Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Mendung (Terbit 30 April 2017, Harian Medan Pos)

Khair masih sering datang ke tempat ini. Tempat dimana ia pernah menjatuhkan hati pada seorang perempuan pecinta puisi. Tempat dimana ia merapikan patah-patah dalam dada, lalu menukarnya dengan senyum bahagia. Tempat dimana ia pernah menautkan janji, meski perempuan itu enggan peduli. Namun satu yang masih disadarinya, diantara belukarnya ingatan, perempuan itu masih selalu jadi yang terdepan.
Lelaki bermata pualam itu meneguk kopi yang telah dingin. Mencoba mengais-ais sisa perasaan yang nyatanya semakin dalam ia rasakan. Orang-orang mulai menyeret kaki untuk pulang. Taman yang luas itu kini mulai dimakan sepi. Khair berada di kaki bukit di sudut taman itu, dataran yang paling tinggi diantara bagian taman yang lain. Di tempat inilah, ia pernah menyusup masuk ke dalam bola mata perempuan itu. Dan kini ia menyesal, karena ia telah tersesat terlalu jauh.
Khair mengenalnya di sebuah penggalan waktu, ketika gerimis Januari delapan bulan lalu membaptis ingatannya yang masih dipenuhi teka-teki yang sulit terisi. Perempuan yang melindungi mahkotanya dengan jilbab tosca itu mengulas senyum. Seperti memberikan lampu hijau pada hatinya untuk terus berkembang. Khair tidak percaya hipnotis, sampai ia merasakannya sendiri ketika melihat senyum perempuan itu.
“Kau masih minum kopi?” tanya Fildza, nama perempuan itu. Khair mengangguk, seperti tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu menatap tajam, “Kau tidak juga mau mendengarkanku?” tanya Fildza lagi. Khair mengerjap, ia dan kopi sudah berteman sejak dulu. Bahkan jauh sebelum Khair memutuskan untuk mencintai gadis itu. Ia sudah lebih dulu jatuh cinta pada kopi. “Bahkan setelah minuman pekat itu membunuh lambungmu? Membuatmu terkapar di rumah sakit selama berhari-hari?” perempuan berjilbab besar itu masih protes. Seolah-olah ia sedang menjadi ibu untuk anaknya. Mendikte Khair tanpa ampun.
Saat itu mereka tengah menikmati mendung di ujung bukit. Angin meneriapkan ujung jilbab Fildza, perempuan berwajah oval itu. Dan membuat dingin kopi hitam yang dibeli Khair beberapa menit lalu di sebuah kedai kopi. Fildza menarik napas panjang, Khair meliriknya sekilas. “Ada apa?” tanyanya. “Ini mendung terakhir kita,” ujar Fildza sambil membereskan buku-buku yang berserakan di sekitarnya. “Maksudmu?” Khair mengerutkan dahi.
“Maksudku, aku tidak akan lagi menemanimu menikmati mendung,” ungkapnya parau. Khair menghela napas berat, “Kau marah padaku hanya gara-gara secangkir kopi ini?” Perempuan itu menatapnya tajam, “Tidak. Untuk apa aku marah padamu. Bukankah kopi sudah menjadi bagian dari hidupmu, sekalipun minuman itu yang akan perlahan membunuhmu,” ucap Fildza datar. “Kau terlalu kekanakan!” Khair menjawab dingin.
Seketika udara menjadi beku. Atmosfer hati keduanya menjadi tidak terkendali. Angin kembali bertiup sedikit kencang, awan hitam mulai menggumpal di pucuk langit. Khair melirik Fildza sebentar, biasanya akan ada percakapan-percakapan seru ketika langit mulai murung seperti itu. Mulai dari obrolan ringan seperti kegiatan kuliah hari itu, sampai obrolan berat seperti khayalan-khayalan Fildza tentang ia yang sangat menginginkan sepasang sayap. Konyol. Perempuan yang terlalu penuh imajinasi. Namun, perbincangan aneh itu selalu mampu menyisakan cinta di dada Khair.
 Khair tahu, Fildza tidak menyukai mendung. Fildza juga tidak menyukai hujan. Katanya, mendung itu mengerikan. Belum lagi gelegar petir yang seakan melucuti nyali. Namun bersama Khair, perempuan itu seakan bisa meminimalisir ketakutannya. Menikmati mendung sekarang telah menjadi agenda pasti untuk keduanya. Berbeda dengan Fildza, Khair sangat mencintai mendung. Ia selalu suka berlama-lama mendongak ke atas, menatap langit yang menghitam. Menunggu Tuhan menurunkan butir-butir air dari langit. Menunggu Tuhan menyiram bumi dengan shower super besar itu.
 Khair kembali melirik Fildza. Perempuan itu masih mematung. Sekarang, Khair bukan saja melihat mendung menggantung di atas sana. Tapi juga menggantung di pelupuk mata Fildza. “Kau masih marah padaku?” tanya Khair membuka suara. Fildza masih diam. Barangkali ia masih berusaha menahan gejolak berlebih dalam hatinya. “Kau mencintai puisi. Aku mencintai kopi. Kau penuh imajinasi. Aku penuh emosi tak terkendali. Lalu, haruskah kau dan aku meninggalkan semua kesukaan kita?”
“Aku mencintai puisi. Sesuatu yang tidak membuatku rugi. Sesuatu yang tidak akan memakan sehatku pelan-pelan,” Fildza membetulkan ujung jilbabnya. “Kau menyindirku?” tanya Khair. “Tidak sama sekali. Itu hanya bahasa pragmatik. Dan aku rasa kau memahaminya,” Fildza masih bersuara tanpa memandang Khair lagi. “Aku tidak bisa mencintai laki-laki yang bahkan menjaga sehatnya saja pun ia tak bisa. Aku tak bisa mencintai laki-laki yang berjanji tapi malah mengingkari. Aku tak bisa bersama laki-laki yang tidak pernah mau berubah,”
“Lalu, bisakah kau meninggalkan puisi-puisimu?” pertanyaan Khair membuat gadis itu terdiam. “Aku pernah meninggalkan ketakutanku demi kamu. Menikmati sesuatu yang sama sekali tidak aku sukai. Menemanimu menikmati mendung seperti sekarang ini. Kau lupa bahwa aku sangat membenci itu?” terang Fildza tak terima. “Tidak bisakah kau melakukan hal yang sama untukku? Bukan hanya untukku, tapi juga untuk dirimu sendiri. Untuk kesehatanmu. Untuk waktu yang panjang denganku,” suara Fildza mulai meninggi.
Tiba-tiba Khair merasa kepalanya berdenyut. Mendung masih menggelayut di mata indah itu. Fildza berusaha menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata. Khair sangat mencintai gadis itu, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan kebiasaannya bersama minuman beraroma khas itu. “Sudahlah. Aku tidak ingin lagi berdebat denganmu. Aku hanya tidak ingin kau sakit. Tapi jika kau menginginkan itu, lakukanlah. Cinta bukan tentang siapa yang paling banyak memberi dan menerima. Cinta adalah perasaan murni dari hati yang tidak bisa dimanipulasi. Barangkali, kita berdua telah salah memaknai cinta. Maaf, aku harus pergi.” Fildza bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Khair seorang diri.
Mendung sore itu terasa semakin kelabu. Ia paham sekali bahwa gadis itu menyayanginya, gadis itu mempedulikannya. Namun saat itu, perasaan Khair sedang tidak bisa diajak berdamai. Khair memanggil Fildza, namun gadis itu tak menghiraukannya. Kejadian itu telah berlalu sejak delapan bulan lalu. Saat mendung untuk pertama kalinya tidak seindah biasanya. Saat mendung membawa rasa sakit di dada untuk pertama kalinya.

Khair melipat kedua tangannya di dada. Masa-masa menyakitkan itu telah berlalu, meski bayangan Fildza tak pernah benar-benar menjauh. Terdengar menggelikan, hubungan kandas hanya karena sebuah minuman. Khair tersenyum kecut mengingat itu. Namun akhirnya ia sadar, bahwa mencintai berarti menekan ego sendiri. Mencintai bukan tentang menerima apa adanya, namun memberitahu jika salah dan memperbaikinya bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar