapus segala lelah. Bagaimana mungkin
aku bisa melupa, saat orang yang kujatuhcintai setiap hari, akhirnya memilih
pergi tak kembali.
Ma,
lima belas juni dua ribu sepuluh, kamu benar-benar membuatku patah hati. Ini
lebih sakit dari sekadar mendengar amarahmu. Ini lebih sakit dari sekadar
jeweranmu. Ini lebih sakit dari sekadar cubitanmu. Ini sakit sesakit-sakitnya
orang sakit, Ma. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan kehilanganmu
secepat ini. Menjalani semuanya tanpa berpegangan pada tanganmu lagi. Bahkan
aku sempat lupa bagaimana caranya untuk bangkit, tersenyum, dan menjadi bahagia
kembali.
Orang-orang
tentu tak peduli, Ma, pada apa yang aku rasakan kala itu. Yang mereka tahu aku
tabah. Ya, aku memang tak menangis sekencang Kakak waktu itu. Aku memilih diam
dan membiarkan pedihku semakin membiru. Saat itu aku hanya ingin menghabiskan
waktu menatap wajah pucatmu. Aku tak ingin kehilangan satu detik pun tanpa
melihat kamu. Semua kenangan yang pernah ada, berlompatan keluar dari kepalaku.
Sambung menyambung membentuk kesedihan yang maha dahsyat.
Malam
itu, saat dengkuran manusia terdengar di mana-mana, saat semua lelah telah
menguap ke angkasa, Tuhan memanggilmu dalam khusnul khotimah. Ayah mengabari
meski sesekali mematikan sambungan telepon. Aku tahu, Ma, beliau tidak sanggup
memberitahukannya pada kami. Waktu itu umurku baru 14 tahun, dan aku akan
sangat bersedih jika harus mendengar kenyataan pahit ini.
Tuhan
memanggilmu pada pukul 2 malam. Saat semua orang sedang lelap dari hiruk pikuknya
dunia. Saat aku tengah bermimpi indah tentang kesembuhanmu. Tapi kamu malah
memilih tidur untuk selamanya. Kamu tidak ingin bangun, Ma? Meski hanya untuk
sekadar mengecup kening kami satu persatu, atau membuat masakan lezat untuk
yang terakhir kalinya.
Kepada
perempuan yang dari cintanya-lah aku ada,
Aku
masih sangat ingat, saat kamu masih dirawat di rumah. Dengan selang infus dan
sebuah senyum manis, kamu berjanji untuk sembuh. Kamu berjanji padaku, Ma. Kamu berjanji akan
sembuh sebelum pembagian raportku minggu depan. Kamu berjanji sambil mengusap
kepalaku. Kamu bilang kamu akan sembuh. Kamu bilang kamu akan mengambil raport
kenaikan kelasku. Kamu bilang semuanya akan baik-baik saja. Aku masih ingat
sekali kamu mengatakan itu, Ma.
Aku
menunggu janjimu sampai hari di mana kamu dilarikan ke rumah sakit. Pada malam
yang dingin, kamu meninggalkan rumah dengan segala pesan yang kau titip pada
Bibi. Hanya ayah, nenek, dan paman yang menemanimu ke sana. Kamu melarang kami
ikut. Ma. Selama kamu di rumah sakit, kami benar-benar kewalahan mengurus
segalanya seorang diri. Membereskan rumah sendiri, masak sendiri, tidur
sendiri, dan mengerjakan tugas sekolah sendiri.
Tidak
ada kamu seperti kebiasaan kita setiap hari. Selama 6 hari di rumah sakit, aku
berkesempatan menjengukmu hanya sekali. Saat itu aku dan Kakak sedang ujian
kenaikan kelas, dan ayah melarang kami untuk ke rumah sakit. Ayah bilang bahwa
kamu baik-baik saja. Di hari ke 4 kamu dirawat, aku dan Kakak datang
menjengukmu. Hey, kenapa kamu berubah sekali? Kenapa wajahmu sepucat itu, Ma?
Kenapa tubuhmu menjadi selemah itu? Aku hampir menangis di depanmu kalau saja
Kakak tak segera mencubit lenganku.
Kamu
berbeda dari biasanya. Tubuhmu pun tampak menjadi kurus, dengan beberapa selang
yang aku tak tahu apa namanya, semuanya menempel di tubuhmu. Tubuh yang dulu
selalu aku peluk sepulang sekolah dan menjelang tidur. Ma, apa kamu tahu bahwa
aku tak sanggup melihatmu dalam keadaan seperti itu? Bukan karena aku terlalu
sering menonton film, tapi jujur saja, aku ingin menggantikan posisimu kala
itu. Aku ingin kamu sembuh. Aku ingin, aku saja yang sakit. Setidaknya aku bisa
meringankan bebanmu walau sedikit.
Tapi
lihatlah, kamu menyambut aku dan Kakak dengan senyum manismu. Senyum yang selalu
aku suka. Aku memegang tanganmu. Dingin. Lagi-lagi hatiku sakit. Apa kondisimu
separah itu? Atau ini hanya perasaanku saja?
Aku
bercerita banyak tentang sekolah. Tentang ujian pertamaku tanpa kamu, Ma. Tanpa
kamu yang mengawasiku belajar seperti biasa. Kakak pun begitu, dia menceritakan
hal serupa. Kenapa kami lakukan itu? Karena kami tak ingin kamu luput dari
semua kisah yang kami jalani di sekolah. Bukankah selama ini kamu yang
mengajari kami tentang keterbukaan? Saling mendengar dan menasehati. Seperti
air dan cangkirnya.
Sore
itu, aku pulang dengan perasaan bahagia. Bahagia karena sudah menuntaskan rindu
di wajahmu. Meski dua hari kemudian, aku harus menangis sekeras-kerasnya saat
mendengar kabar paling kubenci malam itu. Tuhan seperti membolak-balikkan
hatiku. Menempatkan bahagia sebelum akhirnya harus merasakan duka.
Ma,
lima belas juni itu, masih sangat segar diingatanku. Sampai mati aku tak pernah
bisa melupakannya. Aku takkan pernah bisa melupakan masa-masa paling sulit
dalam hidupku. Di depan tubuhmu yang mulai kaku, aku berdoa banyak-banyak,
semoga Tuhan menempatkanmu di tempat paling indah yang Dia punya. Aku terus
menatap wajahmu, berharap kamu membuka mata dan menghentikan lelucon gila ini.
Aku berharap bahwa semuanya hanya mimpi buruk.
Tapi
berjam-jam lamanya aku memandangmu, kamu tak kunjung bergerak. Kamu tidur
dengan tenang diiringi tangis dan doa-doa. Kamu tahu, Ma, banyak hati yang
terluka sebab kepergianmu. Aku, Ayah, Kakak, dan si bungsu jagoan kita yang
masih berusia 7 tahun saat itu. Dia sampai demam dan hanya tertidur dipangkuan
Bibi.
Aku
tahu, dia belum paham tentang arti kehilangan. Dia belum paham mengapa semua
orang menangis. Dia belum paham mengapa kamu tidak kunjung bangun. Yang dia
tahu cuma satu, kamu sudah pergi jauh. Sangat jauh. Itu yang kami sampaikan
padanya.
Kepada
perempuan yang senyumnya selalu aku rindukan,
Aku
hampir menjerit ketika mereka menyuruhku menciummu untuk yang terakhir kalinya.
Sebelum keranda itu membawamu menuju tanah pekuburan. Aku menciummu dengan perasaan
yang berdarah-darah, Ma. Aku menangis sejadi-jadinya. Sakit ini tak bisa lagi
aku palsukan. Bahkan ketika menuliskan ini, air mataku pun tak kunjung
berhenti.
Saat
itu aku berpikir, bagaimana aku tanpa kamu. Bagaimana kehidupanku selanjutnya
jika tak ada kamu. Bagaimana, Ma? Aku bahkan tak ingin mereka membawamu dengan
keranda hijau itu. Etek memeluk tubuhku yang bergetar hebat saat itu. Tangisku
pecah di dadanya. Sekuat apa pun hatiku berontak, mereka akan tetap membawamu.
Tiba-tiba
semua kenangan selama kamu di rumah sakit terlempar ke luar dari kepalaku.
Tentang bagaimana aku dan Kakak untuk pertama kalinya memasak. Sebenarnya aku
ingin menceritakannya padamu, Ma. Nanti, setelah kamu sehat. Aku akan
menceritakannya seperti semua kejadian yang pernah aku lewati sebelumnya. Duduk
di teras sambil menikmati teh hangat, lalu kita bercerita tentang apa saja yang
kita lewati hari itu. kita berlima, Ma; Ayah, kamu, aku, kakak, dan si bungsu
kita.
Tapi
sekarang berbeda, tidak ada lagi kesempatanku untuk menceritakannya padamu.
Kamu tidak akan tahu cerita bagaimana takutnya kami saat berhadapan dengan
kompor dan minyak goreng. Kamu tidak akan tahu cerita bagaimana rasa masakan
yang kami ciptakan. Sampai saat ini, cerita itu masih kusimpan rapat seorang
diri. Hanya akan kusampaikan, jika nanti tiba saatku menemuimu.
Kepada
perempuan yang suka mengecup keningku,
Aku
mengantarmu sampai pada peristirahatanmu yang terakhir. Saat papan dan tanah
gembur itu menutup tubuhmu pelan-pelan. Hanya doa yang bisa kurapalkan saat
itu, Ma. Bukan lagi tangisan histeris yang memintamu tetap di sini. Jika saja
kamu tahu, aku hancur oleh takdir-Nya. Aku remuk oleh kenyataan pahit ini.
Bahkan aku tidak bisa berpikir jernih. Aku ingin ikut kamu, Ma. Aku ingin terus
dekat denganmu.
Dengan tatapan mata yang sendu, aku coba
menembus kamu yang ada di balik tanah itu. Aku menangis lagi dalam batin yang
tersayat-sayat. Bahagiakah kamu kini tidur dalam pelukan Tuhan, Ma? Atau kamu
merasa sunyi terpisahkan dari semua kenangan indah dalam kehidupanmu kemarin?
Dimana
kamu sekarang berada, Ma? Dimana Dia meletakkanmu? Kita sudah terpisah jarak
jutaan kilometer, entah di mana itu. Aku bahkan tak bisa menebak di mana Dia
menyembunyikanmu saat ini. Padahal kemarin-kemarin kita masih tersenyum
bersama, masih menghabiskan waktu berdua.
Aku
menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar tubuhku tidak jadi meledak. Tubuhku
bergetar hebat menahan tangis dan kepedihan yang sulit kugambarkan. Berat
sekali kakiku terangkat meninggalkan kamu itu di tanah pekuburan yang terasa
sunyi itu. Tuhan, kirimkan
malaikat-malaikat untuk menjaga tidurnya. Berilah dia kebahagiaan yang belum
pernah diterimanya di dunia ini. Lewat tirai air mata, aku merasakan
keheningan yang teramat menyayat di udara. Ingin rasanya aku berlari kembali ke
kuburan baru itu untuk menemanimu, Ma. Tetapi seperti ada yang menahan kakiku
untuk tak berbuat seperti itu, aku mencoba ikhlas dan menerima segala takdir
yang telah digariskan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar