Khair
masih sering datang ke tempat ini. Tempat dimana ia pernah menjatuhkan hati
pada seorang perempuan pecinta puisi. Tempat dimana ia merapikan patah-patah
dalam dada, lalu menukarnya dengan senyum bahagia. Tempat dimana ia pernah
menautkan janji, meski perempuan itu enggan peduli. Namun satu yang masih
disadarinya, diantara belukarnya ingatan, perempuan itu masih selalu jadi yang
terdepan.
Lelaki
bermata pualam itu meneguk kopi yang telah dingin. Mencoba mengais-ais sisa
perasaan yang nyatanya semakin dalam ia rasakan. Orang-orang mulai menyeret
kaki untuk pulang. Taman yang luas itu kini mulai dimakan sepi. Khair berada di
kaki bukit di sudut taman itu, dataran yang paling tinggi diantara bagian taman
yang lain. Di tempat inilah, ia pernah menyusup masuk ke dalam bola mata
perempuan itu. Dan kini ia menyesal, karena ia telah tersesat terlalu jauh.
Khair
mengenalnya di sebuah penggalan waktu, ketika gerimis Januari delapan bulan
lalu membaptis ingatannya yang masih dipenuhi teka-teki yang sulit terisi. Perempuan
yang melindungi mahkotanya dengan jilbab tosca itu mengulas senyum. Seperti
memberikan lampu hijau pada hatinya untuk terus berkembang. Khair tidak percaya
hipnotis, sampai ia merasakannya sendiri ketika melihat senyum perempuan itu.
“Kau
masih minum kopi?” tanya Fildza, nama perempuan itu. Khair mengangguk, seperti
tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu menatap tajam, “Kau tidak juga mau
mendengarkanku?” tanya Fildza lagi. Khair mengerjap, ia dan kopi sudah berteman
sejak dulu. Bahkan jauh sebelum Khair memutuskan untuk mencintai gadis itu. Ia
sudah lebih dulu jatuh cinta pada kopi. “Bahkan setelah minuman pekat itu
membunuh lambungmu? Membuatmu terkapar di rumah sakit selama berhari-hari?”
perempuan berjilbab besar itu masih protes. Seolah-olah ia sedang menjadi ibu
untuk anaknya. Mendikte Khair tanpa ampun.
Saat
itu mereka tengah menikmati mendung di ujung bukit. Angin meneriapkan ujung
jilbab Fildza, perempuan berwajah oval itu. Dan membuat dingin kopi hitam yang
dibeli Khair beberapa menit lalu di sebuah kedai kopi. Fildza menarik napas
panjang, Khair meliriknya sekilas. “Ada apa?” tanyanya. “Ini mendung terakhir
kita,” ujar Fildza sambil membereskan buku-buku yang berserakan di sekitarnya.
“Maksudmu?” Khair mengerutkan dahi.
“Maksudku,
aku tidak akan lagi menemanimu menikmati mendung,” ungkapnya parau. Khair
menghela napas berat, “Kau marah padaku hanya gara-gara secangkir kopi ini?”
Perempuan itu menatapnya tajam, “Tidak. Untuk apa aku marah padamu. Bukankah
kopi sudah menjadi bagian dari hidupmu, sekalipun minuman itu yang akan
perlahan membunuhmu,” ucap Fildza datar. “Kau terlalu kekanakan!” Khair
menjawab dingin.
Seketika
udara menjadi beku. Atmosfer hati keduanya menjadi tidak terkendali. Angin
kembali bertiup sedikit kencang, awan hitam mulai menggumpal di pucuk langit.
Khair melirik Fildza sebentar, biasanya akan ada percakapan-percakapan seru
ketika langit mulai murung seperti itu. Mulai dari obrolan ringan seperti
kegiatan kuliah hari itu, sampai obrolan berat seperti khayalan-khayalan Fildza
tentang ia yang sangat menginginkan sepasang sayap. Konyol. Perempuan yang terlalu
penuh imajinasi. Namun, perbincangan aneh itu selalu mampu menyisakan cinta di
dada Khair.
Khair tahu, Fildza tidak menyukai mendung.
Fildza juga tidak menyukai hujan. Katanya, mendung itu mengerikan. Belum lagi
gelegar petir yang seakan melucuti nyali. Namun bersama Khair, perempuan itu
seakan bisa meminimalisir ketakutannya. Menikmati mendung sekarang telah
menjadi agenda pasti untuk keduanya. Berbeda dengan Fildza, Khair sangat
mencintai mendung. Ia selalu suka berlama-lama mendongak ke atas, menatap
langit yang menghitam. Menunggu Tuhan menurunkan butir-butir air dari langit.
Menunggu Tuhan menyiram bumi dengan shower super besar itu.
Khair kembali melirik Fildza. Perempuan itu
masih mematung. Sekarang, Khair bukan saja melihat mendung menggantung di atas
sana. Tapi juga menggantung di pelupuk mata Fildza. “Kau masih marah padaku?”
tanya Khair membuka suara. Fildza masih diam. Barangkali ia masih berusaha
menahan gejolak berlebih dalam hatinya. “Kau mencintai puisi. Aku mencintai
kopi. Kau penuh imajinasi. Aku penuh emosi tak terkendali. Lalu, haruskah kau
dan aku meninggalkan semua kesukaan kita?”
“Aku
mencintai puisi. Sesuatu yang tidak membuatku rugi. Sesuatu yang tidak akan
memakan sehatku pelan-pelan,” Fildza membetulkan ujung jilbabnya. “Kau
menyindirku?” tanya Khair. “Tidak sama sekali. Itu hanya bahasa pragmatik. Dan
aku rasa kau memahaminya,” Fildza masih bersuara tanpa memandang Khair lagi.
“Aku tidak bisa mencintai laki-laki yang bahkan menjaga sehatnya saja pun ia
tak bisa. Aku tak bisa mencintai laki-laki yang berjanji tapi malah
mengingkari. Aku tak bisa bersama laki-laki yang tidak pernah mau berubah,”
“Lalu,
bisakah kau meninggalkan puisi-puisimu?” pertanyaan Khair membuat gadis itu
terdiam. “Aku pernah meninggalkan ketakutanku demi kamu. Menikmati sesuatu yang
sama sekali tidak aku sukai. Menemanimu menikmati mendung seperti sekarang ini.
Kau lupa bahwa aku sangat membenci itu?” terang Fildza tak terima. “Tidak
bisakah kau melakukan hal yang sama untukku? Bukan hanya untukku, tapi juga
untuk dirimu sendiri. Untuk kesehatanmu. Untuk waktu yang panjang denganku,”
suara Fildza mulai meninggi.
Tiba-tiba
Khair merasa kepalanya berdenyut. Mendung masih menggelayut di mata indah itu.
Fildza berusaha menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata. Khair sangat
mencintai gadis itu, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan kebiasaannya bersama
minuman beraroma khas itu. “Sudahlah. Aku tidak ingin lagi berdebat denganmu.
Aku hanya tidak ingin kau sakit. Tapi jika kau menginginkan itu, lakukanlah.
Cinta bukan tentang siapa yang paling banyak memberi dan menerima. Cinta adalah
perasaan murni dari hati yang tidak bisa dimanipulasi. Barangkali, kita berdua
telah salah memaknai cinta. Maaf, aku harus pergi.” Fildza bangkit dari
duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Khair seorang diri.
Mendung
sore itu terasa semakin kelabu. Ia paham sekali bahwa gadis itu menyayanginya,
gadis itu mempedulikannya. Namun saat itu, perasaan Khair sedang tidak bisa
diajak berdamai. Khair memanggil Fildza, namun gadis itu tak menghiraukannya.
Kejadian itu telah berlalu sejak delapan bulan lalu. Saat mendung untuk pertama
kalinya tidak seindah biasanya. Saat mendung membawa rasa sakit di dada untuk
pertama kalinya.
Khair
melipat kedua tangannya di dada. Masa-masa menyakitkan itu telah berlalu, meski
bayangan Fildza tak pernah benar-benar menjauh. Terdengar menggelikan, hubungan
kandas hanya karena sebuah minuman. Khair tersenyum kecut mengingat itu. Namun
akhirnya ia sadar, bahwa mencintai berarti menekan ego sendiri. Mencintai bukan
tentang menerima apa adanya, namun memberitahu jika salah dan memperbaikinya
bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar